Masukkan kata kunci Anda

The Message of the Quran: Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Quran Muhammad Asad

The Message of the Quran: Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Quran Muhammad Asad

The Message of the Quran: Pertemuan Saya dengan Tafsir Al-Quran Muhammad Asad

oleh: Haidar Bagir

Tidak jarang orang atau media dengan gampang mengatributkan identitas “intelektual atau pemikir Islam”, atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”, kepada saya. Kalaupun ada yang benar—sesedikit apa pun—dalam atribusi itu, kali ini saya ingin memastikan kepada Anda bahwa penulis pengantar ini adalah seorang awam di bidang ilmu tafsir. Maka, komentar-komentar saya tentang The Message of the Quran harus dilihat sebagai komentar-komentar seorang Muslim yang bisa berpikir—sebutlah inteligen, kalau mau—terhadap karya Muhammad Asad ini. Bukan komentar seorang “intelektual atau pemikir Islam” atau bahkan “ahli filsafat dan tasawuf Islam”.

Lebih dari itu, posisi saya bukanlah pengamat atau pelajar di bidang tafsir, melainkan sebagai semata-mata seorang Muslim pengguna, yang memang sudah lama mendambakan adanya suatu karya tafsir Al-Quran yang ringkas—sehingga handy (praktis) dan dapat membantu kita memahami isi Al-Quran kapan dan di mana saja—tetapi, pada saat yang sama, dapat menyampaikan kepada kita makna Kitab Suci ini secara masuk akal (makes sense) serta relevan dengan konteks kekinian kita.

Inilah persis sebagian dari kelebihan-kelebihan The Message of the Quran di mata saya, dibanding buku-buku tafsir ekspansif terkemuka seperti Fî Dzilâl Al-Qur’ânNûr Al-Qur’ânAl-MîzânAl-Mishbâh, dan sebagainya—betapapun kesemuanya memiliki beberapa sifat kelebihan The Message of the Quran dalam hal kualitas dan relevansinya. Baiklah, di bawah ini agak saya perinci.

Pertama, berbeda dengan banyak tafsir Al-Quran lainnya, tafsir ini ringkas, hampir-hampir seperti sekumpulan catatan-catatan kaki yang diperluas sedemikian, sehingga dapat diatur agar selalu muat dalam halaman yang sama dengan pemuatan lafaz asli ayat dalam bahasa Arab dan terjemahannya. Ringkasnya tafsir ini memungkinkan penggunanya untuk mengaji dan mengkaji pada waktu yang sama. Sebelum ini, kecuali dengan beberapa jenis tafsir al-muyassar yang sudah pernah terbit (dalam bahasa Arab), orang harus memilih untuk mengaji—membaca Al-Quran biasa (untuk mendapatkan berkah dan pahala)—atau mengkaji tafsirnya. Yang pertama biasanya dilakukan dengan menggunakan mushhaf Al-Quran biasa, paling banter yang dilengkapi terjemahan. Sementara yang kedua memerlukan buku-buku tafsir yang panjang-panjang, sehingga menjadikan kegiatan mengaji biasa akan berjalan sangat lambat, kalau tak malah mustahil sama sekali akibat kita harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca tafsir panjang ayat per ayat. Dengan The Message of the Quran, persoalan ini terpecahkan.

Namun, ringkasnya tafsir ini sama sekali tak berarti dangkal. Sebaliknya, tafsir dalam The Message of the Quran bukan hanya cukup mendalam, melainkan juga—umumnya—selalu diupayakan agar merujuk pada tafsir-tafsir tradisional yang sudah diakui, seperti tafsir Al-Thabarî, Ibn Katsîr, Al-Zamakhsyarî, Al-Râzî, Al-Baghawî, Al-Baidhâwî, dan sebagainya. Inilah kelebihan kedua dari The Message of the Quran.

Masih terkait dengan ini, kelebihan ketiga dari The Message of the Quran terletak pada pendasarannya atas penelitian bertahun-tahun dan mendalam yang dilakukan penulisnya atas berbagai tafsir tradisional, hadis, sejarah Rasul, bahkan juga Bibel (hampir-hampir tak perlu diingatkan lagi bahwa Muhammad Asad—yang bernama asli Leopold Weiss—sebelum masuk Islam adalah pengikut agama Yahudi, berasal dari keluarga rabi Yahudi dan sejak kecil telah mempelajari kitab-kitab Yahudi, MishnahGemaraTargum, dan lain-lain, dalam bahasa Ibrani). Bukan saja dia melakukan penelitian yang amat mendalam, penulis yang awalnya berprofesi sebagai wartawan ini bahkan sampai sejauh melakukan penelitian bahasa Arab di kalangan suku Badui di Semenanjung Arabia. Khususnya, suku-suku yang tinggal di wilayah Arabia Tengah dan Timur, yang dipercayai masih memelihara tradisi berbahasa Arab yang paling dekat dengan bahasa Arab yang dipakai pada zaman Rasulullah Saw.—yakni, ketika Al-Quran diturunkan dan dipahami pada awalnya.

