Masukkan kata kunci Anda

Upaya Sederhana untuk Membentuk Matra Pemikiran Islam di Indonesia Itu Bernama Mizan

Upaya Sederhana untuk Membentuk Matra Pemikiran Islam di Indonesia Itu Bernama Mizan

*Artikel dalam buku Milad Mizan ke-15 tahun 1998

Upaya Sederhana untuk Membentuk Matra Pemikiran Islam di Indonesia Itu Bernama Mizan

Sebermula kisah, pada awal Maret 1983, adalah beberapa anak muda yang belum lagi menuntaskan kuliah-kuliahnya. Terdorong oleh pengenalan akan wujudnya kehausan buku-buku Islam bermutu di kalangan orang-orang Muslim, dan keasyikan membaca serta sekadar kemampuan menulis, mereka menancapkan keinginan untuk terjun ke dunia buku. Maka, bukannya tanpa waswas, dikibarkanlah Mizan—sebuah nama yang dipilih guna menayangkan misi untuk ikut, sebisanya, dalam upaya pengembangan informasi serta sikap adil (fair) dan objektif atas berbagai aliran, mazhab, dan pemikiran yang berkembang di kalangan persatuan dan persaudaraan besar Islam.

Mizan bukan lain berarti timbangan atau kesetimbangan (equilibrium). Secara epistemologis, itu berarti upaya—seperti perintah sebuah hadis—memungut hikmah, sebagai barang peninggalan kaum Muslim yang hilang, di mana saja ditemukan. Harapannya adalah sebuah ummah yang padu, kukuh, dewasa, terbuka, dan kaya (gagasan).

Tetapi itulah khayalan yang agak terlalu besar untuk orang-orang yang masih hijau; miskin kemampuan dan miskin pengalaman. Maka, pada tahap-tahap awal, kami seperti meraba-raba dalam kegelapan. Tambahan pula, ada tugas menarik perhatian konsumen potensial, yang mesti diselenggarakan oleh sebuah usaha baru. Maka yang tampak kemudian adalah tidak tegasnya jalur produk (produk line) Mizan: tidak jelasnya kriteria pemilihan judul-judul—pada waktu itu, yang kami terbitkan adalah buku-buku terjemahan yang aslinya berbahasa Arab dan Inggris. Tetapi, pelan-pelan, konsep pun menjadi jelas, mutu pun terkatrol, bukan hanya di bidang editorial, tetapi juga di bidang penampilan fisik buku. Maka, bersama makin luasnya kontak-kontak kami—watak ke-Mizan-an mulai tampil dalam pilihan judul-judul dan penampilan fisik buku kami.

Merekam Dinamika Islam Indonesia

Perkembangan paling penting, yang mulai tampak jelas sejak awal 1987, adalah penerbitan serial penulis dan pemikir Islam di Indonesia bahkan dalam waktu dan kelajuan lebih cepat dari yang kami duga. Hingga usia kami mencapai sepuluh tahun ini, tercatat ada sekitar dua puluhan buku berlabel Seri Cendekiawan Muslim Indonesia—demikian nama yang kami terakan pada buku-buku ini. Buku-buku tersebut ternyata menarik minat para konsumen buku Mizan baik di dalam negeri maupun luar negeri. William R. Roff, dalam Journal of Southeast Asian Studies XXI, 2, (1990), mencoba melakukan analisis-ringkas atas Seri Cendekiawan Muslim Indonesia yang terbit pada kurun waktu tersebut. Di antara para cendekiawan Muslim Indonesia yang karya-karyanya telah kami terbitkan tercatat nama-nama berikut ini: Fachry Ali, Bachtiar Effendy, Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rakhmat, A.M. Saefuddin, M. Amien Rais, Emha Ainun Nadjib, Kuntowijoyo, M. Dawam Rahardjo, Fuad Amsyari, Taufik Adnan Amal, M. Riza Sihbudi, M. Quraish Shihab, dan H.A. Mukti Ali.

Di samping mengumpulkan tulisan-tulisan para cendekiawan Muslim Indonesia, kami mencoba pula mengundang para sarjana dan ulama Islam yang kompeten di bidangnya untuk terlibat dalam semacam seminar tertulis yang membahas tema-tema penting dan aktual. Dua judul rintisan telah terbit: Satu Islam Sebuah Dilema (kumpulan tulisan tentang ukhuwah Islamiah) yang di dalamnya terdapat nama-nama: Lukman Harun, Ali Audah, dan Ijtihad dalam Sorotan yang di dalamnya terdapat nama-nama: Munawir Sjadzali, Harun Nasution, Ali Yafie, I. Zainal Abidin, Ibrahim Hosen. Sementara itu, yang sedang kami persiapkan adalah karya-karya pemikiran K.H. Ahmad Azhar Basyir, K.H. Ali Yafie, dan A. Syafii Maarif.

