fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Be Strong, Stop Bullying

Be Strong, Stop Bullying

Be Strong, Stop Bullying

“Kamu tuh kalau udah dijemput cepetan keluar. Bunda capek tau nungguin dari tadi.”

(Padahal anak baru mau bilang kalau dia harus menyelesaikan tugas tambahan mewarnainya sebelum pulang, sehingga agak terlambat.)

**

“Nggak ada main-main lagi, tadi kan udah main di sekolah. Pokoknya, nanti sampai di rumah langsung ganti baju dan kerjakan tugas. Habis itu rapikan kamar. Kamu tuh udah gede, jangan main terus.”

(Padahal anak baru pulang setelah seharian di sekolah dan butuh bermain dengan temannya.)

**

“Ayooo, makannya dihabiskan. Kamu tuh badannya kecil, jadi harus makan yang banyak biar kayak teman kamu yang itu, tuh. Habisin ya, kalau nggak, besok Bunda nggak mau masakin lagi.”

(Padahal anak baru mau bilang kalau dia masih kenyang karena habis ngemil, tapi bundanya nggak perhatian.)

**

“Aduuuh, Nak, masa begini aja kamu nggak bisa. Ini kan gampang banget. Gimana sih kamu. Dulu tuh Bunda jago ngerjain beginian. Jangan mau kalah dong sama teman kamu yang itu.”

(Padahal anak sudah berusaha jujur dan mengerjakan sesuai kemampuannya. Potensi dia mungkin ada di mata pelajaran lain.)

**

Dan sederet drama Korea, eh drama ibu dan anak lainnya.

**

Bunda, bayangkan kalau kita di posisi anak yang diperlakukan begitu. Gimana perasaan kita, Bun? Gimana hayo?

Suasana boleh panas, tapi bisa kan hati dan ucapan kita tetap tenang agar anak nggak tertekan?

Yuk, dengarkan cerita anak kita terlebih dahulu sebelum mengeluarkan uneg-uneg kita, Bun. Ingat lho, anak itu peniru ulung ayah dan bundanya. Gimana nanti kalau anak kita jadi pemarah gara-gara melihat bundanya setiap hari bawaannya spaneng melulu?

Bun, jangan sampai kita membenci bullying, tapi malah kita sendiri yang jadi pelaku kepada anak-anak kita.

Be strong, Bun. Tahan amarah. Tarik napas, embuskan ….

Jika perlu, bawalah bantal atau boneka kecil ke manapun kita pergi, Bun. Saat sedang kesal, cubit dan remas-remas saja boneka itu. Boneka nggak akan menangis dan sakit hati walaupun kita marahi, cubit, gigit, dan remas sekencang apa pun J Sebaliknya, jiwa anak kita perlahan akan kosong dan hancur jika kita melakukan itu setiap hari dan berlarut-larut.

Seperti judul buku karya Angga Setyawan: Anak Juga Manusia. Mereka punya hati yang seharusnya paling dihargai oleh orang yang melahirkannya, yaitu kita. Dia adalah titipan Tuhan dan sudah sepatutnya diperlakukan dengan baik. Buku ini mengajak kita untuk memaknai kembali peran kita sebagai orangtua. Bahwa sesungguhnya, anak tidak butuh orangtua yang sempurna, melainkan teman yang bersedia tumbuh dan belajar bersamanya.

Moms bisa mendapatkan buku penuh inspirasi ini di acara Moms Literacy Expo yang berlangsung pada 7 September – 10 Oktober 2020. Segudang buku anak dan buku parenting lainnya juga bisa Moms dapatkan di acara tersebut. Jangan sampai ketinggalan, ya!

 

 

Desty Pujianti

Sales Supervisor Mandira Dian Semesta