fbpx

Enter your keyword

Sikap dan Bahasa Basis, Sebuah Pengantar Buku Dari Pojok Sejarah

Sikap dan Bahasa Basis, Sebuah Pengantar Buku Dari Pojok Sejarah

Sikap dan Bahasa Basis, Sebuah Pengantar Buku Dari Pojok Sejarah

DARI POJOK SEJARAH: Renungan Perjalanan Emha Ainun Nadjib

 

Tulisan-tulisan kecil ini, pertama, mengandaikan rasa malu kaum intelektual terhadap kenyataan sosial dan manusia miskin (politis, ekonomis, kultural) yang selalu dipercakapkannya. Kedua, ia hanyalah hasil dari rasa kaget kultural tertentu yang saya alami. Dan ketiga, ini adalah klise ikrar kembali (oleh seorang anak bingung sejarah Indonesia) atas hal-hal yang “ya” dan “tidak”—baik dengan atau tanpa tanda seru, maupun ya yang berwajah tidak dan tidak yang bermuka ya—di tengah pentas nasional drama topeng yang seru, tetapi kalem ini.

 

Namun, baiklah saya bersyukur dulu bahwa surat-surat liar yang “resmi”-nya saya tujukan kepada adik sekaligus guru saya itu, diterbitkan. Tak ada yang lebih membahagiakan bagi setiap anak bangsa—terutama yang kelas-pinggiran seperti saya—selain memperoleh kesempatan untuk tidak mubazir sebagai anggota keluarga masyarakatnya, meskipun ada beratus batu ujian untuk menilai apakah buku kecil ini akan ada gunanya.

 

*

 

Penerbit Mizan meminta, “untuk pijakan bagi pembaca”, saya menuliskan semacam pendahuluan yang—umpamanya—menjelaskan kronologi kegiatan saya di “Negara Landa” dan Jerman di mana tulisan ini saya bikin. Agak tersipu, dan sukar. Saya kira saya sedang mengidap “penyakit nihil”: rupanya begitu susah menemukan bahkan satu kata yang tepat di tengah kancah sejarah yang penuh paradoks, ironi, dan maju kena mundur kena macam ini. Para pamong negara berkata-kata, para guru-bangsa berkata-kata, para piawai dan pujangga berkata-kata, lantas saya pun latah berkata-kata. Berapakah dari berjuta kata itu yang tak pupus saja di udara, mewariskan kenangan yang bagai mengejek kenyataan-kenyataan sosial yang demikian alot digerak-balikkan menuju isi kata para arif bijaksana. Di sebuah institut ilmu-ilmu sosial di Belanda, di mana para pegawai negeri atau pegawai ornop dari negeri-negeri dunia ketiga pada berdatangan untuk menjadi master-master, di mana kemiskinan beratus juta manusia tiap saat dibicarakan sampai melimpah dan bagaikan terbuang ke tong-tong sampah, di mana penderitaan yang menggergaji berbagai bangsa dan mengepung hari-hari sejarah dipercakapkan sambil minum wine, di mana film-film tentang darah dan kelaparan hampir tiap hari diputar, di mana kaum melarat hina papa sungguh-sungguh merupakan objek proyek-proyek basah yang tak henti-hentinya memberi ilham—terdapatlah sebuah ide yang terpojok, karena naif: Pernahkah diteliti berapa sudah jumlah sarjana, master, dan doktor yang dihasilkan oleh tema kemiskinan, penindasan, dan keprihatinan manusia? Apa sajakah relevansi atau irrelevansi dari yang dilakukan oleh para “ilmuwan kemiskinan” itu kemudian, terhadap usaha melawan kemiskinan? Berapakah derajat penurunan atau kenaikan kemiskinan berkat pengaruh makin banyaknya para piawai yang “makanan utamanya” masalah kemiskinan itu?

 

Pertanyaan semacam itu dilontarkan tentu saja tidak dengan mengurangi penghargaan terhadap simpati para cerdik pandai, yang makin meluas, terhadap kaum miskin. Ini semacam cubitan manusiawi belaka, bahwa terkadang masalah kemiskinan memerlukan lebih dari sekadar buku-buku pintar serta kecakapan kita mendiskusikannya—meskipun kerja intelektual “saja” pun, yang berakhir di huruf-huruf, sudah merupakan fungsi yang tak rendah.

 

Juga, pertanyaan itu tidaklah saya tujukan kepada siapa pun: kaum intelektual paling tahu apa yang harus mereka tanyakan kepada diri sendiri, dan saya dalam hal ini, sungguh, tak lebih dari seorang yang sedang belajar untuk belajar. Yang saya ingin kemukakan hanyalah suatu fase dari proses psikologis saya, dari mana tulisan-tulisan dalam buku kecil ini lahir … lahir, bak igauan seorang dukun tiban, atau jawaban-jawaban terpenggal dari “seorang” jailangkung.

