fbpx

Enter your keyword

13 Bahasa Daerah Indonesia yang Menemui Kepunahannya

13 Bahasa Daerah Indonesia yang Menemui Kepunahannya

13 Bahasa Daerah Indonesia yang Menemui Kepunahannya

Menurut data Summer Linguistic, sebanyak 746 bahasa daerah dimiliki oleh suku-suku bangsa di Indonesia. Namun 13 bahasa diantaranya harus menemui kepunahannya dan 25 bahasa lainnya sedang menanti menunggu gilirannya untuk terlupakan.

Bahasa adalah cara kita untuk berkomunikasi, dan komunikasi adalah jembatan yang menghubungkan pesan antara dua orang atau lebih. Bahasa yang biasa kita pakai saat ini adalah bahasa Indonesia. Namun, Indonesia adalah Negara yang terdiri dari ratusan suku bangsa, yang masing-masing suku bangsanya memiliki kebudayaan beragam, salah satunya adalah bahasa.

Tidak heran jika setiap orang memiliki bahasa daerahnya sendiri, bahkan bisa menguasai lebih dari satu bahasa daerah. Bahasa daerah akan tetap lestari selama masih ada yang menggunakan bahasa tersebut dan mengajarka pada generasi selajutnya.

Lalu bagaimana dengan nasib bahasa daerah yang sudah tidak ada lagi penuturnya? Mereka akan menemui kepunahan.

Nyatanya saat ini sudah ada 13 bahasa daerah yang telah punah di Indonesia. 3 diantaranya, yaitu Hoti, Mapia, dan Saponi berasal dari Papua dan sisanya berasal dari Maluku. 13 bahasa daerah itu yaitu:

  1. Hoti
  2. Mapia
  3. Saponi
  4. Hukumina
  5. Hulung
  6. Loun
  7. Moksela
  8. Naka’ela
  9. Nila
  10. Palumata
  11. Serua
  12. Ternateno
  13. Te’un

Lalu megapa bahasa daerah bisa kehilangan penuturnya?

Ada banyak alasan, bisa dari segi politik, ekonomi, atau budaya. Dr. Sugiyono dalam badanbahasa.kemdikbud.go.id mejelaskan bahwa, “Hilangnya daya hidup bahasa daerah, umumnya diakibatkan oleh pindahnya orang-orang desa ke kota untuk mencari penghidupan yang dianggap lebih layak dan perkawinan antar etnis yang banyak terjadi di Indonesia.”

Orang di daerah yang mencari penghidupan di kota, memiliki kesempatan ekonomi lebih besar jika dia dapat menguasai bahasa Indonesia. Di sekolah-sekolah pun, penggunaan bahasa didominasi dengan bahasa Indonesia. Perkawinan antar etnis dengan latar belakang bahasa daerah yang berbeda, biasanya memakai jalan tengah dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Persoalan lainnya, bahasa daerah Indonesia sebagian besar merupakan bahasa lisan, yang artinya hanya dipakai dalam penggunaan lisan seperti percakapan sehari-hari, do’a-do’a adat, atau nyanyian adat. Kebiasaan penggunaan bahasa adat dalam tulisan, khususnya pada masa-masa lampau, agak jarang ditemui.

Desakan-desakan ini membuat bahasa daerah terpiggirkan dan lama-kelamaan tidak dituturkan lagi. Generasi-generasi berikutnya yang tidak pernah diajarkan untuk menggunakan bahasa daerah tersebut menjadi penutup hayat dari bahasa daerah itu sendiri.

Mungkin sebagian orang justru baru mengetahui keberadaan bahasa tersebut tepat ketika bahasa tersebut telah punah. Hal ini yang harus menjadi pengingat untuk kita bahwa kita harus lebih memerhatikan budaya kita sendiri dan tak hanya berdiam diri memanti kepunahan bahasa daerah lainnya.

 

Diolah dari berbagai sumber.