fbpx

Enter your keyword

Metode Dzikir Dan Doa Al-Ghazali

Metode Dzikir Dan Doa Al-Ghazali

Metode Dzikir Dan Doa Al-Ghazali

Metode Dzikir Dan Doa Al-Ghazali – Kojiro Nakamura

 

Buku ini dilengkapi uraian tentang pola hidup yang tepat bagi kaum Muslim agar bisa mempraktikkan doa dan zikir di tengah kesibukan sehari-hari, buku ini menjadi bacaan tepat bagi mereka yang berkeinginan memaknai dan memperbarui praktik-praktik zikir dan doanya. Sehingga fokus hati kita tetap menuju kepada Allah, Sang Maha Pencipta. Di samping itu, para pengkaji studi agama dan spiritualitas dapat menemukan perbandingan antara zikir dan doa dalam Islam dengan praktik-praktik serupa yang berkembang dalam tradisi agama lain.

*

Dalam tulisan-tulisan Al-Ghazâlî, istilah zikir digunakan dalam pengertian yang luas, mulai dari penjelasan umum hingga penjelasan yang sangat teknis. Kita bisa menggolongkan penggunaan istilah tersebut ke dalam beberapa kelompok. Ada dua tipe utama zikir dalam pemikiran Al-Ghazâlî dan dalam Al-Quran; yaitu “zikir dengan hati” (dzikr bi al-qalb) dan “zikir dengan lisan” (dzikr bi al-lisân).

Zikir. Makna utama yang dimiliki oleh zikir adalah ikhtiar sungguh-sungguh untuk mengalihkan gagasan, pikiran, dan perhatian kita menuju Tuhan dan akhirat. Dengan demikian, zikir bertujuan untuk membalikkan keseluruhan karakter kita dan mengalihkan perhatian utama kita dari dunia yang sudah sangat kita akrabi menuju akhirat yang sejauh ini belum kita kenali sama sekali.

Doa. Dalam Al-Quran fungsi utama doa adalah memohon atau meminta (dengan segala kerendahan hati). Fungsi inilah yang dipraktikkan kebanyakan kaum Muslim. Namun di kalangan para sufi, di samping berfungsi sebagai bentuk permohonan kepada Tuhan untuk mendapatkan berkah spiritual-Nya, doa juga berfungsi sebagai pujian kepada Tuhan atau perbincangan rahasia (munajat) antara manusia dengan Tuhan.

Beberapa pelajaran penting yang bisa kita ambil dari buku Metode Zikir dan Doa Al-Ghazâlî ini:
Ada tiga tipe zikir mental dalam gagasan Al-Ghazâlî. Zikir tipe pertama adalah zikir dalam pengertipan upaya sadar untuk mengingat Tuhan tanpa jeda dan mengalihkan seluruh pikiran dan gagasan kita kepada-Nya. Tipe kedua adalah zikir ketika kondisi batin seseorang berada pada tahapan yang lebih tinggi yang tidak perlu bersusah payah mengalihkan pikiran mereka kepada Tuhan karena mereka sudah terbebas dari semua perhatian di luar Tuhan. Zikir tipe ketiga adalah zikir dalam pengertian olah meditasi untuk memupuk kondisi emosional dan mental tertentu secara metodis dengan (terus) mengingat kematian seseorang itu sendiri dan posisi kita yang tidak aman di depan Tuhan dan berbagai peristiwa eskatologis.

Menurut teori sufistik Al-Ghazâlî, langkah pertama dalam Jalan Pembersihan adalah mengalihkan seluruh perhatian kita dari benda-benda duniasi menuju kepada Tuhan, Satu-Satunya yang Berdaulat, sehingga merombak ulang seluruh karakter kita. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan berpikir dan mengingat Tuhan sesering mungkin sehingga kita menyadari ‘tangan pemandu’ Tuhan dalam semua peristiwa kehidupan, dan hanya bersandar kepada Tuhan. Doa, atau permohonan, mewujudkan kesadaran akan dominasi Tuhan dan berserah diri kepada kehendak-Nya.

Perhatian manusia perlahan-lahan akan beralih dari dunia hanya kepada Tuhan semata, ketika ia beribadah kepada Tuhan dan terus mengingat-Nya, apa pun objek yang semua dimintanya kepada Tuhan dalam ibadahnya tersebut. Al-Ghazâlî lebih berfokus pada sikap batin sang pemohon daripada formalitas eksternalnya. Dengan demikian, doa sebagai praktis profetik digabungkan secara efektif ke dalam keseluruhan teori Al-Ghazâlî tentang praktik mistis tanpa ada kontradiksi.

Munajat bukanlah permohonan, bukan pula kontemplasi yang tak sadarkan diri, bukan pula ekspresi penyerahan diri, dan bukan pula pujian kepada Tuhan. Ini lebih mirip dengan perbincangan yang intim antara sepasang kekasih, sebagaimana diperlihatkan dalam ibadah yang dilakukan oleh Rabi’ah Al-Adawiyah:

Ya Tuhanku, karunia terbaik-Mu dalam hatiku adalah harapan tentang-Mu
Dan kalimat terbaik dari lidahku adalah pujian kepada-Mu
Dan saat-saat yang paling kusukai adalah saat ketika aku bertemu dengan-Mu.
Ya Tuhanku, aku tidak dapat bertahan tanpa mengingat Engkau di dunia ini
Dan bagaimana aku bisa bertahan tanpa melihat-Mu di alam berikutnya?
Ya Tuhanku, keluhanku kepada-Mu adalah bahwa aku hanyalah seorang asing di negeri-Mu, dan kesepian di tengah-tengah para penyembah-Mu.