Masukkan kata kunci Anda

Seperempat Abad Waktu yang Panjang, Seperempat Abad Waktu yang Pendek

Seperempat Abad Waktu yang Panjang, Seperempat Abad Waktu yang Pendek

*Artikel di buku Milad Mizan ke-25 tahun 2008

Seperempat Abad Waktu yang Panjang, Seperempat Abad Waktu yang Pendek

Oleh Haidar Bagir*, Presiden Direktur Kelompok Mizan

“Demi waktu Manusia sungguh merugi

Yang tenteram-percaya (kepada Tuhan) terkecuali.

Juga yang beramal baik dan yang mengajak kepada kebenaran.

Dan yang mengajak kepada kesabaran.” (QS Al-’Ashr)

Seperempat abad adalah waktu yang panjang, jika dibayangkan bahwa hampir-hampir sepanjang itulah satu generasi produktif berkarya. Seperempat abad adalah waktu yang pendek, jika dibandingkan dengan makin tumpuk-bertumpuknya persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa ini, hingga hampir-hampir tak tampak cahaya di ujung terowongan. Maka benarlah firman Yang Mahabijaksana bahwa ambiguitas durasi waktu hanya bisa diatasi dengan mengukurnya terhadap kebenaran, dan terhadap kesabaran. Kebenaran adalah sesuatu yang mutlak.

Menegakkan kebenaran tak mempan waktu. Seberapa kecil pun, seberapa lama pun, tak ada waktu yang hilang. Sementara, kesabaran menjulang mengatasi keterbatasan durasi hidup manusia. Tak ada waktu yang terlalu panjang di hadapan kesabaran. Kebenaran dan kesabaran, di hadapan durasi waktu, adalah dua sisi dari satu koin yang sama.

Maka, mengukur pencapaian sebuah upaya tak boleh dilihat dari seberapa lama upaya itu diusahakan. Boleh jadi suatu upaya telah panjang diusahakan, tapi tak banyak juga yang berhasil disumbangkan. Boleh jadi juga, ia baru-baru saja, tapi perbedaan telah kentara diciptakannya. Maka, setelah Mizan mencapai seperempat abad, kami pun bertanya-tanya. Banyak prestasi—kata orang—telah tertoreh, tapi apakah kehadiran kami benar-benar menciptakan perbedaan yang kentara?

Rasanya kata-kata jumawa, yang dulu pernah kami obral di awal upaya, sekarang terasa tak lagi pada tempatnya. Boleh jadi karena sebagian pendirinya, yang waktu itu masih mahasiswa hijau tak tahu apa, kini sudah mulai memasuki usia senja. Boleh jadi karena mood kami bukanlah lagi yang dimiliki sekelompok orang muda yang mulai dari belum apa-apa, dan karenanya masih bisa bermimpi apa saja. Ya, dulu kami anak muda tak tahu apa-apa, yang mulai dari belum apa-apa.

Ketika mulai itu, belum tentu 1 judul buku saja kami terbitkan sebulannya. Padahal kini, sebulan yang sama bisa kami terbitkan 100 tajuk dengan beragam-ragam tema. Dari 5-6 orang waktu itu, kini sudah hampir seratus kali lipat pula jumlah karyawan kami.

Hampir selusin tangan bisnis bertumbuhan di dalamnya. Hampir dari hulu sampai hilir pula. Dari mulai pekerjaan kreatif mempersiapkan dan menerbitkan buku, hingga mencetak, mendistribusikan, dan menjual ke konsumen akhir. Juga cabang di manamana, di Jawa, di luar Jawa, bahkan di luar Indonesia. Bukan buku saja, sejak beberapa tahun belakangan ini, kami mulai belajar merambah dunia new media. Ada buku digital dan talking book, serta tampilan di Google Book Search, ada produk audiovisual, ada novel dalam handphone yang kami sebut fonovela, ada website digital yang memuat juga majalah elektronik tentang perbukuan, dan masih beberapa lainnya yang sedang dalam pengembangan. Kami pun telah merintis rumah produksi, bahkan sudah turutserta dalam membuat film layar-lebar Laskar Pelangi, sebuah kisah penuh inspirasi yang—terus terang—membuat kami bangga bukan alang kepalang.