Kami sadar, upaya semacam ini masih sangat kecil dibandingkan dengan tujuan yang hendak kami gapai: merangsang para sarjana dan ulama Islam untuk menuangkan gagasan-gagasannya dalam bentuk buku. Apa yang kami lakukan baru sampai taraf pengumpulan gagasan-gagasan dan tulisan-tulisan yang berserakan.

Membentuk Matra

Upaya-upaya ini, tanpa sepenuhnya kami sadari, melahirkan bentuk-bentuk kegiatan lain yang tak kalah penting. Bersama-sama dengan kelompok-kelompok studi, lembaga-lembaga masyarakat, perguruan-perguruan tinggi, dan media-media massa, Mizan memunculkan bentuk-bentuk kegiatan dalam rangka merangsang tumbuhnya matra baru Islam di Indonesia—yaitu Islam yang dipahami secara bertanggung jawab, canggih (sophisticated), dan hidup (selalu tanggap terhadap tantangan zaman) sekaligus inklusivistik (mengambil sumber pemikiran dari mana pun asalnya). Sekadar contoh, dengan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF) Jakarta, Mizan telah mengadakan dua kali diskusi panel: pertama, tentang pemikiran empat tokoh Islam (Dr. M. Amien Rais, Drs. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc., Dr. Nurcholish Madjid, dan Dr. A.M. Saefuddin), yang melibatkan juga pemikir-pemikir Islam terkemuka lainnya.

Kami pula yang, dengan memanfaatkan momen kunjungannya ke Indonesia, telah menghadirkan Syed Naquib Al-Attas—pemikir Islam Malaysia berkaliber internasional, pengarang Konsep Pendidikan dalam Islam yang kami terbitkan—untuk menyampaikan ceramah ilmiahnya di Bandung dan Jakarta (Agustus 1987). Pada Juli 1988, giliran Ziauddin Sardar—futurolog Muslim terkemuka—kami hadirkan ke hadapan para peminat-beratnya di negeri ini. Materi buku: Tantangan Dunia Islam Abad 21: Menjangkau Informasi, yang edisi Indonesianya kami terbitkan, menjadi menu-utama ceramah ilmiahnya. Dan pada Juni 1993 ini kami bekerja sama dengan Yayasan Paramadina dan Yayasan Festival Istiqlal, menghadirkan Seyyed Hossein Nasr.

Masih dengan LSAF, Mizan juga mengangkat buku-buku klasik karya ulama Indonesia ke permukaan. Yang telah beredar adalah Warisan Intelektual Islam Indonesia. Juga sekaligus untuk mendorong upaya-upaya kegiatan sosial—sekarang populer dengan dakwah bil hal—telah menerbitkan Kemiskinan dan Keterbelakangan di Negara-Negara Muslim, sebagai hasil kerja sama dengan Yayasan Tunas Bangsa di Bandung. Dan pada akhir 1992, bekerja sama dengan Masyarakat Indonesia untuk Studi-Studi Islam (MISSI) yang berkedudukan di Jakarta, kami menerbitkan buku karya Presiden Bosnia, ‘Alija ‘Ali Izetbegovic, Membangun Jalan Tengah: Islam antara Timur dan Barat. Dalam upaya penerbitan ini, kami juga ikut menyumbangkan hasil penjualan buku tersebut—sebesar 10% dari harga jual—kepada kaum Muslim Bosnia-Herzegovina.

Selain dengan lembaga-lembaga, Mizan juga merintis penerbitan karya-karya penelitian yang dilakukan oleh individu-individu serius yang nantinya diterbitkan dalam bentuk buku. Hal ini dimaksudkan untuk mengundang para peneliti, bahkan para profesional Muslim, untuk menghasilkan karya penelitian terapan tentang ajaran-ajaran Islam di pelbagai bidang.