Keempat, dan bagi saya ini benar-benar kelebihan (bukan kelemahan sebagaimana sebagian orang mungkin akan melihatnya) The Message of the Quran, Asad berupaya sedapat mungkin untuk bersikap rasional dalam membaca dan memahami ayat-ayat Al-Quran. Boleh jadi bahkan cenderung rasionalistik di beberapa bagian. Akan tetapi, hal ini sama sekali tak berarti bahwa Asad adalah seorang rasionalis ekstrem. Tak usah terlalu jauh, bahkan sejak ayat-ayat pertama dalam Surah Al-Baqarah, Asad telah menyampaikan posisinya ketika menafsirkan ayat ke-3 surah itu bahwa Kitab Suci ini hanya bisa dipahami (dibaca dan diambil manfaatnya) oleh orang-orang yang percaya pada yang gaib. Penjelasan Asad atas konsep “yang gaib” ini menarik untuk diulas serba-sedikit. Di satu sisi, dia dengan tegas menyatakan bahwa setiap orang beriman yang membaca Al-Quran harus percaya terhadap suatu wilayah yang berada di luar jangkauan akal manusia. Atau, dalam bahasa Asad adalah sebagai berikut:

Al-ghaib … digunakan dalam Al-Quran untuk menunjukkan segala bidang atau tahapan realitas yang berada di luar jangkauan persepsi manusia dan, karena itu, tidak dapat dibuktikan atau disangkal oleh pengamatan ilmiah (sains), atau bahkan tidak dapat dimasukkan secara memadai ke dalam kategori-kategori umum dalam pemikiran spekulatif: misalnya, keberadaan Tuhan, adanya tujuan hakiki yang mendasari alam semesta, hidup setelah mati, hakikat waktu, adanya kekuatan-kekuatan spiritual dan interaksinya, dan sebagainya. Hanya orang yang yakin bahwa realitas tertinggi itu jauh melampaui wilayah yang dapat kita amati-lah yang dapat mencapai iman kepada Allah dan, karena itu, sampai pada keyakinan bahwa hidup itu memiliki makna dan tujuan. Dengan menunjukkan bahwa ia merupakan ‘suatu petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada adanya hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia’, pada dasarnya Al-Quran mengatakan bahwa dirinya—pasti—akan tetap tertutup bagi pikiran orang-orang yang tidak dapat menerima premis mendasar ini.”

Namun, di sisi lain, dia juga menegaskan kesalahan orang yang memahami “yang gaib” sebagai menunjuk kepada apa-apa “yang tak terlihat”, mungkin juga yang berada di luar persepsi pancaindra belaka—atau, dengan kata lain, di luar kemampuan penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapan manusia. Justru, dalam karyanya ini, tampak betapa Asad ingin mencoba menafsirkan berbagai peristiwa yang disebutkan dalam Al-Quran sebagai terkesan berada di luar penjelasan empiris dengan cara menjelaskan yang sesuai dengan pengalaman empiris. Tentu dengan keyakinan bahwa hukum-hukum yang mengatur alam empiris adalah hukum-hukum Allah (sunnatul-Lah). Dalam hal ini, Asad dapat dikatakan, melanjutkan Sayyid Ahmad Khan, sebagai seorang naturalis. Orang yang percaya sepenuhnya bahwa segala fenomena yang terjadi di dunia ini sepenuhnya diatur oleh apa yang biasa disebut sebagai “hukum alam”.*

Sebagai contoh, ketika menjelaskan kisah terbelahnya Laut Merah—dan penutupan-kembalinya—dalam peristiwa pengejaran Nabi Musa a.s. dan pengikutnya oleh tentara Fir‘aun, Asad kurang-lebih menisbahkannya pada peristiwa alam pasang surut permukaan air laut yang biasa. Yakni, ketika Musa a.s. dan pengikutnya lewat, permukaan laut mengalami gejala surut. Sebaliknya, ketika Musa a.s. dan pengikutnya telah lewat, dan giliran Fir‘aun dan tentaranya lewat, permukaan laut mengalami gejala pasang. (Lihat catatan no. 35 pada Surah Al-Syu‘arâ’ [26].—peny.) Alhasil, meski pasti bukan mistis (yakni bukan ta’wîl atau tafsir isyari) dan bukan juga filosofis, tafsir Asad sama sekali juga bukan tafsir literal.

