fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Ziarah Kubur, Annemarie Schimmel

Ziarah Kubur, Annemarie Schimmel

Oleh: Hari Tjahjono

 

Walaupun kecil dan besar di Jawa Timur, saya ini bukan keluarga besar NU yang sangat memuliakan ziarah kubur. Saya ini Islam Abangan yang lahir dan tumbuh besar sampai SMA di sebuah kota kecil yang bernama Caruban, Kabupaten Madiun. Sesuai dengan namanya, Caruban itu kota kecil yang warganya campuran berasal dari berbagai tempat. Tentu saja banyak yang warga NU, tapi lebih banyak lagi warga abangan seperti saya ini. Jadi sangat bisa dimaklumi kalau saya tidak terbiasa melakukan ziarah kubur sejak kecil. Bukan karena membid’ahkan ziarah kubur loh, hanya karena tidak biasa saja.

Dua hari yang lalu, saya mendapat pesan dari seorang sahabat seperti ini:

“Assalamu’alaikum Wr. Wb., mumpung sedang ada di Jerman, barangkali tertarik, Bapak dan keluarga dapat juga ziarah dan mengoleksi karya-karya Almarhumah Prof. Annemarie Schimmel, salah seorang pakar Sufisme dari Jerman. Salam untuk keluarga Pak ??”

Terus terang saya rada kaget menerima pesan seperti itu. Karena yang mengirim pesan itu bukan orang sembarangan, tetapi penulis buku “Sutra Soma”, sebuah novel sejarah yang sangat sarat dengan cerita menarik menjelang kejatuhan kerajaan Majapahit. Sang penulis adalah adik kelas saya di Teknik Penerbangan ITB. Dia menekuni sejarah, dan menuliskannya kembali dalam bentuk novel yang menarik. Saat ini pun dia sedang mempersiapkan novel sejarah edisi berikutnya. Dan setelah membaca tuntas novel Sutra Soma yang ditulisnya, saya banyak bertanya ini dan itu kepadanya. Entah karena pertanyaan-pertanyaan itu atau sebab yang lain, dia “mencurigai” saya mencintai dunia tasawuf. Sehingga dia merekomendasikan saya untuk melakukan ziarah kubur mendiang ustadzah Annemarie Schimmel.

Tentu saja saya senang “dituduh” mencintai dunia tasawuf. Tuduhan yang sangat membanggakan hati bagi seorang abangan seperti saya ini.

 

Tanpa pikir panjang, akhirnya saya menuruti saran sahabat saya ini. Hari ini, 10 September 2019, kami bertiga berangkat naik kereta api menuju Bonn Hauptbahnhof (Bonn Central Station). Ternyata untuk menuju lokasi pemakaman tidak terlalu sulit. Dari stasiun pusat kota Bonn kami naik bus nomor 602 sekitar 10 menit menuju halte terdekat. Dari halte kami jalan kaki sekitar 600 m, dan sampailah kami di lokasi pemakaman elit Poppelsdorfer Friedhof. Sebuah kompleks pemakaman yang tidak terlalu besar, tapi kelihatan eksklusif, sangat asri dan indah.

Begitu sampai di lokasi pemakaman, kami langsung menuju direktori pemakaman untuk melihat siapa saja yang dimakamkan di situ. Tetapi karena Annemarie Schimmel dimakamkan berbarengan dengan keluarga, 8 orang dalam satu kelompok makam, kami tidak menemukan nama Annemarie Schimmel di direktori tersebut. Untungnya almarhumah adalah orang terkenal. Ketika kami menanyakan ke salah seorang pengunjung, segera saja kami mendapat petunjuk yang jelas mana lokasi pemakaman yang ingin kami kunjungi. Sebuah pemakaman yang sangat bagus, bersih dan sangat terawat. Di makam itu tertulis kalimat dalam bahasa Arab dan Jerman sekaligus. Itulah kalimat yang memang diwasiatkan oleh almarhumah untuk dituliskan di batu nisannya. Sebuah kalimat yang singkat, tapi sangat dalam maknanya.

Berbekal foto yang saya peroleh dari google, kemarin sebelum memutuskan pergi ziarah saya menanyakan arti kalimat tersebut ke seorang guru yang sering saya jadikan rujukan. Beliau menterjemahkannya seperti ini:

Kini, banyak manusia dalam keadaan tidur pulas. Barulah ketika mereka meninggal dunia, mereka sadar (apa yang seharusnya mereka lakukan).

Saya tercenung cukup lama membaca kalimat itu. Ada hubungan apa Annemarie Schimmel dengan Syekh Siti Jenar? Kok pendapatnya sama? Syekh Siti Jenar pernah berujar, “Dunia adalah alam kematian!”

Ketika hal yang sama saya tanyakan ke guru saya yang lain, saya malah diingatkan tentang ajaran Imam Ali bin Abi Thalib yang intinya sama saja: “Manusia tidur ketika hidup. Ketika mati, mereka terbangun.”

Wow, 3 orang hebat dari generasi yang sangat berbeda ternyata punya pendapat yang sama! Imam Ali yang hidup di abad 6M, Syekh Siti Jenar di abad 15M, dan Annemarie Schimmel di abad 21M.

Berbekal pemahaman itulah siang tadi saya berziarah ke makam seorang guru bernama Anniemarie Schimmel. Seorang orientalis yang begitu tekun mempelajari Islam dan Sufisme dalam kurun waktu begitu panjang. Sejak usia belasan tahun, hingga akhir hayatnya di usia 80 tahun. Berkat ketekunan dan kesungguhannya dalam mempelajari sufisme, beliau menangkap hal yang paling penting dalam kehidupan manusia.

Berbekal pemahaman itulah siang tadi saya merenung cukup lama di depan makam Annemarie Schimmel, dan mendoakan semoga beliau mendapat tempat terbaik di sisiNya. Amien.

Salam,
Hari