Masukkan kata kunci Anda

Senandung Talijiwo: Sebuah Bahasa Cinta Sujiwo Tejo

Senandung Talijiwo: Sebuah Bahasa Cinta Sujiwo Tejo

Senandung Talijiwo merupakan bahasa cinta yang dibuat oleh Sujiwo Tejo untuk kita semua. Talijiwo merepresentasikan setiap individu di dunia ini dalam berinteraksi dengan sekitarnya.

Dalam Senandung Talijiwo, kita akan diajak menyelami cerita tentang cinta, yang tidak selalu indah namun tak pernah mampu dilupakan.

Sama seperti buku Talijiwo (yang pertama), buku ini dipenuhi dengan kutipan dan ilustrasi yang menghangatkan hati.

Dalam Senandung Talijiwo, percakapan antara dua insan tidak hanya sekadar basa-basi belaka. Melainkan menyimpan makna yang mendalam dan patut untuk dikenang. Dalam hidup, kita pernah menjelma Sastro, pernah mewujud menjadi Jendro. Sastro dan Jendro adalah diri kita sendiri.

 

NUKILAN

Duh, kawasan berpohon-pohon sulastri. Pohon yang tingginya bisa mencapai 30 meteran ini konon berasal dari Langenharjo, pemandian Sri Susuhunan Paku Buwono X.

Seluruh perempuan di sana rupa-rupa wajah dan tata rambutnya. Nano-nano. Namun, serupa dalam kata dan perbuatan. Perbuatan dan tutur-kata mereka rupanya anu banget sehingga mendudukkan diri mereka sendiri untuk nggak cucuk kalau disakiti.
Itu saking tingginya harga tindak-tanduk dan lambe mereka. Bertindak dan bertanduk menawarkan tasbih kayu sulastri ke para wisatawan saja cara mereka menawan.

“Ini kayu sulastri, Pak. Tapi tak seperti mitosnya. Ini bukan pengasihan agar istri Bapak semakin mencintai Bapak,” tutur mereka. Pun dengan cara menawan. “Tapi jika Bapak berkenan, tasbih kayu sulastri yang lembut ini akan membuat Bapak tak tebersit sezarah debu pun untuk berbuat kasar ke perempuan.”
“Dan itu yang akan membuat istriku semakin takluk, Nduk?” Sastro tertunduk. Senyumnya simpul.
“Tapi sejatinya aku ini belum punya istri, Nduk …”

Penjaja itu terperangah, walau samar-samar. Sangat samar sehingga di-zoom in secanggih apa pun perangahannya tak bakal ter-cyduk.
“Walau masih bujangan, aku ini pemimpin daerah, Nduk,” tutur Sastro, wisatawan yang disapa “si bapak” itu. “Aku akan menerbitkan perda di daerahku: Laki-laki hanya boleh menangis ketika menyesal karena di masa lalu sudah menyakiti apalagi sampai memutus ceweknya. Tangisan di luar alasan itu dinyatakan ilegal. Tangisan karena takut bom adalah tangis ilegal. Dan lain-lain tangis yang tak perlu. Polisi-Airmata akan memantau ini…”
Jendrowati “si penjual tasbih sulastri” hanya bisa tunduk. Ia pilin-pilin ujung rambutnya yang dikelabang dan dijatuhkan di dada kanan. Keningnya, tentu saja, agak mengernyit. Pasalnya, di kawasannya sendiri Jendro tak pernah menyaksikan ada laki-laki yang sampai tega menyakiti apalagi bablas memutus perempuan pasangannya. Padahal …

Suka tak suka, di kedai cinta selalu ada pertemuan yang ditutup dengan perpisahan. Pertemuannya sup miso yang mirip mi bakso. Perpisahannya mochi. Walau manis, mochi itu menu penutup, Kekasih.

Yang kerap Jendro saksikan malah sebaliknya. Lelaki-lelaki mengaku bahwa yang membuat perempuan di sini menjadi tak patut untuk disakiti adalah para perempuan itu sendiri. Cara mereka membuat alis dan membikin kopi. Cara mereka dengan halus menolak tawaran untuk dibonceng. Berdiri di trotoar, mereka menolak tawaran itu sambil membungkuk melekap roknya yang dikibar-kibarkan angin trotoar agar pahanya tak tersingkap. Duh!

“Kok diam?” Sastro dengan hati-hati membelah kesunyian.
“Ehm … Oh, enggak, Pak … Nggak papa,” Jendro gelagapan. Sehelai rambut yang dipilinnya copot satu, meliuk-liuk diterbangkan angin. “Kalau tangis perempuan di daerah Bapak bagaimana, Pak?” Jendro menemukan cara agar kekikukannya tak terlalu kentara. “Apakah di sana ada juga perempuan yang tangisnya ilegal, Pak?”
Lelaki dengan paduan belah dagu dan leher yang gagah itu agak lama menerawang langit sampai akhirnya mantuk-mantuk bertopang dagu ke tangan, “Hmmm … Boleh aku menggeser duduk ke dekatmu?”
Jendro antara mengangguk dan tidak.

Di dalam cinta, Kekasih, banyak yang tersengat tanpa penyengatnya tewas setelah meninggalkan jejak seperti tawon, Kekasih.  

Setelah mendekat dan menyeruput kopi lanang, Sastro melanjutkan obrolan. Wajahnya tepat dan dekat berhadap-hadapan dengan wajah Jendro. “Di sana, seluruh tangis perempuan, dengan alasan apa pun, akan kunyatakan legal.”
“Wowww …,” Jendro melonjak dari bangkunya dengan kepal kedua tangan di dada. “Eh, Pak … Di sana saya boleh menangis bahagia ketika diputus laki-laki karena yakin kelak lelaki itu akan menyesal telah memutus saya, seperti laki-laki yang nyesel memutus Lady Gaga sebelum ia terkenal?”
“Boleh … Boleh … Itu tangis yang legal.”
“Serius, Pak?”
“Serius, Jendro. Tetapi tindakan legal itu tak akan pernah kamu lakukan …”
“?”
“Sebab, sejak malam ini, aku berjanji tak akan pernah memutusmu. Sangat tak layak bagi aku untuk memutus perempuan seperti dirimu.” (*)