Kelima, penafsiran-penafsiran Asad terasa sangat relevan dengan konteks kekinian. Dengan kata lain, ayat-ayat Al-Quran di tangan Asad tidak tinggal sebagai suatu kitab kuno yang anakronistik. Uraiannya tampak sekali diupayakan untuk beresonansi dengan situasi dan kondisi kontemporer dan kebutuhan orang-orang yang hidup pada zaman ini. Jadi, sebaliknya dari mengesankan kekunoan, tafsir Asad menampilkan Kalam Allah “yang hidup”.

Keenam, yang ini harus segera saya akui amat subjektif, saya—meski tentu tidak begitu saja menyetujui semua pemahaman Asad (mana mungkin hal seperti ini terjadi di dunia pemikiran)—merasa mendapati banyak kesejalanan dengan pandangan-pandangannya dalam menafsirkan berbagai ayat Al-Quran yang maknanya bisa diperselisihkan. Sejalan dengan itu, saya merasa pandangan-pandangan Asad lebih memungkinkan bagi perumusan pemahaman terhadap ajaran Islam yang progresif dan terbuka, tapi pada saat yang sama tetap autentik. Mari kita ambil contoh pandangan Asad terhadap berbagai agama di luar Islam.

Asad sepenuhnya sejalan dengan pemahaman umum kaum Muslim berdasar pernyataan-pernyataan yang tegas dalam Al-Quran mengenai kebenaran agama-agama lain di luar Islam. Dia tidak ragu untuk menyatakan bahwa, bersama waktu, ajaran-ajaran agama lain—meski berasal dari Pemilik Firman yang sama dengan Yang Menurunkan Al-Quran—telah mengalami modifikasi-modifikasi dan distorsi-distorsi yang menyebabkan penyimpangan dari ajaran-aslinya (lihat misalnya catatan no. 60 dan 144 pada Surah Âlu ‘Imrân [3]—peny.). Tapi, bukan saja dia percaya pada kesamaan-sumbernya, Asad—mendasarkan diri pada Al-Quran juga—percaya bahwa pemeluk agama lain, selama beriman kepada Allah, beriman pada Hari Pengadilan, dan beramal saleh, akan mendapatkan keselamatan sebagaimana orang Muslim (yang baik-baik). (Lihat catatan no. 50 pada Surah Al-Baqarah [2]: 62 dan catatan no. 20 pada Surah Al-Hajj [22].—peny.) Pandangan Asad ini sejalan dengan keyakinan saya selama ini tentang perlunya kita membedakan antara “kebenaran” dan “keselamatan”. Kita, sebagaimana pemeluk agama lain, bisa saja percaya pada kebenaran agama kita vis a vis penyimpangan dari kebenaran oleh agama-agama lain. Tapi, hal ini tak harus menjadikan kita beranggapan bahwa pemeluk agama-agama lain itu tak selamat.

Ketujuh, dan ini adalah kelebihan yang sekaligus mencakup semua kelebihan tafsir Asad, The Message of the Quran, ini. Seperti saya singgung sebelumnya, karya Asad ini telah menjadikan Al-Quran sebagai kumpulan firman Allah yang masuk akal (makes sense). Cukup lama kaum Muslim dihadapkan pada penafsiran-penafsiran tradisional yang sering kali sulit diterima akal sehat dan, sebagai konsekuensinya, orang cenderung diminta menerimanya secara apa adanya dengan menyatakan bahwa ia harus diimani tanpa tanya. Pendekatan seperti ini hanya menjadikan Al-Quran sebagai Kitab Suci yang bukan saja “mati”, melainkan juga dapat mengukuhkan kecenderungan irasionalitas orang-orang beragama—dalam kasus ini, orang-orang Muslim. Malah, bagi yang skeptis, hal ini dapat berakibat terjadinya kehilangan kepercayaan pada kebenaran Al-Quran. Di sinilah menurut saya sumbangan terbesar The Message of the Quran bagi dakwah Islam, dan bagi pembangunan kebudayaan dan peradaban Islam yang progresif, terbuka, tapi tetap autentik.

Tidak dengan demikian, seperti saya singgung sebelumnya, tak ada bagian-bagian dari tafsir Asad yang membuka peluang bagi kritik dan perbedaan pendapat. Sebagian sebagai akibat pendekatan rasional Asad. Mari kita ambil contoh.

Dalam menafsirkan ayat yang diulang-ulang dalam Surah Al-Rahmân (surah ke-55), yakni:

“Dan âlâ’ mana lagi yang kamu sangkal?”

Asad, tidak seperti makna yang diberikan oleh para ahli tafsir pada umumnya, menerjemahkan kata âlâ’ sebagai “kuasa Pemeliharamu”, dan bukan “nikmat”.

