fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Rhenald Kasali: Kenapa harus #MO (Mobilisasi Orkestrasi)?

Rhenald Kasali: Kenapa harus #MO (Mobilisasi Orkestrasi)?

Rhenald Kasali: Kenapa harus #MO (Mobilisasi Orkestrasi)?

Sabtu, 21 September 2019 di Kinokuniya Plaza Senayan telah berlangsung acara Talkshow bersama Rhenald Kasali dengan tema #WelcomeToMO “Memasuki Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham”.

Kenapa harus #MO (Mobilisasi Orkestrasi)?

Rhenald Kasali menjabarkan jawabannya sebagai akademisi sekaligus ilmuwan memiliki tugas untuk selalu melakukan validasi pada fenomena-fenomena yang tengah terjadi.

“Setiap hari saya melihat ada gerakan mobilisasi. Teknologi telah mengakibatkan kita menjadi mudah melakukan mobilisasi. Resource mobilization theory menyatakan, kita harus punya resources yang cukup untuk menggerakkan suatu mobilisasi. Tetapi sekarang, semua orang bisa melakukan mobilisasi karena senjatanya ada di tangan kita. Seluruh masyarakat di seluruh dunia mempunyai senjata, yang namanya adalah smartphone dan di dalamnya adalah super apps. Sekarang semuanya ingin menjadi super yang mengakibatkan semua pindah ke sana. Pendidikan pindah ke sana, kesehatan pindah ke sana, perdagangan pindah ke sana, perbankan dan sektor keuangan pindah ke sana. Everything move there. Dengan adanya teknologi dalam genggaman tangan kita.” Jelas Rhenald Kasali membuka penjelasannya.

Menurut Rhenald Kasali, istilah “Dunia itu panggung sandiwara” adalah keadaan saat ini sekarang. Ia mencontohkan beberapa kasus yang belum lama terjadi seperti revisi Undang-Undang KPK, yang baginya jelas sebuah orkestrasi. Karena semua orang meng-create drama tersebut dan itulah mobilisasi, membuat kita menjadi sangat emosional tetapi sebetulnya itu semua sudah penuh dengan drama.

Rhenald Kasali menjelaskan bagaimana semua itu terjadi. Mobilisasi terjadi diawali dengan sebuah pemicu yang muncul, lalu dilanjutkan dengan accident. Accident itu kemudian diframing. Kasus framing ini bisa dicontohkan dalam potongan-potongan video yang memang sengaja diambil bagian-bagian tertentu sehingga menggiring pemahaman orang yang menerima (menonton). Ini disebut juga sharing-shaping, karena sesuatu yang disebarkan tersebut (sharing) sudah dibentuk sedemikian rupa (shaping). Proses selanjutnya adalah adanya partisipasi dari mobilisasi tersebut dan akhirnya menghasilkan outcome.

Bagi Rhenald Kasali, mobilisasi ada dua jenis, ada yang umurnya panjang, ada juga yang umurnya pendek. Mobilisasi yang umurnya pendek mungkin tidak ada resources yang terlibat. Namun, jika ada resources yang terlibat, makan akan panjang mobilisasinya. Oleh karena itu, ia sering kali curiga jika melihat fenomena sosial yang sedang ramai menjadi perbincangan di masyarakat merupakan bentuk mobilisasi yang diorkestrasi.

Buku #MO ini bisa menjadi jawaban untuk kita mengkaji dan menelaah isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat. Bahwa kita tak bisa menelan mentah-mentah apa yang disodorkan, khususnya di media sosial, begitu saja. Kita bisa melihat bahwa ternyata itu semua adalah sebuah mobilisasi yang tengah diorkestrasi. Dan jangan sampai kita menjadi orang yang tidak bisa menerima hal tersebut akibat gagal paham.