Masukkan kata kunci Anda

Sekolah Itu Bernama Mizan: Sekilas “Sejarah” Mizan

Sekolah Itu Bernama Mizan: Sekilas “Sejarah” Mizan

*Artikel di buku Milad Mizan ke-20 tahun 2003

Sekolah Itu Bernama Mizan: Sekilas “Sejarah” Mizan

Hernowo*

If you can dream it,

you can do it

~ Walt Disney 

Pada tahun-tahun semasa saya menjadi mahasiswa, sekitar tahun 80-an, saya punya mimpi. Saya ber­mimpi, kelak, entah kapan, dapat berkenalan de­ngan para cendekiawan Indonesia yang gagasan-gagas­annya kerap mampu menghidup­kan dan menggairah­kan wacana. Tidak terpikir sama sekali di benak saya, waktu itu, bahwa saya kemudian bekerja di sebuah penerbitan buku.

Saya masuk Mizan pada tahun 1984, setahun setelah Mizan berdiri. Masuknya saya ke Mizan diawali oleh perte­muan saya dengan sahabat saya semasa kuliah yang juga adalah salah satu pendiri Mizan, Saudara Haidar Bagir. Saya waktu itu sedang berada di Jogja. Saya tinggal di rumah adik saya di Jalan Nyai H. A. Dahlan.

Haidar menemui saya di rumah adik saya itu. Dia ber­cerita tentang maksud kedatangannya di Jogja. Di tangan­nya terpegang beberapa buku terbitan Mizan yang sudah saya baca. Ada Islam di Tengah Pertarungan Tradisi karya Muham­mad Quthb yang bahasanya sangat dinamis dan sedikit “membakar”. Lalu ada juga buku kumpulan tulisan berjudul Beberapa Pandangan tentang Pemerintahan Islam yang dieditori oleh Salim Azzam. Di buku ini ada pan­dangan-pan­dangan berharga tentang konsep negara Islam yang ditulis oleh, antara lain, Imam Khomeini, Abul A’la Al-Mau­dudi, dan Said Ramadhan.

Itulah dua contoh buku yang diterbitkan Mizan pada masa-masa sangat awal kemunculannya. Di samping buku pertama yang “meledak” dan mengguncangkan, Dialog Sun­nah-Syi‘ah, Mizan sangat hati-hati pada saat menerbit­kan buku-buku pertamanya. Kelihatannya, produk-produk Mizan awal ingin meraih pembaca yang beragam. Misalnya, ada buku ringan dalam bentuk surat-menyurat yang enak dibaca berjudul Surat-Menyurat Maryam Jamilah-Maududi. Lalu, ma­sih berkaitan dengan buku yang juga ditujukan untuk kha­layak yang beragam terbit Benturan Barat-Islam yang be­rupa antologi. Di dalam buku ini ada pengantar dari Pe­nerbit Mizan yang menarik yang memosisikan sang buku dan meng­apa buku seperti ini terbit pada waktu itu.

Saya bertanya kepada Haidar, untuk apa membawa buku-buku Mizan tersebut. Haidar menjawab, “Saya mau bertemu dengan beberapa tokoh di Jogja. Saya ingin mereka dapat menulis buku untuk Mizan. Buku-buku yang saya bawa ini sekadar untuk mengenalkan corak terbitan Mizan.” Setelah saya masuk Mizan, betapa strategi Haidar ini sangat efektif untuk menjaring para penulis Mizan. Bukan hanya itu. Lewat keaktifannya berkunjung dan bertemu dengan para tokoh, Haidar kemudian dapat memetakan khazanah pemikiran Islam yang berkembang di Indonesia.

