fbpx

Enter your keyword

Kutipan Tentang Cinta dan Kehidupan dalam Buku House of Tales Jostein Gaarder

Kutipan Tentang Cinta dan Kehidupan dalam Buku House of Tales Jostein Gaarder

Kutipan Tentang Cinta dan Kehidupan dalam Buku House of Tales Jostein Gaarder

Pada hari pertama kuliah di Universitas Oslo, Albert memperhatikan seorang gadis di depan mesin kopi. Gadis itu, Eirin, balas memperhatikan Albert. Mereka pun saling jatuh cinta. Pertemuan berikutnya menghantarkan mereka ke Rumah Dongeng, rumah terpencil yang semakin menegaskan perasaan cinta di antara mereka.

Tiga puluh tuju tahun kemudian, ketika Eirin berada di sebuah kongres biologi di Melbourne, Albert menerima pesan menyeramkan dari mantan kekasihnya, Marianne. Pesan itu sangat mengguncang hidup Albert, hingga dia memutuskan untuk menyepi ke Rumah Dongeng dan menenangkan diri. Di sini, Albert memberi dirinya batas waktu 24 jam untuk menulis tentang kehidupannya bersama Eirin. Setelah itu, Albert harus membuat keputusan terpenting dalam hidupnya.

Itulah sepenggal cerita dari buku terbaru karya Jostein Gaarder yang berjudul House of Tales. House of Tales berkisah tentang bagaimana Albert menceritakan kisah hidupnya dari pertemuannya bersama Eirin, persinggahannya ke Rumah Dongeng yang sepuluh tahun kemudian menjadi miliknya, hingga pikiran dan perasaan yang berkecamuk di saat-saat terakhirnya untuk mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Dari kisah House of Tales ini, kita diajak untuk mengenal cinta dan kehidupan.

Seperti biasa, selalu ada yang bisa kita petik sarinya dari karya-karya Jostein Gaarder, tak terkecuali buku House of Tales ini. Berikut kutipan-kutipan tentang cinta dan kehidupan yang coba digali kembali oleh Jostein Gaarder untuk mengajak kita menjelajah melalui karyanya House of Tales:

“… karena kita sebenarnya adalah bagian tak terpisahkan dari tim alam semesta. Dan juga diri kita ini terbentuk dari elemen-elemen yang tercipta setelah ledakan-ledakan supernova semacam itu. Kita adalah debu-debu bintang.”

 

“Tahun demi tahun berlalu. Kita yang berada di tengah-tengahnya seperti mencoba berlari menuju masa depan yang tak menentu. Saat kita mengenang kembali tahun-tahun yang sudah berlalu itu, terasalah betapa sang waktu seakan-akan melintas terburu-buru.”

 

“Kita sangatlah kaya tak berhingga akan kesan-kesan kehidupan, pengakuan, kenangan, dan hubungan satu sama lain. Tetapi, pada saat berpisah, segalanya luruh dan lenyap, terlupakan.”

 

“Pandangan kita tidak melebar ke mana-mana saat kita memandang masa lalu. Kenangan-kenangan kita hanya bergerak maju dan mundur sepanjang jalan hidup yang telah kita lalui.”

 

“Kita bukan hanya bagian dari alam. Kita juga merupakan bagian erat dari jejaring keluarga, sosial, dan budaya.”