fbpx

Masukkan kata kunci Anda

#HidupKadangBegitu: Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan

#HidupKadangBegitu: Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan  Kemanusiaan

#HidupKadangBegitu: Refleksi tentang Agama, Ilmu, dan Kemanusiaan

#HIDUPKADANGBEGITU – Nadirsyah Hosen dan Maman Suherman

Rezeki Itu …

Dalam dua hari terakhir di satu bulan Puasa, pikiranku “diombang-ambingkan” oleh pemahaman, apa sebenarnya makna rezeki?

“Bolehkah ke rumah saya pukul 11 sebelum shalat Jumat?” sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Aku mengiyakan, karena memang tak ada jadwal lain di kalenderku. Tiba di rumahnya 10.30, menunggu 15 menit, beliau menemuiku di ruang tamu. Berceritalah dia tentang sejumlah hal, penuh keakraban layaknya dua sahabat yang telah lama tak bertemu.

Sebelum pamit, karena azan Jumat mulai terdengar, ia menitipkan sesuatu. “Ada rezeki, saya ingin berbagi dengan Pak Maman.” Ia memelukku, dan bercerita kalau ia tahu kegiatan-kegiatanku belakangan ini. “Mohon jangan ditolak.” Alhamdulillah.

Di halaman masjid, empat gadis kecil pemulung, membawa karung plastik, dengan kaki telanjang melangkah di terik matahari, di atas aspal yang panas. Kupanggil dia, kubagikan sedikit dari rezeki itu. Keempatnya tersenyum, binar bola matanya sungguh teduh kulihat. Sungguh surga yang diberikannya dalam tatapannya, meneduhkanku. Nilainya jauh melebihi apa yang baru kuserahkan ke dalam genggamannya.

Tiga penjaga masjid, penjaga kendaraan orang-orang yang sedang menjalankan shalat, kuajak berkumpul, kutitipkan sebagian rezeki Allah padanya. Matanya … binar matanya itu, jauh di atas nilai yang kusisipkan di genggamannya.

Usai shalat, berhenti di satu anjungan tunai mandiri, kutransfer sejumlah uang untuk sahabatku, seorang pegiat literasi yang dengan tulus ikhlas membawa buku ke mana-mana, agar anak-anak di kepulauan mau dan mencintai aktivitas iqra, Muhammad Ridwan Alimuddin, namanya. Kutitip sedikit pesan selepas mentransfer, “Untuk beli baju lebaran buat Nabigh dan Sophia (dua buah hatinya).”

Tak lama berselang ia menjawab, “Terima kasih.” Sore, kubaca postingannya di Facebook, uang sudah dibelikannya sirup, gula, dan susu untuk dibagi-bagikan sebagai bingkisan Hari Raya buat awak perahu pustaka yang selama ini membantu kami dalam gerakan tebar virus literasi 4 huruf: baca, iqra, read, dan buku, di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Tak tertahan, air mataku menetes. Aku iri padamu, Ridwan. Berulang kali kaulakukan hal yang sama, tak memikirkan dirimu dan keluargamu sama sekali. Yang kaupikirkan hanya orang lain, orang lain, dan orang lain.

Saat kuceritakan hal ini kepada sahabatku kala berbuka bersama, sahabatku yang juga sudah pernah bersua Ridwan berujar lirih, “Sungguh hatinya terbuat dari kepingan surga. Berbahagialah orang yang telah selesai dengan dirinya, dan hidupnya hanya memikirkan orang lain, dengan segala kesederhanaan hidupnya, seperti Ridwan.”

Ya, saya teramat iri pada Ridwan.

Saya lalu teringat pada tulisan yang pernah kutulis: “Orang berpunya berbagi, itu biasa. Tapi, orang tak berpunya berbagi, itu sungguh luar biasa.”

Di tengah berbuka, aku mendapat SMS dari seseorang yang mengabarkan, ingin mengoreksi jumlah rezeki yang kudapat dari sebuah pekerjaan yang telah kujalani. Bukan membesar, tapi jadi mengecil jumlahnya. Terhenyak aku dan kuceritakan kepada sahabatku yang melihat gundah di wajahku. Kuceritakan SMS yang baru saja kubaca. Dan ia memberi jalan keluar.

Tak lama, aku kembali tenang, terbayang wajah pemulung, penjaga masjid dan Ridwan, yang tak pernah “menggugat” jumlah rezekinya. Bahkan membagikannya kembali kepada orang lain. Lewat tatapan tulus, senyum keikhlasan, dan membagikan langsung apa yang baru saja didapatkan.

