fbpx

Enter your keyword

Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia: Menjaga Spritualitas dengan Sumber Kehidupan

Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia: Menjaga Spritualitas dengan Sumber Kehidupan

Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia: Menjaga Spritualitas dengan Sumber Kehidupan

Apa sebenarnya permasalahan pendidikan di Indonesia?

Benarkah kerancuan tentang sistem pendidikan adalah masalah utama? Atau kekaburan tentang hakikat proses belajar mengajar? Atau mungkinkah metode belajar mengajar juga punya andil dalam dalam sengkarut ini?

Untuk lebih menggali dan membahas hal tersebut, Sekolah Lazuardi dan Noura Publishing mengadakan acara Seminar sekaligus Peluncuran Buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia, Sabtu, 28 September 2019 di Auditorium Gedung A, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senayan, Jakarta.

Acara seminar yang dihadiri sekitar 300 audiens ini menampilkan narasumber praktisi pendidikan Haidar Bagir, Ketua Yayasan Lazuardi Hayati yang juga penulis buku Memulihkan Sekolah, Memulihkan Manusia, serta Najelaa Shihab, founder gerakan Semua Murid Semua Guru dan pendiri Sekolah Cikal. Setio Iswoyo, trainer bidang pendidikan dan pelatihan, menjadi moderator acara.

Acara yang dibuka oleh Ade Erlangga (Kepala BKLM Kemendikbud) ini diramaikan juga dengan penampilan Lazuardi Music Orchestra. Serta pendapat anak-anak Lazuardi tentang sekolah yang menyenangkan menurut Yuma Aqila, Alia Haidar, dan Aila Alatas.

 

Tentang Memulihkan Sekolah dan Spiritualitas Anak

Menurut Haidar Bagir, sekolah dalam bentuknya yang sekarang masih belum bisa sepenuhnya digantikan meski, sesungguhnya, masih banyak kesalahan mendasar yang harus diluruskan di dalamnya, baik itu kesalahan konseptual maupun praktikal.

“Anak itu belajar paling baik ketika sekolah itu nyaman, ketika sekolah itu fun. Harusnya sekolah itu menjadi tempat yang nyaman bagi anak-anak. Dia merasa terlindungi, dia merasa punya teman-teman yang baik, dia merasa punya guru-guru yang baik.” Ujar Haidar Bagir.

Buku ini suatu upaya untuk memberikan kontribusi, memberikan kritik yang konstruktif kepada sistem persekolahan kita. Supaya sistem persekolahan kita itu pulih kembali sebagai suatu wahana mendidik manusia, bukan wahana mendidik robot. Pendidikan itu harus mengembangkan unsur-unsur kemanusiaan yang lebih luhur. Terus mengajarkan tentang kebahagiaan, tentang spritualitas, tentang bagaimana manusia itu berkembang kemanusiaannya ketika memiliki cinta kasih. Bahwa esensinya mansuia itu kepemilikan cinta kasih. Cinta kepada sumber kehidupan, Allah, dan ada hubungan intim dengan sumber kehidupan tersebut. Kalau kita tidak punya hubungan intim dengan sumber kehidupan, sekaya apapun anak kita, sekuasa apapun, sepopuler apapun, dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, perlu menjaga hubungan intim dengan sumber kehidupan. Perlu menjaga hubungan intim dengan sesama manusia juga.

Manusia itu bukan makhluk bumi yang mendapatkan pengalaman spiritual. Manusia adalah makhluk spiritual yang mendapatkan pengalaman bumi. Jadi esensi manusia itu adalah spiritual. Dan kalau kita tidak mendidik anak-anak kita melihat spiritualitas dengan tuhan, spiritualitas dengan alam, spiritualitas dengan manusia, spiritualitas dengan hewan, dengan pohon, dengan batu. Kalau kita tidak pelihara spiritualitas tersebut, jangan harap kita memiliki anak yang berbahagia.

Orang yang memiliki spiritualitas itu tidak mungkin bahagia sendirian. Orang bahagia itu akan mungkin dia bahagia dengan orang lain, bahagia bersama sesama makhluk tuhan yang lain. Dan kebahagian itu hanya mungkin dia dapat, selain dia intim pada sumber kehidupan, hidupnya juga selalu dia pakai untuk memberikan kontribusi bagi kebahagiaan orang lain. Baru kalau kita sampai mendidik anak kita seperti itu, anak kita pasti akan bahagia.

Sekolah kita harus dipulihkan dari tempat dilahirkan anak-anak manusia spiritual yang baik, yang menjadikan hidupnya untuk amal saleh orang lain.