fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Oase di Tengah Perang Medsos: Sebuah Pengantar

Oase di Tengah Perang Medsos: Sebuah Pengantar

Oase di Tengah Perang Medsos: Sebuah Pengantar

Sabar dan Ridha – Muhammad Zaki Mubarak

 

Keberadaan Internet, siaran TV 24 jam, telepon genggam dan berbagai gadget, menjadikan kita tak pernah sedetik pun ketinggalan informasi. Informasi itu penting, sudah pasti. Tetapi bagaimana bila informasi datang bertubi-tubi, menerjang layaknya banjir, menenggelamkan, membuat penerima informasi “megap-megap”?

 

Penelitian di University of South Carolina menunjukkan, setiap harinya orang menelan informasi yang ekuivalen dengan kandungan 174 surat kabar, lengkap dengan iklan-iklannya. John Seely Brown, penulis buku The Social Life of Information, mencirikan era informasi sekarang ini dengan pernyataannya yang menarik: “Informasi dunia bertambah dua kali lipat setiap hari. Namun tanpa kita sadari, pada saat yang sama kearifan kita berkurang setengahnya.”

 

Tak dapat dipungkiri, kenyataan di sekitar kita tampaknya mendukung pernyataan Seely Brown itu. Kita melihat, betapa banyak orang yang tak lagi mau berpikir panjang dan menelan begitu saja informasi keliru. Dan betapa banyak orang khilaf yang tak lagi menyaring berita yang diterimanya, serta-merta menyebarkan, yang kemudian memicu perselisihan, padahal ternyata yang disebar adalah berita hoax. Semua itu adalah bukti berkurangnya kearifan atau bahkan, lebih buruk—pembodohan.

 

Mengenai hal ini, Imam Malik bin Anas—seorang tabiin yang hidup pada abad kedua Hijriah, seperti dikutip dalam kitab Al-Mujâlasah wa Jawâhirul ‘Ilm—telah mengingatkan.

“Berhati-hatilah mengambil ilmu dari empat orang ini: orang yang lemah akal, orang yang dikuasai hawa nafsu, orang yang suka membuat berita bohong tentang orang lain, orang yang menyampaikan sesuatu tanpa memastikan kebenarannya, meskipun dia orang yang terhormat, saleh, dan ahli ibadah.”

 

Belum lagi kalau kita menimbang ekses banjir informasi—yang antara lain akibat penggunaan media sosial secara berlebihan—terhadap kesehatan mental. Sebuah penelitian Mental Health menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara tidak tepat meningkatkan skala depresi seseorang hingga 9%. Ditemukan pula penggunaan media sosial membawa efek negatif bukan hanya terhadap fisik, namun juga psikologis dan sosial. Pengguna media sosial menghadapi risiko-risiko seperti gangguan tidur, kecanduan medsos, cyber bullying, konsep diri dan keterampilan sosial yang rendah, dan sejumlah ekses lain.

 

Lantas apakah kita harus sepenuhnya menutup diri dari fenomena era informasi ini? Tentu saja, sebagaimana pisau bermata dua, informasi memiliki manfaat yang tidak sedikit juga. “It’s the man behind the gun that counts,” demikian kata pepatah. Manfaatkan teknologi sebagaimana mestinya—termasuk dalam memanfaatkan media sosial.

 

Dalam rangka pemanfaatan media sosial secara tepat itulah, dan utamanya karena menyaksikan fenomena “perang” di media sosial yang cenderung memecah belah persatuan, Ustadz Zaki (@zaki_elqattamy) “main Twitter” dengan mem-posting ayat Al-Quran, Hadis, serta nasihat para ulama klasik. Nilai-nilai abadi yang berakar pada fitrah kebaikan manusia seperti itulah kiranya yang dapat secara kuat menjadi sandaran kita untuk mawas diri menghadapi berbagai terjangan informasi, di samping memberikan solusi bagi permasalahan-permasalahan modern lain.

 

Karenanya, tak mengherankan melihat animo yang besar terhadap twit-twit Ustadz Zaki. Tak kurang-kurang retweet dan reply menanggapi twit-twit berisi nasihat dari para ulama klasik dan sesekali interpretasi sang penulis, membuktikan sekali lagi bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam twit-twit itu masih sangat relevan dengan keseharian masyarakat. Tak jarang bahkan sebagian besar di antara penggemar twit-twit itu adalah anak-anak muda. Yang pasti, di tengah suasana panas perselisihan dan perang medsos yang sering muncul, twit-twit Ustadz Zaki menjadi semacam oase yang sejuk melembutkan hati. Kelembutan hati yang semogalah makin subur, menjadikan kita saling berempati satu sama lain, saling sabar dan mengasihi, dan dengan demikian terjalin kebersamaan yang bermanfaat.

 

Buku ini adalah kumpulan twit Ustadz Zaki, sebagian dengan uraian makna dan syarah untuk lebih memudahkan pemahaman. Selamat membaca.[]

 

Jakarta, 29 Januari 2020

 

Ahmad Najib