“Apa yang mesti kaukeluhkan, Man? Bukankah kamu sendiri yang sering mengingatkan orang lain, rezeki-Nya tak pernah salah alamat, juga datangnya tak pernah maju atau mundur barang sedetik pun?” Aku mengingatkan diriku sendiri. “Kalau memang sudah menjadi bagian kita, tak akan berkurang sedikit pun nikmat-Nya.”

Kujawablah SMS itu dengan ketenangan luar biasa, yang tak pernah kudapatkan dan kurasakan sebelumnya. “Masa depan milik masa depan, tak mesti kaugundahkan,” suara ibuku menggema di batinku.

Masih di hari yang sama. Seorang teman—berbeda agama denganku—yang pernah bersua muka baru sekali dalam sebuah talkshow dan bedah bukuku, “99 Mutiara Hijabers”, tiba-tiba mengirim pesan di WA. Isinya, |Dari kantong kejujuran komunitas kami yang dikumpulkan 10 ribu demi 10 ribu, puji Tuhan, telah terkumpul menjadi 37 juta rupiah. Mohon nomor rekening Kang Maman, untuk kami transfer dana itu selepas Lebaran, untuk modal membuat perahu pustaka berikutnya, membantu gerakan Kang Maman dalam berbagi buku dan mengajak anak-anak di pulau terpencil untuk membaca.”

Air mataku kembali mengalir. Orang yang baru sekali bertemu denganku, mengikhlaskan uang sebanyak itu untuk gerakan #tebarvirusliterasi kami.

Ya, Allah, mengapa Kamu banyak bercanda hari ini kepadaku? Silih berganti cerita menerpaku dalam sehari.

Segera kukabarkan kepada Ridwan berita ini, dan seperti biasa, ia menyampaikan terima kasihnya yang teramat sangat. (Dan kelak kemudian hari, perahu ini terwujud, melengkapi moda transportasi perahu pustaka lainnya di Pambusuang, Polewali Mandar, Sulawesi Barat.)

Keesokan harinya, cerita tentang keajaiban rezeki-Nya kubagi dengan sahabatku, Sony Tan. Berbagai cerita yang sama pun alir-mengalir memenuhi WA kami. Berulang kembali aku tak kuasa untuk menahan tumpahnya air mata. Betapa ajaib sungguh kehadiran-Mu dalam diri dan kehidupan kami, ya Allah. Kerap kami meninggalkan-Mu, tapi tak sedetik pun Engkau meninggalkan kami. Hanya sesekali Engkau membolak-balik hati kami, justru karena rasa sayang-Mu untuk selalu memanggil kami kembali ke jalan-Mu. Jalan yang Engkau tegas gambarkan dalam ayat-ayat Al-Fâtihah.

Lalu apa makna rezekimu itu, ya Allah?
Lama kumerenung, sesekali melintas wajah teduh Gus Mus, Kyai Ahmad Mustofa Bisri, yang kala itu baru saja ditinggal istri tercintanya, Nyai Fatmah. Kutatap wajah teduh almarhumah yang diabadikan oleh Gus Mus, kuteringat puisi Gus Mus tentang istrinya, dua hari jelang kematian Sang Istri.

Huruf demi huruf yang terangkai dalam puisi itu adalah rezeki yang meluluhkan kalbuku. Di tengah duka ditinggal orang yang dicintai, Gus Mus masih memberikan rezeki ketabahan, keikhlasan, keteduhan pada orang lain, yang datang kepada-Nya lewat berbagai cara untuk memberi penghiburan. Bukannya memberi, kami yang justru mendapatkan rezeki darinya. Rezeki berbentuk ketabahan dan keikhlasan akan arti sebuah kehilangan.

Terbayang dalam ingatanku, setahun sebelumnya, Gus Mus dan Nyai Fatmah bersama putrinya Ienas Tsuroiya menyapaku di tengah kerumunan orang yang hadir di pameran buku di JCC, Jakarta. Dan ketiganya duduk takzim di kursi peserta, mendengarkanku berbagi cerita tentang buku-bukuku. Kelak kemudian, kubaca twit-nya di timeline, tentang betapa ia menikmati ceritaku hari itu.

Melambung aku dibuatnya. Ilmuku sungguh tak seberapa dibanding ilmunya, tetapi ia begitu ikhlas memujiku, memuji karyaku, yang sungguh tak ada apa-apanya dibanding buku-buku beliau. Saat bersalaman dan kuhendak mencium tangannya, ia langsung menarik tangannya, dan cuma tersenyum sambil berujar, “Lanjutkan menulis buku-buku berikutnya. Saya mendoakanmu.”

