fbpx

Enter your keyword

Keragaman Budaya dalam Memahami Kehidupan Secara Utuh

Keragaman Budaya dalam Memahami Kehidupan Secara Utuh

Jumat,  2 November 2018 di Aula Terapung, Perpustakaan UI diadakan Diskusi Publik “Apa dan Siapa Bangsa Indonesia ini” oleh Mufakat Budaya Indonesia (MBI). Pembicara terdiri dari Radhar Panca Dahana, Haidar Bagir, Bambang Wibawarta, dan Bambang Soesatyo. Sebagai salah satu pembicara, Haidar Bagir membawa topik bahasan tentang sejarah khususnya keislaman di Indonesia yang berkaitan dengan budaya bangsa Indonesia.

Sebagai pembuka, Haidar Bagir menjelaskan bahwa setiap manusia itu memiliki keunikan. Selain itu, manusia memiliki kedudukan yang berbeda-beda. Bukan hanya sebagai individu saja, tetapi sebagai masyararakatpun memiliki kedudukan dan keunikan tersendiri.

Adanya budaya yang berbeda-beda sesungguhnya adalah sesuatu hal yang alami, bahkan sesuatu yang semestinya disyukuri.

“Pluralisme budaya ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari, dan sekali lagi, itu sesuatu yang seharusnya disyukuri dan dipertahankan. Agar pemahaman kita tentang kehidupan itu menjadi lebih lengkap,” jelas Haidar Bagir.

Haidar Bagir percaya bahwa budaya adalah rekaan manusia. Bahkan Tuhan dan agama pun tidak bisa lepas dari rekaan manusia selama manusia itu dipahami sebagai theofani dari Tuhan. Manusia sebagai theofani dari Tuhan dimaksudkan dengan manusia itu sendiri adalah manifestasi dari ketuhanan. Jadi bukan berarti karena rekaan ini, baik agama maupun Tuhan kehilangan objektivitasnya.

Lebih jelasnya Haidar Bagir menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan persoalan keunikan dan kedudukan manusia yang sempat ia singgung sebelumnya.

“Theofani itu kan sebenarnya manusia, bahkan semua makhluk hidup, adalah theofani dari tuhan, manifestasi, atau kadang disebut emanasi atau pancaran. Seperti matahari memancarkan sinarnya. Itu ada yang lebih dekat dengan matahari ada yang lebih jauh dari matahari. Itulah kedudukan. Kemudian setiap manusia itu adalah wadah dari pancaran itu. Maka disebut tadi keunikan,” jelas Haidar Bagir.

Bisa diumpamakan bahwa Tuhan adalah matahari yang memancarkan sinarnya. Pancaran sinar-sinar tersebut ditangkap oleh wadah yaitu manusia atau makhluk hidup lainnya. Wadah ini memiliki kedudukan, ada yang dekat dengan matahari, atau ada yang jauh dari matahari. Dan wadah itu sendiri memiliki keunikan masing-masing, sehingga bentuknya yang berbeda-beda dapat menangkap pancaran yang berbeda-beda pula.

Hal ini tidak menyangkut pada individu saja, tetapi juga masyarakat. Haidar Bagir menjelaskan bahwa budaya, bahkan biologi manusia terbentuk oleh alam.

“Jadi sebetulnya dulu manusia asalnya dari satu nenek moyang tapi kemudian menjadi berjenis-jenis karena ada persoalan genetic. Ada transmutasi-transmutasi genetik yang terjadi pada satu kelompok homo ini tapi tidak terjadi pada kelompok homo yang lain. Terjadi pada homo sapiens tapi tidak terjadi pada homo yang lain. Kemudian terjadi migrasi, kemudian terjadi interbreeding, sampai akhirnya ada mutasi jenis-jenis manusia yang lain. Dan ketika mereka menempati satu tempat tertentu. Ditempat mereka di pantai, itu akan terbentuk budaya yang berbeda. Kalau mereka hidup di tanah gersang, mereka akan menjadi nomad. Kalau mereka bermigrasi ke tempat yang subur, maka kemudian budaya mereka terbentuk oleh pertanian, dan lain lain. Itu ada banyak faktor yang membentuk budaya seperti itu,” jelas Haidar Bagir.

Bagi Haidar Bagir, budaya yang berbeda-beda seperti ini seharusnya patut kita syukuri. Setiap budaya itu sendiri merupakan wadah unik dari pancaran ketuhanan. Ibarat potongan-potongan puzzle, ketika kita kumpulkan, budaya yang beragam dapat memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada kita tentang kehidupan itu seperti apa.