Alasannya mudah diduga. Dalam surah yang sama, Allah menyebut bentuk-bentuk siksa neraka tertentu sebagai âlâ’ berarti karunia (QS Al-Rahmân [55]: 36-37). Bagaimana mungkin ‘adzâb diidentikkan dengan nikmat? Dalam hal ini, sifat eksklusif rasional tafsir Asad rupanya telah menghalanginya untuk melihat kemungkinan makna lain. Dalam hal ini menurut kacamata metode takwil tasawuf. Ya. Jika dilihat dari sudut pandang ini, persisnya dari sudut pandang “takwil kasih sayang” (hermeneutics of mercy) ala Ibn ‘Arabi, tak sulit untuk melihat sisi lain ‘adzâb sebagai nikmat yang lahir dari kasih sayang Allah. Bagaimana bisa?

Sebelum yang lain-lain, kata ‘adzâb berasal dari kata ‘a-dz-b, yang bisa membentuk kata ‘adzib, berarti “rasa manis yang menyegarkan”. Demikian pula kata nâr (neraka) memiliki akar kata yang sama dengan nûr (cahaya). Bedanya, nâr memiliki sifat panas-membakar. Tapi, sifat-dasarnya menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.

Dengan kata lain, meski panas-membakar, siksa berfungsi untuk memberi petunjuk kepada orang-orang berdosa, untuk menyucikan mereka dari dosa-dosa mereka. Tujuannya tidak lain adalah untuk mempersiapkan mereka kembali kepada-Nya, masuk surga-Nya. Itu sebabnya, siksaan—sebagaimana diungkap dalam ayat-ayat Surah Al-Rahmân yang dikutip sebelumnya—layak disebut sebagai nikmat.

Lepas dari itu, saya amat bersyukur telah menemukan The Message of the Quran ini. Sebagai seorang Muslim yang ingin terus meningkatkan keimanan dan penguasaannya atas ajaran-ajaran agama Islam, membaca Al-Quran dengan tafsir oleh Muhammad Asad telah menjadi penawar yang luar biasa bagi dahaga saya selama ini. Bukan hanya dahaga rasional dan intelektual, melainkan juga—bahkan terutama—dahaga spiritual saya. Telah lama, dalam segenap keimanan saya pada Islam dan Al-Quran, pemikiran saya tak pernah sepenuhnya terbebas dari semacam skeptisisme (belakangan saya memahami bahwa hal ini terjadi antara lain karena saya tak cukup “akrab” dengan Al-Quran, disebabkan antara lain saya merasa belum mendapatkan tafsir yang dapat memuasi pemikiran saya).

Kepada beberapa orang, saya katakan bahwa, at this point, tampaknya tak kurang dari suatu pengalaman religius (religious experience) atau pengalaman sufistik yang sedikit-banyak “ajaib” yang bisa menyembuhkan saya dari “derita” skeptisisme intelektual dan spiritual saya. Lewat The Message of the Quran, saya dipertemukan dengan firman Allah yang menyadarkan saya tentang kekeliruan dalam cara berpikir saya. Yakni, bahwa jika kita akrab dengan Al-Quran—yang notabene adalah buku ilmu pengetahuan rasional dan spiritual, pengingatan (dzikr), serta “penawar bagi manusia” (syifâ’ li al-nâs) atau penawar (kegelisahan-kegelisahan) yang berada dalam hati (syifâ’ mâ fî al-shudûr)—apa yang meragu-ragukan itu akan mendapatkan jawabannya.

“Dan, [hanya] orang-orang yang tak berpengetahuan[lah yang] berkata, ‘Mengapa Allah tidak berbicara kepada kami dan tidak pula ada suatu tanda [yang menakjubkan] ditunjukkan kepada kami?’ Demikianlah, orang-orang yang hidup sebelum zaman mereka pun mengatakan seperti yang mereka katakan: hati mereka serupa. Sungguh, Kami telah menjadikan semua tanda-tanda tampak jelas bagi orang-orang yang dianugerahi keyakinan batin yang mendalam.” (QS Al-Baqarah [2]: 118)

Membaca Al-Quran bersama Asad ternyata tak kurang dari merasakan pengalaman religius sedemikian.

Penerbitan The Message of the Quran dalam bahasa Indonesia ini mudah-mudahan dapat menyebarkan perasaan “kepuasan intelektual dan spiritual” seperti yang saya alami ini kepada para pembaca yang lain. Dan untuk itu, mari kita sampaikan terima kasih kepada Muhammad Asad seraya berdoa semoga karyanya ini dapat menjadi argumentasi (burhân)-nya di hadapan perhitungan (hisâb)-Nya, dan melempangkan jalan bagi kembalinya Asad kepada-Nya, ke dalam surga-Nya. Semoga Allah Swt. terus mencurahkan rahmat-Nya kepada ruh Muhammad Asad. Dan, semoga kita semua dapat mengambil manfaat sebesar-besarnya bagi pengetahuan kita tentang firman-firman-Nya yang termuat dalam Kitab Suci-Nya ini. Amin, ya Rabb Al-‘Âlamin.
Jakarta, 29 Maret 2009