fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Normal People Menyuarakan Isi Hati Milenial

Normal People Menyuarakan Isi Hati Milenial

Normal People Menyuarakan Isi Hati Milenial

Normal People merupakan buku karangan Sally Rooney. Terbit kali pertama di Eropa pada Agustus 2018. Novel ini mencapai kesuksesan besar dengan menjadi best seller di Amerika Serikat dengan penjualan mencapai 64.000 salinan pada 4 bulan pertama setelah perilisan. Hingga akhirnya pada Maret 2020 Bentang Pustaka menerbitkan versi terjemahan dalam bahasa Indonesia.

Penceritaan Normal People

Sally Rooney berhasil merajut dan mengkaji kisah mengenai konflik psikologis. Mulai dari asmara, kelas sosial, hingga hubungan antarindividu yang dirasakan oleh kaum muda. Dalam novel ini bercerita mengenai Connell seorang cowok populer di sekolah. Ia merasa bahwa popularitas merupakan belenggu. Tokoh Connell yang selalu mencemaskan pendapat orang lain. Bahkan, ia tak berani mengakui hubungannya dengan Marianne, cewek yang dianggap aneh di sekolah. Namun, Connell merasa bisa menjadi diri sendiri ketika bersama Marianne.

Akan tetapi, semuanya berubah ketika memasuki dunia perkuliahan. Keadaan menjadi berbalik. Connell terabaikan di lingkaran pergaulan dunia kampus. Di sisi lain, Marianne justru menjadi begitu populer. Ia banyak diundang ke pesta-pesta serta perkumpulan elite sudah menjadi jadwal Marianne. Hingga akhirnya hubungan mereka memasuki fase baru. Babak baru yang lebih rumit. Terdapat trauma, kecemasan, hingga penyangkalan diri yang selalu mengusik.

Keistimewaan Normal People

Selain konflik psikologis yang diramu secara apik, banyak keistimewaan lain di dalamnya. Segala persoalan mengenai kelas sosial, cinta pertama, hingga kompleksitas hubungan dalam keluarga dan pertemanan. Dilansir dari The Guardian, novel ini merupakan sebuah cerita klasik. Novel ini dinobatkan sebagai karya klasik abad ke-21. Pembaca akan dibawa pada sensasi kembali ke masa muda. Kaum muda juga akan terwakilkan di mana segalanya mabuk kepayang karena cinta.

Sally Rooney sebagai penulis memiliki karakter penceritaan yang lucu, cekatan, dan terkesan blak-blakan. Meskipun terlihat tidak begitu istimewa, akan menjadi lain cerita jika dilemparkan pada pembaca dengan gaya Rooney. Ia seakan seperti penyihir yang dapat menyulap permasalahan menjadi kata-kata yang sangat relate dengan target pembaca.

Rooney menulis dengan gaya dan ciri khasnya sendiri. Mengenai cinta serta nafsu di antara orang-orang muda yang terpengaruh dan terisolasi dalam kerinduan. Penceritaan mengenai hubungan cinta yang intens tetapi melalui cara yang berbeda. Berhubungan secara sembunyi-sembunyi yang akhirnya digagalkan oleh kesalahpahaman yang betubi-tubi.

Bahkan di sisi lain, konflik diangkat melalui ketidakseimbangan antara masalah keuangan, hubungan antara teman dan kekasih. Novel Rooney ini memang dikenal berbagi antara tema dan obsesi. Salah satunya diperlihatkan dalam karakter Normal People. Dilansir dari The New York Times, sejak awal Normal People merupakan salah satu judul yang paling dinanti.

Melalui Normal People, Sally Rooney selaku penulis telah mencapai banyak kesuksesan. Sejak perilisannya, banyak artikel dengan cepat memuji penulis berusia 28 tahun tersebut. Karya kedua Rooney telah masuk dalam daftar 2018 Booker Prize. Bahkan, Normal People telah menempatkan Sally Rooney pada puncak daftar best seller di Irlandia dan Inggris.

Sally Rooney, penulis muda kelahiran tahun 1991 di bagian barat Irlandia. Diprofilkan dengan sangat baik oleh Lauren Collins di The New Yorker. Melalui penulisan Conversation With Friends (2017) dan sekarang melalui Normal People telah membawa ulasan yang menyenangkan melalui pers Inggris dan Irlandia. Normal People juga telah lama dinominasikan untuk Man Booker Prize.

Gaya penulisan yang membuat karakter-karakter sekunder masuk dan keluar dari penceritaan dibuat dengan tanpa keriuhan. Intensitas Marianne dan Connell sebagai karakter utama tentunya diutamakan. Menjadi plot utama di atas plot kecil yang dibumbui dengan drama kampus dan politik sosial kecil.

Gaya Penulis

Daya tarik utama penulis terletak pada pengamatannya yang tepat pada kisah cinta para dewasa muda. Diperlihatkan melalui penceritaannya dalam hal-hal kecil. Ketika kemajuan teknologi membuat lebih mudah untuk berkomunikasi, tetapi tokoh utama melewatkan banyak hal. Banyak hal yang tidak terucapkan. Hal tersebut juga membuka banyak mata pembaca.

Kesalahpahaman dapat dengan mudah diselesaikan dengan percakapan langsung tanpa adanya kebuntuan emosional. Penulis mempertahankan sudut pandang orang ketiga yang dekat, tetapi juga bergeser pada tokoh Connell dan Marianne, menawarkan pembaca sebuah sisi baru. Sebuah jendela yang menyisakan hal-hal yang dijaga satu sama lain dalam kisah Normal People.

Penggunaan bahasa yang jelas menjadi daya tarik tersendiri. Dialog yang disajikan juga mengekspresikan kesadaran diri dari para tokoh. Bahkan, mengungkapkan ketidaknyamanan dan penghindaran dari Marianne dan Connell.

Kemampuan Rooney untuk menyelami setiap detail menjadikannya istimewa. Detail menit dari kehidupan yang emosional menggambarkan karakternya. Karakter yang memperlihatkan bagian lain dari generasi media sosial sehingga mencerminkan kebenaran dengan menampilkan sebuah kerentanan pada generasi milenial. Melalui Normal People, anak muda, cinta, dan hal-hal sepele saling terkait. Diberi benang merah sehingga menjadi novel yang menuntut untuk dibaca secara kompulsif pada satu kesempatan.

Adaptasi Serial Televisi

Serial televisi Normal People telah tayang sejak 26 April 2020 kemarin. Serial televisi ini merupakan adaptasi dari novel Normal People karya Sally Rooney. Secara garis besar penceritaan di dalamnya sama, berkisah mengenai hubungan ketertarikan antara tokoh Connell dan Marianne. Serial ini juga dibumbui dengan konflik psikologis seperti yang terdapat di dalam novel. Serial dengan total 12 episode ini mampu mendapatkan skor tinggi.

Skor dari IMDb mencapai angka 8.9/10. Kemudian untuk Rotten Tomatoes sebesar 86%. Angka-angka tersebut dinilai cukup tinggi untuk sebuah serial TV yang memiliki total 12 episode.[]

*Artikel ini pertama kali dipublikasikan di laman Bentang Pustaka.