Di kalangan perguruan tinggi, kami juga merintis penerbitan-penerbitan skripsi yang digarap serius oleh para mahasiswa Muslim. Judul rintisan untuk jenis buku ini adalah Islam dan Tantangan Modernitas karya Taufik Adnan Amal, yang membahas pemikiran hukum Fazlur Rahman. Judul skripsi lain yang saat ini sedang kami persiapkan adalah karya almarhum Drs. Widji Saksono berjudul Strategi Dakwah Walisongo.

Masih ada satu lagi. Demi menjadikan gagasan-gagasan segar di bidang pemikiran Islam tidak sekadar beredar di kalangan segelintir elite intelektualnya, Mizan juga merintis upaya penerbitan hasil-hasil seminar yang pernah dan akan diadakan oleh berbagai organisasi Islam di negeri ini. Untuk maksud ini, kami terbitkan Percakapan Cendekiawan tentang Pembaharuan Pemikiran Islam di Indonesia, yang di dalamnya terdapat nama-nama Rifyal Ka‘bah, Zainun Kamal, Djohan Effendi, dan beberapa cendekiawan Muslim Indonesia lainnya. Kerja sama semacam ini kemudian melebar ke arah penerbitan sebuah jurnal. Dengan Yayasan Muthahhari, Bandung, pada akhir 1991, kami mencoba melahirkan jurnal studi-studi Islam Al-Hikmah. Hingga awal 1993, sudah delapan edisi kami terbitkan. Pada 1993, bekerja sama dengan kelompok MISSI (Masyarakat Indonesia untuk Studi-Studi Islam), Jakarta, kami pun mulai menerbitkan jurnal dialog pemikiran Islam Islamika. Jika Al-Hikmah lebih memusatkan pembahasan pada pelik-pelik masalah dalam perspektif studi-studi Islam tradisional, maka Islamika—masih dalam perspektif studi Islam—lebih menyoroti perkembangan kecenderungan aktual dan kontemporer.

Ragam Karya buat Semua

Dalam perjalanan kami hingga mencapai usia sepuluh tahun ini, kami pun telah mencoba mengembangkan dua bidang kegiatan baru, yaitu penerbitan buku anak-anak berikut produk-produk mainannya dan pengembangan terbitan buku-buku Al-Bayan. Untuk pengembangan kegiatan pertama, alhamdulillah, pelbagai aneka produk—berupa buku, alat peraga, alat permainan, dan sarana penunjang belajar anak lainnya—telah kami edarkan. Produk-produk ini kami desain dan kemas dengan gaya mutakhir sehingga mutunya tidak kalah dengan produk-produk sejenis yang beredar di masyarakat.

Untuk pengembangan kegiatan yang kedua, kami mencoba menerbitkan buku-buku yang tema-temanya lebih ringan dan praktis, lagi murah harganya sehingga dapat dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat di Indonesia. Buku-buku yang kami terbitkan melalui Al-Bayan, misalnya, berjudul Ajaran Islam tentang Perawatan Anak, Wanita Islam Menyongsong Abad 21, dan beberapa kisah teladan para sufi. Melalui Al-Bayan ini, kami bermaksud menggantung cita-cita kami, yaitu suatu saat kelak dapat memproduksi buku dengan biaya yang dapat dijangkau oleh kalangan masyarakat bawah. Dengan begitu, upaya untuk merangsang masyarakat luas agar dapat menuntut ilmu (belajar) dengan mudah dan dengan biaya murah selekasnya dapat terwujud.

Sebuah Penerbitan, Sebuah Budaya

Semuanya itu, memberikan pada Mizan sesuatu yang bahkan berada di luar khayalan kami. Mizan, pelan-pelan dan bersama-sama penerbit buku Islam dan lembaga Islam lainnya, tampil sebagai semacam pembentuk matra (trend setter) pemikiran Islam di Indonesia. Itulah suatu gelaran yang terlalu besar untuk keterbatasan-keterbatasan kami meski, tak urung, membanggakan. Segala puji bagi Allah.

Akhirnya, lebih dari sebuah penerbitan biasa, kami berupaya sebatas kemampuan—dalam masa-masa ekonomi sulit dan rendahnya minat baca seperti sekarang ini—untuk ikut memberikan kontribusi di dalam pengembangan budaya-buku, bahkan budaya pengembangan pemikiran Islam. Tak ubahnya seperti mengembangkan prestasi zaman keemasan Islam, dengan institusi warraq (para penerjemah profesional), dan dengan bayt al-hikmah (perpustakaan-perpustakaan bersama perangkat penelitiannya), dengan izin Allah.

[red]