fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Raden Saleh Sang Pangeran dari Timur

Raden Saleh Sang Pangeran dari Timur

Raden Saleh Sang Pangeran dari Timur

Pangeran dari Timur adalah sebuah novel fiksi sejarah yang memadupadankan dua plot dalam 2 zaman (abad ke-19 dan 20), ditulis oleh Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Novel ini digarap selama 20 tahun dengan pasang dan surut, di antara buku-buku mereka yang lain. Dalam novel ini, kedua pengarang mengangkat sosok maestro pelukis Raden Saleh melalui sudut pandang realitas, melepaskannya dari berbagai mitos, dengan meminjam pikiran kaum muda di masa pra kemerdekaan RI, yang memperdebatkannya.

Raden Saleh masih terlalu muda ketika dipisahkan dari keluarganya di Terbaya, Semarang. Di tengah-tengah kecamuk Perang Jawa, ketika pamannya diberitakan meninggal dunia, ia diberangkatkan ke Belanda. Kejeniusan dan tangan dinginnya dalam mengayunkan kuas tercium oleh para pejabat kolonial yang membuat dia dikirim ribuan mil ke Holland, negeri yang selama ini hanya didengarnya lewat cerita para kaum terpelajar Jawa. Terbukti ia mampu melukis bukan hanya sejarah dirinya yang gemerlap, melainkan juga wajah dan peristiwa zaman Romantis di Eropa. Bertahun-tahun hidup di tanah seberang, sang Pangeran justru merasa asing di tanah kelahirannya. Namun, tetap saja panggilan darah sebagai bangsa Jawa tidak dapat disembunyikannya di lembaran kanvas. Ditambah kegetiran yang menghiasi masa tua, karya dan hidup Raden Saleh berhasil menciptakan perdebatan sengit di kalangan kaum pemaham seni di masa pergerakan menuju kemerdekaan Indonesia, satu abad berikutnya.

 

Syamsudin, seorang arsitek awal abad 20, menguasai pengetahuan seni yang berkembang di masanya. Dia berhasil menularkan minatnya terhadap lukisan Raden Saleh kepada Ratna Juwita, gadis pujaannya. Di sisi yang berbeda, Syafei, dengan gairah pemberontaknya, menempuh jalan keras menuju cita-cita sebagai bangsa merdeka. Dalam kekalutan panjang sosial dan politik sebuah bangsa yang sedang memperjuangkan nasibnya, kisah cinta selalu memberikan nyala api: hangat dan berbahaya. Setiap orang memutuskan nasibnya melalui ucapan dan sikap, termasuk Pit Liong yang memilih mengambil jarak dari cintanya. Mereka melengkapi sejarah berdirinya sebuah negeri, dengan hasrat, ambisi, dan gelora masing-masing.

Seorang pelukis dari Ubud, Widi S. Martodihardjo merespons setiap episode Raden Saleh dalam bentuk karya rupa sejak Oktober 2019. Hasil karyanya akan dipamerkan pada acara peluncuran novel dan setiap diskusi di sejumlah kota. Bahkan dalam acara diskusi, Widi akan melakukan performing art dengan melukis di tempat saat dibacakan petikan novelnya.

Novel Pangeran dari Timur, tebal 600 halaman, diterbitkan Bentang Pustaka Yogyakarta pada Februari 2020. Syukuran dilakukan di Rumah Raden Saleh (di RS PGI Cikini ) pada Sabtu, 7 Maret 2020) dan peluncuran novel dilaksanakan pada Sabtu, 14 Maret 2020 di Museum Bank Indonesia, pukul 9.30 – 12.00 WIB. Selanjutnya akan didiskusikan dalam beberapa kota antara lain Bogor, Bandung, Yogya, Solo, Semarang, Bali, dan Makassar. Kedua penulis bersama pelukis Widi S. Martodihardjo juga diundang ke Festifal Tong Tong Fair di Den Haag, Negeri Belanda, pada akhir 28 Mei – 7 Juni 2020.

 

(IB/Kef)