Subhânallâh, kenangan yang tak mungkin pernah kulupa dalam hidupku, termasuk tatapan mata teduh dan senyum Nyai Fatmah saat itu, yang berdiri tepat di samping Gus Mus. Nasihat, yang sungguh tak akan pernah kulupa.
*
Hari ini, aku kembali bertanya, lalu apa rezeki itu di mata batinku?

Teringat ajaran guruku, di pesantren kampung di atas Masjid Nahdatussaadah, Kampung Lette, Makassar, saat aku masih kecil dulu. Ustadz Malik namanya. Kira-kira seperti ini ajaran-Nya yang disampaikannya:

Rezeki itu,

“Segala sesuatu yang bermanfaat yang Allah halalkan untukmu, entah berupa pakaian, makanan, sampai pada pasangan hidup. Itu semua termasuk rezeki. Begitu pula anak laki-lakimu atau anak perempuanmu, termasuk rezeki. Termasuk pula dalam hal ini adalah kesehatan, pendengaran, dan penglihatan.”

Rezeki tidak identik dengan harta dan uang. Janganlah disempitkan maknanya.

Dan, rezeki itu wajib dimanfaatkan untuk hal yang baik.
“… dan menafkahkan (mengeluarkan) sebagian rezeki yang Kami anugerahkan untuk mereka.” (QS Al-Baqarah [2]: 3)

Rezeki berupa harta, wajib diperhatikan zakatnya, dikeluarkan untuk sedekah yang sunnah. Ada pula rezeki selain harta yang juga diperintahkan agar dimanfaatkan untuk hal-hal baik, seperti rezeki berupa akal, pendengaran, dan penglihatan.

Dan,
“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah.”

Dari orang-orang baik yang kusebutkan di atas, dan orang-orang baik yang kutemukan sepanjang usiaku, kudapatkan pesan yang sama:
Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia.

Teringat pada apa yang pernah kunotulenkan di acara “Indonesia Lawak Klub”, yang bukan hal baru dan juga bukan murni catatanku. Semata mengulang apa yang sudah pernah ada:

“Boleh jadi …
kala engkau tertidur lelap,
pintu-pintu langit sedang diketuk
oleh puluhan doa kebaikan untukmu,
dari seorang fakir yang telah engkau tolong,
atau
dari orang kelaparan yang engkau beri makan
dari orang yang sedih yang telah engkau bahagiakan
dari orang yang berpapasan denganmu yang telah
engkau berikan senyuman
dari orang yang dihimpit kesulitan dan telah engkau
lapangkan.

Dan janganlah sekali-kali engkau meremehkan sebuah
kebaikan .…”
(Ibnul Qayyim al-Jauzi)

Terima kasih ya, Allah,
atas rezeki ilmu-Mu ini ….[]

Senar Kehidupan

Agama itu memberi ketenangan dan kedamaian seperti harmonisasi gesekan biola. Begitu konon K.H. Achmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berpesan kepada para santrinya, sambil kemudian beliau menggesek biolanya. Sejatinya, bukan saja agama, tapi kehidupan kita ini juga seperti gesekan biola. Namun, bagaimana kalau satu demi satu senar biola kita putus?

 

Niccolo Paganini, seorang pemain biola terkenal di abad 19, pernah mengalaminya saat konser di hadapan para pemujanya yang memenuhi ruangan. Tiba-tiba salah satu senar biolanya putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Dia terus memainkan lagunya. Rupanya kejutan tidak berhenti hanya sampai di situ, senar biolanya yang lain pun putus satu per satu hingga hanya meninggalkan satu senar. Tetapi dia tetap memainkan biolanya. Dengan mata berbinar dia berteriak, “Paganini dengan satu senar.” Penonton sangat terkejut dan kagum pada kejadian ini.

 

Kawan, hidup kita dipenuhi oleh persoalan, kekhawatiran, kekecewaan, dan semua hal yang tidak baik. Secara jujur, sering kali kita mencurahkan terlalu banyak waktu berkonsentrasi pada senar kita yang putus dan segala sesuatu yang tidak dapat kita ubah.

 

Apakah Anda masih memikirkan senar-senar yang putus dalam hidup Anda? Apakah senar terakhir nadanya sudah tidak indah lagi? Jika demikian, jangan melihat ke belakang, maju terus, mainkan senar satu-satunya itu. Mainkan itu dengan indah. Balaslah cemoohan penonton dengan prestasi dan apresiasi. Jawablah keraguan orang lain dengan keindahan pesona gesekan senar biolamu yang tersisa. Saat kita mampu berdamai dengan diri sendiri, komentar dan cemoohan orang lain menjadi tidak penting untuk didengarkan. Semesta berdamai![]