Masukkan kata kunci Anda

The Art of Giving Back: Sebuah Seni untuk Merayakan Rasa Syukur dengan Memberi

The Art of Giving Back: Sebuah Seni untuk Merayakan Rasa Syukur dengan Memberi

The Art Of Giving Back – Nila Tanzil

Nila Tanzil, perempuan yang sebelumnya menghabiskan waktunya dalam dunia korporasi, kini dikenal sebagai pendiri Taman Bacaan Pelangi—organisasi non profit yang telah memberi manfaat kepada lebih dari 30.000 anak, mendistribusikan lebih dari 300.000 buku, dan mendirikan 104 perpustakaan di Indonesia Bagian Timur.

Nila menyalurkan kegelisahan dan pengalaman hidupnya menjadi apa yang dia sebut, The Art of Giving Back, sebuah seni untuk merayakan rasa syukur dengan memberi. Dalam buku ini, Nila bercerita dengan sangat lepas, hangat, tetapi mampu menggelitik sisi “generous” dalam diri, mengingatkan kita pada tulisan-tulisan Ajahn Bram dan Gobind Vashdev.

Melalui kisah-kisah berbalut gurau yang ia tuliskan, Nila ingin meyakinkan lebih banyak orang bahwa kebiasaan memberi  bisa diubah menjadi sebuah lifestyle.  She wants to make us believe in the art of giving back is contagious, addictive, and powerful.

Pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini:

Being generous atau menjadi seseorang dengan jiwa dermawan dan murah hati itu bisa ditumbuhkan.

Bagaimana caranya?

Berdasarkan pengalaman, aku bisa bilang bahwa ini gampang. Seperti bibit bunga yang ditanam dan disirami terus setiap hari, lambat laun tanaman itu akan tumbuh dan akhirnya muncul bunga yang mekar dengan indah. Nah, untuk memiliki sifat “generous”, aku percaya hal ini bisa ditanamkan sejak usia dini. Saat seorang anak kecil sering diajari orang tua untuk berbagi kepada sesama, melihat orang tua melakukan hal tersebut, dan diingatkan untuk terus berbuat seperti itu dalam masa pertumbuhan mereka, kelak nilai tersebut akan tertanam baik dan bertumbuh. Akhirnya, anak itu akan memiliki sifat “generous”, senang berbagi kepada orang lain yang membutuhkan.

Mengapa memiliki sifat ini menjadi penting? Menurutku, hidup akan lebih indah jika kita bisa berbagi kepada sesama. Hidup akan lebih bermakna jika yang kita lakukan bisa berguna bagi orang lain. Jika satu orang berbuat baik kepada orang lain dan mampu membawa perubahan positif, bayangkan saat seratus orang melakukan hal yang sama kepada orang-orang di sekitar mereka. The impact will be powerful! Bayangkan lagi jika berbuat baik ini menjadi bagian dan lifestyle dalam hidup mereka. Can you even imagine how big the impact will be? It will be HUGE! The whole society might change! Aku percaya bahwa kita semua pada dasarnya baik. Mungkin terdengar naif, tetapi percaya deh, pasti ada satu sisi kebaikan dari setiap manusia. Iya, kan? Nah, sisi yang baik itulah yang harus disirami setiap hari, karena di dalamnya hidup sifat generous yang berpotensi membawa perubahan positif terhadap lingkungan sekitar. Aku juga percaya bahwa perbuatan baik itu menular. Jika kita melihat seseorang berbuat baik, pasti akan timbul keinginan untuk berbuat baik juga. Ya, kan? Misalnya, jika ada yang memberi kita sepotong kue, pasti muncul perasaan di dalam hati untuk membalas pemberian orang tersebut. Setidaknya kebaikan orang itu akan terus terkenang dan jika suatu saat ada kesempatan untuk membalas, kita akan dengan senang hati berbuat baik kepada orang itu.

