Masukkan kata kunci Anda

Tentang (Judul) Islam Tuhan, Islam Manusia

Tentang (Judul) Islam Tuhan, Islam Manusia

Tentang (Judul) Islam Tuhan, Islam Manusia
(Oleh Haidar Bagir )

PrintBagi sebagian orang, judul buku ini mungkin terdengar tidak biasa padahal, seperti akan saya tunjukkan, tidak ada yang luar biasa dengan ungkapan “Islam Tuhan, Islam Manusia” ini. Bahwa sesungguhnya ada Islam yang berasal dari Tuhan tetapi, sebagai fakta yang tak terbantahkan, seluruh (pemahaman) Islam yang ada di dunia ini adalah Islam manusia. Setidaknya ada dua hal yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan ungkapan yang menjadi judul buku ini. Yang pertama adalah, bahwa meski bagi orang-orang beriman Islam dipercayai sebagai berasal dari Tuhan tapi sesungguhnya, begitu sampai pada manusia, Islam Tuhan itu telah menjadi Islam manusia. Apa yang saya maksud dengan ini? Manusia bukan hanya berbeda dan tak bisa diperbandingkan dengan Tuhan, melainkan juga ia tak mungkin pernah bisa mencapai Tuhan dalam semua hal, termasuk dalam hal kemampuannya mencerap ilmu Tuhan—sepandai apa pun manusia itu dalam ilmu agama. Tak akan ada seorang manusia pun, kecuali mungkin nabi yang diakui ma’shūm (infallible), yang dapat menangkap maunya Tuhan dengan sebaik-baiknya. Bagi manusia yang lain, akan selalu ada gap antara apa yang dimaui Tuhan dan apa yang dia tangkap dari agama sebagaimana ia turun dari dan dimaui oleh Tuhan. Karena, begitu sampai pada manusia, kebenaran agama itu telah menjadi tafsir. Dan tak ada tafsir kecuali bahwa dia memiliki ketidaksempurnaan, jika dibandingkan dengan agama yang asli dari Tuhan. Ketidaksempurnaan ini bisa mengambil dua bentuk. Yang pertama, bahwa tafsir manusia bisa dipastikan mengandung potensi kesalahan.Bahkan, bisa dikatakan bahwa tak ada tafsir manusia yang bisa sepenuhnya terbebas dari kesalahan. Konsekuensi kedua, bahwa kebenaran yang ditangkap oleh manusia dari Islam Tuhan itu, meski bisa jadi benar, bersifat parsial.Manusia tak pernah mampu untuk menangkap kebenaran ketuhanan itu secara utuh. Setiap manusia punya prisma berpikir yang menyaring (baca: membatasi) apa yang terpapar kepadanya. Dalam hal ini, kebenaran ketuhanan atau keagamaan. Kedua hal ini mengimplikasikan bahwa tak seorang manusia pun berhak untuk memutlakkan pandangan atau tafsirnya. Dengan kata lain, memonopoli kebenaran, sambil menyatakan bahwa tafsir orang lain salah.

Dalam hal yang pertama, yakni dalam kemungkinan adanya kesalahan dalam tafsir seseorang, maka sikap rendah hati dan keterbukaan dalam menerima kemungkinan kesalahan dalam pendapat kita, dan kebenaran dari orang lain, menjadi niscaya. Betapapun kita yakin pada kebenaran tafsir kita sendiri, ada kemungkinan tafsir kita salah dan justru ada kemungkinan tafsir orang lain benar. Dalam hal yang kedua, dituntut keterbukaan dan kemauan untuk saling belajar di antara semua orang. Namun, kali ini, agar kita bersedia mengakomodasi tafsir orang lain yang sama-sama memiliki kemungkinan kebenaran—betapapun juga sama-sama parsial. Dengan demikian, ada kemungkinan bahwa pemahaman kita tentang Islam justru akan menjadi lebih utuh. Hal ini mengingat bahwa pemahaman orang lain, yang sama parsialnya, juga bisa sama benarnya kecuali bahwa pandangan orang itu memiliki sudut pandang yang lain terhadap objek yang sama. Nah, jika kita menggabungkan berbagai kebenaran, baik yang ada pada diri kita maupun pada orang-orang lain itu, maka jumlah-totalnya adalah bahwa kita memiliki kebenaran lebih besar. Dengan kata lain, ada peluang bahwa kebenaran yang kita ketahui menjadi lebih dekat kepada Islam yang dimaui oleh Tuhan. Sangat relevan dalam kaitan ini untuk mengutip sebuah hadis Nabi: “Kebijaksanaan adalah barang hilang milik orang-orang beriman, maka pungutlah ia di mana pun kamu temukan.” Kesadaran tentang relatifnya Islam yang kita pahami ini menjadi sangat penting jika kita lihat situasi yang berkembang di kalangan umat beragama belakangan ini. Tampak adanya kecenderungan yang makin lama makin mengkhawatirkan pada sekelompok umat untuk hanya bisa melihat adanya kebenaran (monolitik) pada diri atau kelompoknya saja, lalu dengan tidak semena-mena menganggap bahwa pandangan orang atau kelompok lain sebagai salah atau sesat. Kesadaran tentang adanya Islam manusia yang tidak sama dengan Islam Tuhan ini diharapkan, di satu sisi, memunculkan toleransi dan keterbukaan terhadap kemungkinan kebenaran pada orang atau kelompok lain dan, di sisi lain, melahirkan semangat saling belajar demi menjadikan kebenaran Islam kita lebih dekat dengan Islam Tuhan.