Perlahan-lahan, mimpi saya pun terwujud. Di Mizan, saya tak hanya berkenalan dengan para pemikir kondang yang gagasannya dikaji banyak orang, melainkan juga dapat berdialog dan bertukar pikiran dengan mereka. Saya bersyukur, misalnya, dapat menikmati suasana “Patang­puluhan” di Jogja, tempat Cak Nun (Emha Ainun Nadjib) me­­masak ide-ide cemerlangnya. Di tempat itu pula kadang saya ngobrol ngalor-ngidul dengan Cak Nun tentang Indonesia.

Saya juga merasa bingung dan salah tingkah saat pertama kali bertemu dengan Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) di kantor Mizan yang kecil yang terletak di Jalan Dipati Ukur. Waktu itu Kang Jalal ingin menyerahkan kata pengantar untuk buku karya Syari‘ati, Ideologi Kaum Intelektual. Seingat saya, Kang Jalal naik vespa waktu ke Mizan. Di Mizan tidak ada siapa-siapa. Hanya saya dan tiga orang rekan kerja yang tak terkait dengan keredaksian. Akhirnya sayalah yang menemui Kang Jalal. Buku Ideologi Kaum Intelektual adalah buku kedua karya Syari‘ati yang diterbitkan Mizan setelah Kritik Islam atas Marxisme dan Sesat-Pikir Barat Lainnya.

Buku-buku karya para pemikir Islam Iran, terutama kar­ya-karya Murtadha Muthahhari dan Ali Syari‘ati ke­mudian seperti menjadi “trade mark” Mizan untuk periode berikutnya. Kebetulan beberapa buku yang diterbitkan Mizan diberi pengantar secara memikat oleh para cendekia­wan Muslim Indonesia. Buku Kritik Islam atas Marxisme diberi pengantar Mas Dawam Rahardjo. Selain memberikan pe­ngantar untuk Ideologi Kaum Intelektual, Kang Jalal juga mem­berikan pengantar untuk karya Murtadha Muthahhari, Perspektif Al-Quran tentang Manusia dan Agama.

Oleh Mizan, mimpi saya semasa mahasiswa ternyata ditarik lebih jauh. Saya tak hanya berkenalan dan berdialog dengan para pemikir yang hidup di Indonesia, tetapi juga para pemikir besar yang hidup di luar Indonesia. Saya bah­kan dapat bertemu dengan S.H. Nasr, Annemarie Schimmel, Ziauddin Sardar, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, John L. Esposito, Howard M. Federspiel, dan masih banyak lagi.

*

Setelah berkutat selama hampir sepuluh tahun (1983-1993), pelan-pelan Mizan mulai menemukan bentuknya. Apa yang dirintis oleh Saudara Haidar Bagir saat bertemu dengan saya di Jogja pada awal tahun 1984, mulai mewujud dan mengarakterisasi buku-buku terbitan Mizan. Meskipun yang diterbitkan Mizan berupa kumpulan tulisan para cendekiawan Muslim Indonesia—dari Azyumardi Azra, A.M. Saefuddin, M. Amien Rais, Kuntowijoyo, Nurcholish Madjid, A. Syafii Maarif, Fuad Amsyari, Ahmad Azhar Basyir, Hartono Mardjono, M. Quraish Shihab, Harun Nasution, Alwi Shihab, Jalaluddin Rakhmat, M. Dawam Rahardjo, A. Mukti Ali, Deliar Noer hingga K.H. Ali Yafie—namun kum­pulan tulisan itu disusun sedemikian rupa sehingga mencip­takan karakter pemikiran dari tiap-tiap tokoh. Karakter pemikiran tersebut dapat diidentifikasi lewat judul-judul buku karya para cendekiawan tersebut.

