Masukkan kata kunci Anda

Susahnya Berada di Tengah: Renungan Setelah Seperempat Abad

Susahnya Berada di Tengah: Renungan Setelah Seperempat Abad

*Artikel di buku Milad Mizan ke-25 tahun 2008

Susahnya Berada di Tengah: Renungan Setelah Seperempat Abad

Oleh: Haidar Bagir

“Aku jadikan kalian umat pertengahan (ummat wasath, moderat) agar kalian menghukum (dengan adil).”

Ketika Tuhan memfirmankan ayat ini, tentulah ada hikmah yang hendak disampaikan. Janganlah kalian mengambil sikap ekstrem. Memang nilai ekstremitas bisa amat relatif. Misal, terhadap kelompok yang mempromosikan liberalisme radikal, bersikap moderat bisa bermakna ekstrem lain, karena yang di tengah adalah liberalisme terbatas. Atau, jika dibandingkan dengan kaum jihadis atau salafi radikal, sikap islamistik ”biasa” bisa ditempatkan di ekstrem lain.

Ambillah kasus menarik Tariq Ramadan. Cucu Hasan Al-Banna dan Sa’id Ramadan ini. Ketika berkunjung ke Indonesia, dia disebut sementara orang sebagai telah keluar dari garis IM (Ikhwanul Muslimin) yang didirikan kakeknya. Dakwaan seperti ini diberikan juga oleh sementara Muslim di berbagai wilayah negeri lain. Memang dia, misalnya, mempromosikan apa yang disebut sebagai Islam Eropa (European Muslim). Dia juga meminta agar kaum Muslim membedakan antara orang Yahudi, yakni penganut agama Yahudi biasa, dan pendukung Zionis. Islam tak seharusnya memusuhi penganut agama Yahudi. Pikiran-pikiran seperti ini masih belum dapat diterima oleh sebagian Muslim, meski datang dari cucu Hasan Al-Banna.

Tapi, di sisi lain, Ramadan muda ini dituduh melancarkan double speak (wacana ganda) oleh sementara orang Barat (yang saya khawatir harus saya bilang memiliki cara berpikir yang kurang canggih). Baca saja salah satu artikel mengenai soal ini yang berjudul ”Forked Tongue” oleh Doug Ireland di New Humanist. The New Republic bahkan mendedikasikan tak kurang dari sebuah artikel panjang yang terdiri dari 28.000 kata untuk menyelidiki latar belakang tokoh ini. Atau, malah, simaklah buku Brother Tariq: The Doublespeak of Tariq Ramadan karya Caroline Fourest. Bagi orangorang seperti ini, seseorang yang mendukung perjuangan Hamas seperti Tariq mestilah seorang fundamentalis. Sungguh penuh kekonyolan. Sekonyol George Bush, yang anak-buahnya akhirnya menolak visa Tariq Ramadan untuk memenuhi undangan menjadi dosen di Notredame University. Memang, bagi Bush, tak ada jalan tengah. Kalau tak ikut saya, kamu tentu musuh saya, demikian orang-orang berpikiran cekak ini berpendapat. Dunia hanya terdiri dari pemikiran hitam-putih. Hanya ada ekstrem-ekstrem: kanan atau kiri. Wilayah tengah tak pernah ada dalam pikiran mereka.

Contoh-contoh tentang kebingungan seperti ini tidak sedikit. Kalau boleh, dan dengan kerendahan hati, perkenankan saya menceritakan diri saya sendiri. Jati diri saya pernah dipersoalkan oleh seorang Indonesianis terkemuka yang kebingungan. Apakah saya liberal, moderat, atau fundamentalis. Bahkan, pernah seorang diplomat dari Kedutaan Besar sebuah negara Barat, yang saya temui di salah satu acara pesta ulang tahun salah satu negara sahabat, bertanya kepada saya tentang saya yang dianggapnya menjadi aktor intelektual dari koran yang saya sempat menjadi salah seorang pemimpinnya—tentu saja pada waktu itu dia belum lagi tahu bahwa saya adalah Haidar Bagir, hingga belakangan dia saya beri tahu. Itu semua boleh jadi hanya karena saya tak pernah menutupi simpati saya kepada Revolusi Islam di Iran di bawah Ayatullah Khomeini. Atau karena saya tak menolak mempromosikan pemikiran sementara tokoh Ikhwan, seperti Qaradhawi dan Muhammad Ghazali. Bahkan Ahmadinejad dan Sayid Hasan Nasrallah dengan Hizbullah-nya, juga Hamas. Bukankah ketiganya selalu dikaitkan dengan kekerasan, bahkan terorisme—yang tentu saja tak saya sepakati? Tapi, saya tak terhindar juga dari julukan Muslim Liberal, karena saya percaya pada rasionalisme dalam beragama dan mempromosikan kepercayaan tentang keselamatan bagi semua orang baik, dari kelompok agama mana pun ia berasal. (Meski keselamatan, menurut saya, bisa dan harus dibedakan dari kebenaran, yang mengenainya semua pengikut agama apa pun harus yakin ada dalam agamanya sendiri.) Bahkan, meski mungkin secara bercanda, seorang aktivis Jaringan Islam Liberal pernah menyebut saya sebagai Islib kanan. Tentu, maksudnya, saya relatif liberal, tapi sudah hampir sekali dengan fundamentalisme. Memasukkan saya sebagai fundamentalis agak sulit karena rasionalisme dan “pluralisme” saya. Juga sikap kritis saya terhadap cara-cara keberagamaan sesama Muslim tertentu. Tapi, di sisi lain, saya aktif melancarkan kritik terhadap pemikiran sementara pendukung JIL.

Dulu Kang Jalal pernah menyatakan susahnya menjadi jembatan. Karena harus menghubungkan dua wilayah yang terpisah-pisah, ia harus merelakan diri untuk diinjak-injak. Baik oleh yang datang dari salah satu arah, maupun juga yang dari arah lainnya. Tapi, terkadang kesalahan bukan hanya datang dari orang-orang yang melewatinya dari kedua arah. Pertama karena, betapapun, di tengah pun dapat memiliki nilai relatif. Bisa jadi juga, jembatannya mengalami kerusakan atau kesalahan struktural. Ia lebih kuat tersambung dengan satu sisi, tapi tak sekuat dengan sisi lainnya. Ia memang terhubung dengan salah satu sisinya, tapi terputus dengan sisi yang satunya lagi. Maka, bukannya menjadi jembatan yang menolong orang menyeberang, ia pun menjadi masalah tersendiri.

Menjadi jembatan, atau berdiri di tengah, ternyata susah dan memiliki risiko tersendiri. Yakni, tidak diterima dengan baik oleh kelompok mana pun. Bukan hanya itu, berada di tengah juga memiliki persyaratan-persyaratan yang berat. Siapa pun yang ingin jadi jembatan, haruslah berkepribadian matang dan telah mampu menaklukkan keakuannya. Dia pun harus selalu memeriksa keikhlasan niatnya, dan terus berupaya memeliharanya. Kalau tidak, hanya kegagalan yang akan menimpa. Tak terkecuali Mizan, dan saya. Apakah kami berhasil, atau gagal? Atau berhasil sedikit saja? Tentu Anda para pembaca yang dapat menilainya.