fbpx

Enter your keyword

Buka Puasa Bersama Mizan Jakarta 2018: To Winning The Infinity War

Buka Puasa Bersama Mizan Jakarta 2018: To Winning The Infinity War

“Ramadan tiba, Ramadan tiba, Ramadan tiba, Marhaban ya Ramadan” – Opick

Tak terasa sudah hari ke-11 kita telah menjalani ibadah puasa. Momentum bulan puasa biasanya tidak bisa lepas dengan kebiasaan berbuka puasa bersama. Entah bersama keluarga, teman, atau dengan saudara umat muslim lainnya.

Undangan bukber alias buka puasa bersama pasti sudah bertengger di kalender. Tak terkecuali undangan berbuka puasa bersama kolega kerja.

Jum’at, 25 Mei 2018, Mizan Jakarta menggelar acara buka puasa bersama. Acara ini tak hanya dihadiri oleh seluruh karyawan Mizan yang berada di Jakarta (Jagakarsa, Cirendeu, dan Cilandak), tetapi juga mengundang anak-anak yatim dari Jagakarsa.

Buka puasa bersama dengan tema “Winning The Infinity War” ini diadakan di kantor Mizan Media Utama, Jagakarsa. Acara diawali dengan sholat ashar berjamaah dan sholat ghaib untuk mendoakan kepergian salah satu rekan kami yaitu almarhum Hernowo Hasim.

Selanjutnya acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-qur’an dan saritilawah oleh Ustaz Marzuki dan Adji (Mstore). Para hadirin juga sempat dihibur dengan pertunjukan drama Drakor dari karyawan Mizan Media Utama.

Para anak yatim yang diundang juga diberikan bingkisan berupa kebutuhan sekolah. Acara dilanjutkan dengan Tausyiah yang bertemakan “Winning The Infinity War” oleh Ustaz Abdul Moqsith Ghazali. Sambil menunggu adzan maghrib, acara diisi dengan akustik dari Kedai Sufi dan pembagian doorprize bersama takjil untuk berbuka.

“Winning The Infinity War” menurut Ustad Abdul Moqsith Ghazali

Meski acara dikemas dengan sederhana, namun keceriaan serta makna dalam silaturahmi ini dapat tersampaikan dengan baik. Ustaz Abdul Moqsith Ghazali membawa makna itu lebih dalam dengan tausyiahnya yang membahas tentang bagaimana memenangkan peperangan yang tak usai dalam umat muslim.

Meski Indonesia ini bukan Negara Islam, tapi umat Islam diberi kebebasan oleh Negara untuk menjalankan syariat Islam secara penuh. Ga ada larangan untuk umat Islam berpuasa, untuk sholat tahajud, untuk sholat dhuha, tidak ada larangan.” Ujar Ustaz Abdul Moqsith Ghazali membuka tausyiahnya.

Menurutnya, umat Islam di Indonesia justru dimanja oleh Negara dengan banyaknya undang-undang atau peraturan yang memudahkan umat Islam. Oleh karena itu, melihat kejadian tragedi bom yang belum lama ini terjadi di Indonesia, bagi Ustaz Abdul Moqsith, mereka justru menyalahi syariat Islam. Apalagi ditambah dengan korban yang berjatuhan seperti satpam, polisi, dan sebagainya yang juga sesama umat Islam.

Ustaz Abdul Moqsith juga memberikan contoh perbedaan diantara sesama umat Islam yang kadang menimbulkan konflik seperti perbedaan hari dimulainya puasa atau waktu berbuka puasa, hingga kewajiban berjenggot namun sebagian orang yang memang tidak memiliki hormon untuk menumbuhkan jenggotnya.

Baginya, “perbedaan diantara umat Islam ini tidak menyentuh esensi ajaran agama. Tapi sering kali berantem satu sama lain. Ini apa yang diperebutkan? Padahal Nabi nya sama, Qur’annya sama. Kenapa umat Islam selalu berselisih yang menghabiskan energi sesama umat Islam,” ujarnya.

Apalagi asal-usul kita ini sama. Seluruh tarekat yang berkembang di Indonesia ini berasal dari Ja’far Ash Shadiq. Jadi kalau mau berperang suni misal, berperang apa?” lanjutnya. “Karena itu tidak layak umat Islam melibatkan diri berperang dengan sesama umat Islam karena perbedaan-perbedaan. Tidak ada gunanya berperang sesama umat Islam,” ujar Ustaz Abdul Moqsith.

Lalu peperangan apa yang penting kita perjuangkan, yang penting kita menangkan? Perang untuk menghadapi keterbelakangan sesama umat Islam.” Ujar Ustaz Abdul Moqsith.

Ustaz Abdul Moqsith menyontohkan bahwa di daerah Jawa Timur, masih banyak umat Islam yang belum bisa membaca dan menulis. Menurutnya, hal itu yang seharusnya diperjuangkan oleh sesama umat Islam. Baginya, kita seharunya hidup di jalan Allah, bukan mati di jalan Allah. Karena jika kita hidup di jalan Allah, maka matinya sudah pasti di jalan Allah.