Memang, jauh sebelum Mizan memiliki seri bergengsi bernama “Seri Cendekiawan Muslim” yang sepu­luh tahun kemudian mengarakterisasi buku-buku terbitan Mizan, pada 1986 terbit lebih dulu sebuah buku yang meme­takan gagas­an para pemikir baru Islam di Indonesia. Buku berjudul Me­ram­bah Jalan Baru Islam: Rekonstruksi Pemi­kiran Islam Indonesia Masa Orde Baru ini ditulis oleh Fachry Ali dan Bahtiar Effendy. Lalu, seperti sudah diskenariokan, pada 1998, ter­bit buku suntingan Mark Woodward, Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia. Di dalam buku ini terhimpun tulisan-tulisan Taufik Abdullah, Nurcholish Madjid, Moeslim Abdurrahman, Karel Steen­brink, Howard M. Federspiel, Lucy A. Whalley, Ronald A.L. Bull, Robert W. Hefner, R. William Liddle, dan Katherine C. Kolstad, yang, setidaknya, ingin menunjukkan jenis “Islam” yang tumbuh dengan pesat di Indonesia.

Lima tahun kemudian, tepatnya pada 1998, saat usia Mizan berada di angka lima belas, Mizan seperti memasuki kurun barunya. Mizan mulai memunculkan lini-lini produk baru. Lini produk “Mizan Kronik Zaman Baru” sempat mencatat sukses saat menerbitkan Prahara Budaya. Lalu, masih masuk di lini ini, Mizan mencoba menawarkan wacana baru tentang dunia cyberspace lewat “mata” Bapak Multimedia, Nicholas Negroponte, Being Digital, Yasraf Amir Piliang, Sebuah Dunia yang Dilipat, dan Mark Slouka, Ruang yang Hilang, serta Jeff Zaleski, Spiritualitas Cyberspace.

Kini, dua puluh tahun sudah Mizan berjalan. Ribuan judul buku sudah ditebarkan. Mizan yang dibawa sahabat saya, Haidar Bagir, ke Jogja waktu itu, pada awal 1984, sudah berubah. Apanya yang berubah? Karakter produk-pro­duk­nyakah yang berubah? Bukan. Karakter produk Mizan tetap masih memiliki semangat yang dulu. Bahkan kini semangat itu semakin dipertajam dan dikukuhkan. Lewat buku “Seri Filsafat Islam”, yang mulai diluncurkan sejak tahun 2002, dan kini telah terbit sekitar tujuh buku, Mizan ingin terus yakin pada rumusan bahwa membuat buku serius (dan digarap serius pula) itu bisa laku di pasaran.

Lalu, kalau bukan karakter yang berubah, apa sebe­nar­nya yang berubah? Dalam sorotan mata-saya, saya melihat Mizan selama dua puluh tahun ini berupaya keras untuk mengubah “wadah”-nya. Sembari karakter Mizan awal tetap terus dipertahankan, bahkan senantiasa ditingkatkan (misal­nya berkaitan dengan aspek “pengemasan” pro­duknya atau­pun dengan peningkatan kualitas tema-tema yang diter­bitkan), Mizan kini menciptakan berbagai “wadah” untuk menampung sebanyak mungkin jenis buku yang diterbitkan.

Pada awal tahun 2003 ini, misalnya, satu “wadah” sempat tercipta dan dinamai Penerbit Arasy. Buku pertama yang diterbitkan adalah karya Hasan Turabi, Fiqih Demokratis. Disusul buku keduanya karya Yusuf Qardhawi, Qardhawi Bicara Soal Wanita. Sebelum Arasy muncul, pada tahun 2002, telah lahir Penerbit Qanita. Hingga kini sudah sekitar lima buku Qanita yang terbit. Lalu jauh sebelum itu, ada Penerbit Kaifa yang dimunculkan pada tahun 1999 dan sukses dengan Quantum Learning-nya. Dan pada 2003, “wadah” Kaifa diperlebar guna menampung buku-buku yang dikhususkan untuk para remaja. “Kaifa for Teens” namanya.