 

*

 

Jailangkung! Ini serius. Berbagai “tukang potret” harus bekerja sama untuk menghasilkan ragam gambaran tentang kehidupan agar mendekati kemenyeluruhannya, untuk mengejar kenyataan betapa tidak gampangnya realitas ini dicerap tanpa ada yang tertinggal dimensinya. Hidup adalah gambar-gambar bergerak: kita harus menstatiskannya di ruang-ruang kuliah atau di buku-buku agar ada “kepastian” yang lebih gampang dianalisis. Kita, dengan itu, bisa kehilangan unsur gerak dari hidup, tapi sekaligus—jika kita terlalu banyak berpedoman pada gerak—kita akan memperoleh kebauran dari beberapa hal dari realitas.

 

Ilmu-ilmu sosial mampu menggambarkan tulang rangka masalah kemiskinan, tetapi sosok manusia-manusia miskin, sosok keseluruhan kehidupannya bisa tertinggal di pojok layar pertunjukan—meskipun yang disebut kebudayaan-kemiskinan sudah pula coba digambarkan. Artinya, kita memerlukan juga ilmu yang “manusiawi”, ilmu yang sehari-hari ….

 

Ilmu sehari-hari tampak absurd di depan rangka disiplin ilmu sosial “resmi”, seperti juga ilmu sosial terasa tidak bisa memuat segi-segi hidup sehari-hari manusia—yang sering kali tidak sekadar ilustratif sifatnya, tetapi substansial. Jailangkung mencoba bergumam kecil dari pojok, dari pinggiran wilayah ilmu pewakil realitas, untuk usaha ilmu sehari-hari semacam itu—tetapi sama sekali harus dihindarkan ia akan berkembang menjadi suatu omong besar baru: sketsa-sketsa kecil, yang mungkin parsial dan “kagetan” ini, justru harus dibantu oleh ilmu-ilmu sosial yang “beneran”, harus ditolong untuk diuji lebih lanjut, artinya, didalami atau dibuang sama sekali. Misalnya, kalau saya menulis tentang “zaman Kiblik”, itu bukan keasyikan memakai bahasa sehari-hari: itu adalah keinginan agar ilmu sosial bisa menerangkan secara lebih sehari-hari perihal ironi Republik kita yang kerajaan ini, di depan banyak kerajaan modern yang republik demokratis. Kalau saya menulis tentang “abadinya” kuasa-menguasai di antara manusia, masyarakat, dan negara: itu sekadar mengungkapkan ketidakmampuan saya menerangkan betapa tradisi “militer” bangsa kita yang sudah berabad-abad ini telah “memanusia”. Kalau saya menulis tentang struktur psikologi budak-tuan serta imperialisme sistem pendidikan, itu adalah igauan yang memerlukan penjelasan lebih lanjut: bagaimana misalnya mengelakkan gambaran bahwa begitu kita mendaftarkan diri untuk kuliah di sebuah universitas, hari itu kita merintis—secara sistemik—sebuah peran superior yang lambat atau cepat akan meng-“adigang-adigung-adiguna”-i kaum inferior. Tentu saja sudah banyak terbukti bahwa itu bisa tidak, tapi soalnya bagaimana menjelaskan dan menggerakkan kemungkinan “tidak” itu.

 

Menjelaskan dan menggerakkan itu sendiri bukan pekerjaan subjektif, melainkan objektif: kepada siapa kita hendak berbicara, dengan siapa terutama kita harus lebih banyak omong. Jika ilmu sosial selalu hanya merupakan skrip drama di panggung pertunjukan kaum intelektual, jika karya seni selalu lebih merupakan sabun masturbasi di antara para seniman—maka tema kerakyatjelataan itu bisa akan terus saja tidak relevan terhadap realitas orang-orang jelata. Dari segi ini, betapapun susahnya, tulisan-tulisan yang saya bikin ini berusaha merintis artikulasi—dari dan ke—wilayah pinggiran (politis, ekonomis, kultural, “intelektual”) struktur masyarakat kita.

 

*

 

Betapapun hal itu pasti belum berhasil, tapi setidak-tidaknya inilah niatan “bahasa basis”. Sudah lebih gampang, bagi saya, untuk berbicara oral di depan suatu kelompok masyarakat tertentu yang bisa kita “hitung” model komunikasi dan alam pikirannya. Tetapi bahasa tulisan—dengan bahasa Indonesia yang toh masih elite ini—sungguh masih harus sangat berendah hati untuk benar-benar “bisa bicara”.

