fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Gus Nadir: Saya Gemar Menulis Karena Saya Ingin Berbagi Manfaat

Gus Nadir: Saya Gemar Menulis Karena Saya Ingin Berbagi Manfaat

Gus Nadir: Saya Gemar Menulis Karena Saya Ingin Berbagi Manfaat

Nadirsyah Hosen, atau Gus Nadir yang lahir pada 8 Desember 1973, adalah Rais Syuriah PCI (Pengurus Cabang Istimewa) Nahdlatul Ulama (NU) di Australia dan New Zealand. Menempuh pendidikan formal dalam dua bidang yang berbeda, Ilmu Syari’ah dan Ilmu Hukum, sejak S-1, S-2, dan S-3. Pemegang dua gelar Ph.D. ini memilih berkiprah di Australia, hingga meraih posisi Associate Professor di Fakultas Hukum, University of Wollongong. Namun kemudian, dia “dibajak” untuk pindah ke Monash University pada 2015, Monash Law School adalah salah satu Fakultas Hukum terbaik di dunia. Baru setahun pindah ke Monash, beliau sudah diminta mengurusi Monash Malaysia Law Program—sebuah program unggulan melibatkan mahasiswa dari Australia, Kanada, Belanda, Jerman, dan Prancis. Di Kampus Monash, beliau mengajar Hukum Tata Negara Australia, Pengantar Hukum Islam, dan Hukum Asia Tenggara.

 

Pagi tadi jam 10.00 WIB telah dilangsungkan live instagram bersama akun mizanstore dan Gus Nadir. Sebagai salah satu rangkaian acara Promo #Mizan37 yang sedang berlangsung, dibuka sesi talkshow bersama Gus Nadir.

Banyak penonton live instagram mengajukan beragam pertanyaan mulai dari pertemuan pertama Gus Nadir dengan Kang Maman hingga akhirnya menerbitkan buku, sampai ke pandangan Gus Nadir mengenai perbedaan belajar Islam di negara barat dengan negara Timur Tengah.

Gus Nadir menjelaskan tentang ide pertama untuk akhirnya mengeluarkan buku “Hidup Kadang Begitu” bersama Kang Maman yang saat ini sedang pre order di mizanstore. Awalnya dari netizen twitter yang selama setahunan ini selalu menginginkan keterlibatan antara Gus Nadir bersama Kang Maman dalam membuat sesuatu, baik itu talkshow atau acara bersama lainnya. Kebetulan editor Penerbit Noura, Pak Najib, menemui Gus Nadir ke Jogja untuk menanyakan perihal buku terbaru Gus Nadir. Akhirnya Gus Nadir mengajukan ide, bagaimana jika membuat buku bersama Kang Maman. Ide tersebut disambut baik Penerbit Noura dan akhirnya jadilah buku “Hidup Kadang Begitu”. Buku ini sebetulnya lahir dari chemistry diantara keduanya. Baik Gus Nadir maupun Kang Maman tidak merencanakan atau membagi-bagi penulisan buku tersebut. Akan tetapi setelah kedua tulisan mereka digabung, tulisan begitu mengalir dan saling berkaitan. Bahkan proporsi tulisannya seimbang meski mereka tidak mengukur atau menetapkan target tulisan.

Ketika ditanya soal pembagian waktu antara kesibukan Gus Nadir dengan proses menulisnya, Gus Nadir menjelaskan bahwa kegemarannya menulis adalah kegemarannya dalam membaca juga. Gus Nadir menjelaskan bahwa perintah pertama kita sebagai muslim adalah Iqro’, bacalah. Oleh karena itu ia gemar membaca buku. Alasan Gus Nadir rajin menulis adalah karena ia ingin mengikat apa yang dibaca sehingga tidak hilang begitu saja hasil bacaannya selama hidup.

Gus Nadir menjelaskan tujuan utamanya menulis buku adalah persoalan kalau kita wafat ingin dikenang sebagai apa. Beliau sendiri ingin dikenang sebagai orang yang senang berbagi pengetahuan dan orang yang gemar berbagi manfaat khususnya bagi sesama manusia. Oleh karena itu ia menulis karena baginya, sesuai hadis, sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Abah Gus Nadir, almarhum Prof. K.H. Ibrahim Hosen, adalah seorang ulama besar ahli fikih. Dari sinilah awal mula buku “Ngaji Fikih” terbitan Bentang Pustaka terlahir. Gus Nadir bercerita bahwa ia tidak bisa menulis buku “Ngaji Fikih” tersebut jika tidak belajar dari Abahnya. Oleh karena itu Gus Nadir meminta untuk nama Abahnya menjadi penulis pertama, lengkap dengan gelarnya sebagai bentuk penghormatan pada Abahnya. Meski buku ini seluruhnya adalah tulisan Gus Nadir, namun Gus Nadir menjelaskan bahwa ia tidak akan bisa menulis fikih seperti ini jika tidak mengaji pada Abahnya. Oleh karena itu peran Abahnya sangat besar dalam karyanya ini, tak terkecuali dalam kehidupan Gus Nadir sendiri.