Nah, di dalam buku ini aku akan sharing berbagai pengalaman menginspirasi tentang The Art of Giving Back yang aku katakan sebagai sebuah seni untuk menularkan dan membagi kembali kebahagiaan yang kita dapat dari semesta kepada orang lain. Topik ini kerap aku sampaikan di beberapa forum, termasuk Ubud Writers & Readers Festival.

Apa, sih, gunanya memahami The Art of Giving BackWell, it’s really, really important for me, because I believe that giving is contagious, addictive, and powerful. Aku berharap, lewat buku ini, aku bisa berbagi pengalaman tentang perjalananku dapat memiliki kebiasaan untuk memberi dan berbagi sehingga pada akhirnya hal tersebut menjadi lifestyle dalam hidup sehari-hari. Why not?

Kata pepatah, “Lebih baik memberi daripada menerima.” Bersyukurlah jika kita bisa berada di posisi “memberi”, dan aku percaya siapa pun bisa menempati posisi ini. Solet’s start giving back! And … get ready to be in an amazing journey to witness the big impact of your own act of kindness!

Kisahnya membangun Taman Bacaan Pelangi:

Perubahan besar tidak akan dapat terjadi jika tidak dimulai dengan langkah kecil yang nyata. Aku harap, lewat Taman Bacaan Pelangi, lambat laun budaya membaca di Indonesia akan terbentuk. Dimulai dari anak-anak kecil di pelosok Indonesia Timur.

Pada dasarnya, ada banyak cara untuk berkontribusi dalam misi ini. Siapa pun dapat mendonasikan buku cerita anak, dana, ataupun tenaga, pikiran, dan talenta yang dimiliki. Misalnya saja, kami pernah mendapat e-mail dari dua orang Spanyol. Mereka ingin menjadi relawan untuk Taman Bacaan Pelangi selama 1 bulan. Yang cowok adalah software developer, sedangkan yang cewek web designer. Kebetulan sekali saat itu Taman Bacaan Pelangi sedang berencana untuk melakukan pembenahan website. Wah, semesta mendukung, nih! Akhirnya, pasangan dari Spanyol inilah yang mengubah tampilan website Taman Bacaan Pelangi dalam waktu 1 bulan. Woohoo!

Dari contoh itu bisa dilihat bahwa ada berbagai macam bentuk kontribusi yang dapat diberikan. Tidak melulu berupa dana ataupun buku. Aku percaya setiap orang dikaruniai talenta masing-masing yang tentu bisa berguna bagi orang lain. Nah, di Taman Bacaan Pelangi, kami membuka kesempatan untuk semua orang yang ingin berkontribusi sesuai talentanya guna mengembangkan organisasi dan membantu meningkatkan minat baca bagi anak-anak di Indonesia Timur.

Lalu, bagaimana kalau maunya mendonasikan dana ataupun buku? Bisa juga, kok. Donasi buku yang diperlukan adalah buku cerita anak untuk usia 5—13 tahun. Bagi yang ingin mendonasikan dana, bisa dalam berbagai bentuk juga. Ada beberapa orang yang mensponsori pendirian perpustakaan, entah itu satu, dua, ataupun langsung delapan perpustakaan. Tentu hal ini tergantung keinginan setiap individu. Bisa pula patungan bersama teman-teman untuk mensponsori terbentuknya sebuah perpustakaan baru di pulau tertentu. Atau mengadakan charity events, semisal charity dinner dan sejenisnya, yang hasilnya disalurkan untuk Taman Bacaan Pelangi sehingga dapat mendirikan perpustakaan baru serta menambah koleksi buku cerita di perpustakaan yang sudah didirikan.

Ada banyak cara untuk berbuat baik. Ada banyak cara untuk melakukan perubahan. Mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari hal kecil. Percaya, deh, hal kecil yang dijalankan dengan sepenuh hati niscaya akan membawa perubahan besar. Fingers crossed!