Makna kedua ungkapan “Islam Tuhan, Islam Manusia” ini adalah bahwa agama diturunkan Tuhan bagi keperluan manusia, bukan keperluan Tuhan. Mudah dipahami bahwa Tuhan tak butuh agama. Persisnya, Nabi diutus untuk membawa Islam yang dapat menjadi sumber rahmat (belas-kasih) bagi segenap alam semesta. Jadi, kalaupun sebagai hamba-hamba Tuhan kita mau mendapatkan ridha (menyenangkan) Tuhan, maka hal itu hanya bisa kita lakukan jika kita berbuat mengasihi makhluk-Nya dan berbuat baik sebanyak-banyaknya kepada mereka. Karena, bukan saja agama adalah rahmat, Tuhan tak pernah tak penuh belas-kasih kepada makhluk-Nya. Siapa pun dia, beriman atau tidak, Muslim atau bukan, baik atau jahat, dan seterusnya. Tuhan bisa marah dan menghukum manusia, tapi—seperti difirmankan-Nya sendiri—”belas-kasih-Ku meliputi segala sesuatu. “Juga, bahwa “belas-kasih-Ku menaklukkan marah-Ku.”Tak ada sesuatu pun yang, pada puncaknya, bukan manifestasi belas-kasih-Nya, meskipun itu hukuman dan marah-Nya.Maka, tak boleh ada tindakan manusia sebagai orang beragama, sebagai makhluk Tuhan, kecuali bahwa pada puncaknya itu adalah untuk kebaikan dan kebahagiaan mereka. Dengan kata lain, tak boleh ada kebencian dalam tindakan keberagamaan kita.

Maka, terasa amat ganjil jika ada sekelompok pengikut agama yang ingin menyenangkan Tuhan dan “membela”-Nya dengan mengumbar kebencian dan dituntun motivasi untuk menyusahkan orang semata. Sedemikian, seolah Tuhan akan mendapatkan kesenangan dengan korban kebahagiaan makhluk-Nya. Jadi, dalam makna kedua ini, Islam Tuhan sama dengan Islam manusia. Islam untuk belas-kasih, demi kebahagiaan manusia—semuanya.

Kiranya, hanya dengan memahami gagasan tentang adanya Islam Tuhan dan Islam manusia—dalam semua aspeknya—inilah para penganut agama benar-benar bisa menjadi orang-orang yang berpikiran terbuka, penuh toleransi, dan menyumbang secara produktif bagi peradaban manusia. Dan, pada saat yang sama, agama benar-benar bisa menjadi sumber cinta dan daya penyebar belas-kasih bagi seluruh makhluk Tuhan, tanpa kecuali.

Isi buku, yang telah penulis uraikan sebelum ini, adalah manifestasi dari kenyataan adanya Islam Tuhan dan Islam manusia ini. Bahwa Islam manusia, betapapun, adalah pemahaman Islam yang bernilai relatif dan parsial, dan pada saat yang sama ia harus didialogkan dengan problem-problem riil kemanusiaan dengan tujuan menjadi rahmat (belas kasih) untuk seluruh alam semesta. Dan itu semua hanya mungkin jika Islam dipahami sebagai agama cinta, sebagaimana diuraikan dalam Bab V (bab terakhir) yang membahas mengenai soal ini.