 

Jauh lebih penting dari itu, adalah sikap-basis. Di Eropa, saya “disuruh” mengikuti Festival Puisi Internasional 1984 dan 1985, Festival Seni Dunia Ketiga, Festival Horisonte, Festival Pelangi, Festival Anti-Imperialisme, Festival Anti-‘Rasisme, Festival X dan Y, Alif dan Ba’ … protes, teriak, memekik, mengacungkan tinju, menuding monster-monster abad dua puluh, menelanjangi gendruwo-gendruwo perampok bumi, seolah-olah dunia hendak dibalik keadaannya dalam beberapa hari—apa boleh buat: saya, setelah usai menjadi Tanjidor atau baca puisi dan memperoleh tepuk tangan persis siswa Taman Kanak-Kanak—selalu dihinggapi rasa hampa …. Nama Pramudya Ananta Toer hampir selalu dicantumkan, juga mungkin hampir selalu diundang. Tahu persis dia tak akan mungkin bisa datang: tapi nama itu menambah kecanggihan di hadapan pensubsidi dan sponsor … tapi toh saya, bagai pemain Kuda Kepang yang siap makan beling dan tubuh dibungkus duri salak, tak bisa mengelak untuk meladeni itu semua, dengan bengong.

 

Entahlah. Kegiatan semacam itu barangkali merupakan cicilan dukungan politis terhadap kaum tertindas. Pembagian kerja makro dalam proses mengubah dunia ini menyediakan tempat terhormat bagi tukang berbicara, sampai ada momen di mana makin membengkak kasus penindasan, makin subur pembicaraan, dan makin makmur pula pembicaranya. Itu bukan bermaksud menegasikan budaya bicara yang mahal sekali biayanya: saya kira saya hanya merasa malu ….

 

Salah satu yang membuat saya merasa “sobek” ialah bahwa kegiatan yang temanya sangat “membasis” itu hanya bisa berhenti nongol sebagai sosok bahasa superstruktur jua, sedangkan saya berasal dari daerah pinggiran yang seolah-olah diwakili oleh kegiatan itu, padahal tak sungguh-sungguh dipahami: Rakyat menderita yang terus-menerus dibincang-bincangkan itu tak dilihat sebagai subjek. Para pembicara, peneriak, pemrotes, pejuang yang disebut “sangat revolusioner” itu—tanpa sadar—menggemakan suatu semangat mesianistik: orang-orang pintar ini seolah-olah adalah Ratu-Ratu Adil, juru-juru selamat, yang meniup terompet pembebasan dari pucuk menara …. Sedemikian rupa struktur kehidupan ini menempatkan kita, sedemikian rupa sistem yang berlangsung ini mengolah kita, sehingga kita menolak konsep Ratu Adil karena kitalah yang menggantikan tempatnya, menolong rakyat sengsara … hmmm! Kegiatan-kegiatan sosial, setidaknya terkadang, mengandung suatu variabel di mana tema kemiskinan, dus orang-orang miskin, menjadi barang jualan. Kita barangkali perlu bertanya seberapa jauh ia pada akhirnya tidak menjadi substansi.

 

*

 

Ada semacam rasa tidak krasan, yang—tentu saja—sampai hari ini terus saya kejar dan pertanyakan. Namun, momen psikologis semacam itulah yang mendorong tangan saya mengetik tulisan-tulisan ini. Juga tatkala saya harus nongkrong di Seminar Imperialisme Kebudayaan, Seminar Agama dan Pembangunan, Seminar Islam Fundamentalis, Seminar Hak Asasi Manusia, Konferensi Kebudayaan dan Pembangunan, ini-itu ini-itu … menyusun strategi yang argumentatif (atau, argumentasi yang strategis?), misalnya, untuk memberi rekomendasi kepada kementerian kooperasi pembangunan, kementerian keadilan sosial dan penanganan kesehatan, dan kementerian pendidikan formal di Belanda, agar memberikan subsidi bagi usaha-usaha pembebasan manusia dalam berbagai segi di negeri-negeri dunia ketiga ….

 

Saya sedang berpikir bahwa saya keliru. Betapa masih bekunya saya sebagai anak desa, yang buta huruf terhadap prakarsa-prakarsa global skala internasional atas perjalanan amat panjang cita-cita menyejahterakan manusia. Saya harus belajar mengerti bahwa ini bukanlah janji lain, bukan giringan lain, keputusan lain bagi rakyat yang tak mampu memutuskan sesuatu, bagi jutaan orang miskin yang dianggap bodoh dan tak bisa menolong dirinya sendiri. Bahwa diskusi-diskusi internasional ini bukanlah pentas para bintang penyelamat bumi.