Tapi, betapapun tuntutan untuk berkreasi dan berinovasi hampir-hampir terlalu besar bagi kehijauan kami pada waktu itu, sekarang yang menghadang tak kurang-kurang dari suatu cut throat competition.

Dulu posmodernisme baru sebatas wacana, tapi kini paradoks globalisasi dan budaya lokal sudah merupakan kenyataan sehari-hari. Di satu sisi orang modern, yang menjadi pasar-utama kami, makin kosmopolit; tapi di sana-sini orang menjadi makin parokial. Hampir-hampir sepenuhnya nyata peribahasa besutan para local genius kita dahulu kala, “rambut sama hitam, pendapat berbedabeda”. Ini jelas suatu tantangan bagi strategi pemilihan tema kami.

Maka, “Membentuk Matra Baru Pemikiran Islam di Indonesia”, slogan yang kami propagandakan di awal upaya kami itu, kini harus tinggal saja menjadi propaganda. Sekarang, tak ada yang se-grand-narrative pernyataan seperti itu. Maka, kiranya, menyodorkan tawaran “Menjelajah Semesta Hikmah” terasa lebih pas dan lebih masuk akal.

Memang kata Nabi dan orang-orang bijak: ”Hikmah (kebenaran) adalah barang-hilang milik orang beriman, karena itu pungutlah ia di mana saja kamu dapatkan.” Setiap orang, setiap manusia, ia hanya tahu sedikit. Maka, sebaliknya dari bersikap eksklusif dan memonopoli kebenaran, marilah bersama-sama kita mematutmatut seluruh ceceran kebenaran itu dalam satu mozaik yang kaya dan mesti penuh keindahan. Lagi pula, kiranya ini lebih sesuai belaka dengan Mizan, sebuah nama yang tak berarti lain kecuali “setimbang”, mencakup kebenaran dari mana saja, dan meramunya dengan proporsi yang tepat.

Nah, jadilah yang tinggal kesadaran bahwa yang kami lakukan hanyalah mengais-ngais kebenaran yang tercecer di mana-mana. Bahkan, setelah seperempat abad, mungkin baru beberapa keping saja. Tapi, kami—seperti Anda semua—toh bisa menghibur diri. Meski hanya satu atau beberapa keping, ia menjadikan mozaik itu makin kaya, makin berwarna, dan—semoga—makin indah juga.

Seperempat abad, satu generasi telah lewat. Penghargaan The Best CEO dari Majalah SWA serta Tokoh Perbukuan Islam dari IKAPI Jaya bagi Presiden Direktur Kelompok Mizan kiranya harus dilihat sebagai sejarah. Penunjukan CEO termuda kami, Irfan Amali, sebagai pemenang kompetisi IYCE (International Young Creative Entrepreneur) oleh British Council, yang akan mewakili Indonesia di kompetisi dunia, adalah tanda zaman baru.

Generasi baru memang harus meneruskan perjalanan, mengaisngais kepingan-kepingan kebenaran. Merambah daerah-daerah yang belum dirambah, menembus frontier-frontier baru. Setelah itu, mungkin masih banyak generasi lain. Dan waktu pun makin panjang. Tapi, bukankah panjang-pendek waktu adalah sesuatu yang ambigu? Untuk amal kebaikan yang lahir dari tenteramnya kepercayaan kepada Sang Kebenaran, waktu nyaris bukan faktor. Demi kebenaran, dengan kesabaran, tak ada waktu sepanjang apa pun yang terlalu panjang. Demi keduanya, tak ada yang hilang dalam kerugian.

Akhirnya, kami bungkukkan badan dalam-dalam untuk mengungkapkan terima kasih yang tulus. Tanpa Anda, para pembaca buku, Mizan pasti tak jadi apa-apa. Lalu, dengan kerendahhatian, kami mohon doa, serta tegur dan sapa. Agar bersama Anda makin banyak hikmah terkuak, bagi bertambahnya kewaskitaan kita semua. Semoga Tuhan terus memberikan dukungan dan petunjuk-Nya.

Jakarta, 12 September 2008