fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Cinta: Halal atau Haram

Cinta: Halal atau Haram

Cinta: Halal atau Haram

The Forbidden Relationship – Maryam Yousaf

 

Nabi Muhammad Saw. melihat seorang pemuda memandangi seorang wanita muda. Beliau menolehkan kepala pemuda itu agar mengalihkan pandangannya. Kemudian Nabi Saw.bersabda, “Aku melihat seorang pemuda dan seorang wanita muda dan aku tidak percaya bahwa setan tidak menggoda mereka.” (HR Tirmidzi)

Hubungan yang dibangun atas dasar kesenangan semata memiliki dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan emosi, fisik, mental, dan spiritual seseorang. Pada kenyataannya, hubungan semacam ini tidak hanya menjangkiti anak muda. Bagaikan wabah, hubungan semacam ini bisa menjangkiti semua orang, tua maupun muda, menikah ataupun lajang.

Itulah sebabnya, pada hadis di atas, Rasulullah Saw. menolehkan kepala si pemuda dari memandang wanita muda. Karena, sebuah pandangan biasa bisa menjadi penyebab terbukanya hubungan yang lebih jauh dan berbahaya bagi keduanya. Bukankah Allah Swt. berfirman dalam Kitab-Nya: Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk (QS Al-Isrâ’ [17]: 32)? Sering sekali hal yang kita anggap sepele bisa berakibat sangat fatal bagi diri kita.

Islam tidak melarang perasaan cinta. Bahkan Islam, mengakui, menerima, dan mendorongnya dalam cara-cara terbaik. Buku ini memberi gambaran pandangan Islam dalam mengatasi berbagai masalah terkait cinta itu.

 

***

Tertulis dalam Islam bahwa kita tidak diperbolehkan memiliki kekasih sebelum ikatan pernikahan. Kemudian, pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak kita adalah: Apakah haram untuk memiliki “perasaan” kepada seseorang, untuk mencintai seseorang? Jawabannya sederhana, tidak.

 

Tidaklah haram untuk menyukai seseorang atau untuk mengalami perasaan cinta terhadap seseorang dan ingin menikah dengannya. Cinta merupakan sesuatu yang berada di luar kuasa kita. Cinta merupakan sesuatu yang mengalir dari hati kita begitu saja. Sama seperti semua perasaan lainnya, cinta merupakan emosi yang menguasai hati kita secara instingtif. Namun, jika perasaan cinta ini membawa kita pada pergaulan bebas, tidak menjaga pandangan terhadap lawan jenis, atau menjadikan kita terlibat dalam percakapan-percakapan pribadi, dalam kasus-kasus tersebut perasaan cinta ini dapat dianggap terlarang—haram. Dengan kata lain, jika emosi cinta ini muncul dalam hati seseorang, tetapi dia tidak bereaksi atas hal itu, tidak ada dosa yang dapat dipersalahkan atas dirinya. Tidak ada yang salah dengan cinta yang tumbuh dalam batasan hukum Allah Swt.

 

“Jika cinta tumbuh atas sebuah alasan yang tidak haram, seseorang tidak dapat dipersalahkan atas hal tersebut, seperti halnya seorang pria yang mencintai istrinya atau budak wanitanya, kemudian pria itu meninggalkannya, tetapi rasa cinta itu tetap ada dan tidak pernah meninggalkan hati si pria. Dia tidak akan dipersalahkan atas hal itu. Hal yang sama juga berlaku jika pria itu menatap wanita tanpa sengaja, kemudian mengalihkan pandangannya, tetapi cinta itu tetap ada di hatinya tanpa dia menginginkannya. Namun, dia harus menahan perasaan itu dan menjauhinya.” (Diriwayatkan oleh Ibn al-Qayyim dalam Rawdat al-Muhibbîn, h. 147)

 

“Seorang pria bisa saja mendengar kabar tentang seorang wanita yang memiliki perangai baik, bijak, dan cerdas sehingga pria itu ingin menikahinya. Atau seorang wanita bisa saja mendapat kabar bahwa ada pria memiliki karakter yang baik, bijak, dan pandai, juga taat beribadah sehingga dia ingin menikahi pria itu. Namun, kontak antara kedua insan yang saling mengagumi satu sama lain dalam cara-cara yang tidak diterima secara Islam akan menjadi sebuah masalah, yang pada akhirnya akan berujung pada konsekuensi yang sangat berbahaya. Dalam kasus ini, tidak diperbolehkan bagi si pria untuk berhubungan dengan si wanita atau untuk si wanita berhubungan dengan si pria, dan mengutarakan secara langsung bahwa dia ingin menikahi wanita itu. Alih-alih, si pria harus mengutarakannya kepada sang wali dari si wanita bahwa dia ingin menikahinya, seperti yang Umar r.a. lakukan ketika beliau menawarkan putrinya untuk dinikahi oleh Abu Bakar r.a. dan Utsman r.a. Namun, jika si wanita melakukan kontak secara langsung dengan si pria, hal ini yang akan membawa fitnah. (Liwâ’ât al-Bâb il Maftûh)

Kita semua mafhum bahwa Islam tidak melarang perasaan cinta. Alih-alih, Islam mengakuinya, menerimanya, dan mendorongnya dalam cara-cara yang terbaik. Jalan alternatif terbaik dan Islam tawarkan bagi pasangan kekasih adalah melegalisasikannya dalam ikatan pernikahan.

Segala bentuk ikatan selain pernikahan akan berarti kehancuran dan akan membawa lebih banyak keburukan daripada kebaikan.

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Tidak ada yang sebaik pernikahan bagi dua orang yang saling mencintai satu sama lain.” (Diriwiyatkan oleh Ibn Majah, Buku 9, Hadis 1920; dinilai “sahih” oleh Al-Albani).