 

Saya juga harus belajar mendengarkan orang berkata tentang Era Informasisasi. Dunia harus menjadi sebiji sawi berkat teknologi komunikasi, dan kreativitas peradaban yang ini sungguh-sungguh merupakan titik berangkat kita semua meninggalkan aransemen sumbang masyarakat timpang yang terkutuk dan selalu kita resahkan ini. Akan bangkit betul nilai dan watak baru perhubungan manusia dan masyarakat planet bumi. Akan terjadi betul suatu proses perubahan sosial yang benar-benar bermutu. Demokrasi, desentralisasi, partisipasi, emansipasi … akan menjadi kenyataan, dengan ucapan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada teknologi informasi. Dengarlah, era informasisasi ini akan segera mengumumkan hari akhir lingkaran masyarakat nol. Lihatlah, akan tidak ada lagi yang menang dan yang kalah …. Saya, sungguh, harus belajar untuk menerjemahkan gejala pengejawantahan “mimpi di permulaan pergerakan kaum sosialis” ini ke rumus-rumus masalah hari ini di desa-desa kita, kampung-kampung, pinggiran-pinggiran lapangan sejarah, di mana teknologi informasi makin canggih mengaparati perampokan ….

 

Dan saya belum berhasil! Demokrasi, desentralisasi, partisipasi, emansipasi … alangkah ringannya, dan Indonesia dengan segala pusing kepalanya barangkali hanyalah sebiji permen karet. Saya masih gagal. Angin besar sejarah menghamburkan debu-debu, dan saya—anak kecil berusia 5 tahun—hampir terjatuh, mata kelilipan, saya gosok-gosok. Juga, saya, untuk beberapa saat, masih dihinggapi penyakit kesusu, penyakit tergesa-gesa. Anda tahu kuman ini bisa mendorong Anda untuk bikin bom atau mengasah clurit ….

 

Namun sungguh, perubahan kehidupan itu alot, kecuali perubahan ke arah perusakan. Saya kira saya adalah satu di antara tak sedikit anak muda segenerasi yang masih mengidam trauma-trauma kesejarahan tertentu: ada semacam ketidakpercayaan kepada lingkaran superstruktur ….

 

*

 

Tetapi memang demikianlah, orang membuka pintu tentulah lewat lubang kuncinya, dan hanya tikus-tikus yang berusaha menggerogoti pinggiran-pinggiran daun pintu itu sampai akhirnya nanti pintu itu invalid sebagai pintu, untuk diganti pintu yang baru.

 

Berapakah jumlah orang yang memilih “kesadaran tikus” semacam itu? Banyak di tanah air. Namun, apa yang saya jumpai beberapa waktu di Eropa itu adalah aspirasi-aspirasi—sesuai dengan tradisi pejalan sejarah—yang berbondong-bondong menaiki lubang kunci. Sejarah telah mencatat, pintu beberapa kali berhasil dibuka dengan paksa dan diganti—dengan paksa pula—dengan pintu yang baru. Saya menyaksikan dan mengalami sendiri gejala kultural dari manusia-manusia politik lubang pintu. Aspirasi perubahan yang diarahkan, atau setidaknya terarah secara kurang disadari, tidak menuju proses peleburan struktur superior-inferior untuk menjahit jala yang lebih seimbang, melainkan lebih merupakan pembenihan superioritas baru, yang bahkan kini telah menggejalakan pengurungan lingkaran-lingkaran inferioritas. Begitu sukar ditemukan tempat bagi mayoritas rakyat—sang inferior politis, ekonomis, kultural itu—juga di peta alam pikiran para pejanji hari depan. Yang gagal membina pentas grup superior di panggung negeri kini—meskipun tidak semua—sibuk menyesali masa silam “seandainya kita tak gagal, tentulah saya sudah menjadi …” yang sedang merintis superioritas “ngungun” dalam suatu peran yang disebut “memimpin …”.

 

Barangkali saya terlalu romantik. Tapi kenapakah begitu sulit menemukan—bahkan pun sekadar mimpi—di mana rakyat dicita-citakan untuk memimpin, bukan di-“pimpin”. Kenapa jalanan politik lebih banyak dipenuhi oleh bahasa dan sikap superstruktur. Kenapa—setidaknya demikian yang saya alami—sikap dan bahasa basis cenderung ditindas, bukan saja oleh rezim, melainkan juga oleh yang belum rezim.