Di samping Arasy, Qanita, Kaifa yang mendampingi Mizan, ada juga Penerbit Hikmah yang menekuni buku-buku agama Islam di jalur tasawuf dan kesalehan. Di sebelah Penerbit Hikmah, lahir Penerbit Harakah yang menekuni jalur Islam pergerakan, dan Penerbit Misykat yang menawar­kan buku-buku doa dalam kemasan yang chic. Dan yang mun­cul cukup fenomenal adalah Penerbit Teraju. “Wadah” ini diciptakan untuk menampung karya-karya akademisi yang lahir dari para sarjana yang masih berusia cukup muda.

Perkembangan dan perubahan menarik juga dicapai oleh divisi penerbitan lain yang khusus menangani buku-buku yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Kini divisi yang dulu bernama Divisi Anak dan Remaja telah menjadi perusahaan baru bernama DAR! Mizan. Jenis produk DAR! Mizan juga bercabang-cabang dan memiliki banyak lini produk. Salah satu lini produk yang mencatat sukses adalah lini produk NORI (Novel Remaja Islami) dan NOMIK (Novel Komik). Beberapa produk dari lini NORI sempat meraih peng­hargaan Adikarya IKAPI, seperti karya Asma Nadia, Rembulan di Mata Ibu dan Dialog Dua Layar. Dan satu lini produk yang sangat khas DAR! Mizan adalah serial Olin yang masuk lini NOMIK (Novel Komik). Sudah terbit empat seri: Pilihan Terakhir, Aduh Pusiiing!, Selalu di Hati, dan Kekasih Sepenggalah.

Kayaknya, pelbagai “wadah” yang diciptakan hingga tahun 2003 itu ingin digunakan Mizan—bersama para pembaca buku-bukunya—menjelajah semesta hikmah. Mungkin, dengan cara seperti ini, Mizan ingin mengikuti anjuran sebuah hadis yang di dalamnya Tuhan berfirman, Kuntu kanzan makhfiyyan fa ahbabtu an u’rafa fa khalaqtu al-khalqa fa bî ‘arafûnî, “Aku adalah Khazanah Tersembunyi. Karena itu, Aku ingin diketahui.”

*

Apa yang dapat saya petik dari perjalanan Mizan selama dua puluh tahun ini? Banyak. Salah satunya adalah, di sam­ping bekerja, saya seperti bersekolah di Mizan. Sungguh. Setiap Senin hingga Jumat, saya belajar bagaimana mem­baca dan menulis dengan baik dan benar. Saya belajar dari Bobbi DePorter, Tony Buzan, Dave Meier, dan masih banyak sekali tokoh-tokoh hebat. Saya berdiskusi dengan mereka lewat buku-buku yang ditulis oleh mereka. Setiap kali saya mendapatkan gagasan hebat dari mereka, saya pun sangat bergairah untuk merumuskannya secara tertulis menurut pemahaman saya sendiri. Setelah saya berhasil merumus­kan, saya seperti didorong untuk lekas-lekas menerapkan apa yang saya rumuskan secara tertulis.

Di Mizanlah saya diberi kesempatan sangat luas untuk menerapkan aktivitas membaca dan menulis secara ber­samaan dan menyenangkan. Kadang kalau lagi malas mem­baca buku, saya ditarik oleh aktivitas menulis untuk meng­ekspresikan apa saja. Dari situ kemudian kemalasan mem­baca buku pelan-pelan sirna. Saya lalu bangkit untuk mau membaca buku lagi karena untuk membuat tulisan yang baik, saya harus punya materi yang baik dan kaya untuk dituliskan. Dan itu biasanya saya peroleh dari buku. Kadang kalau kemalasan menulis datang, saya diingatkan oleh aktivitas membaca untuk kemudian merumuskan apa-apa yang telah saya baca. Hanya dengan “mengikat” (menu­liskan) apa saja yang saya bacalah kemudian saya men­dapatkan banyak manfaat dari aktivitas membaca.

Setelah mimpi semasa mahasiswa saya dipenuhi, bah­kan dilebihi, oleh Mizan, kini saya punya mimpi-baru. Saya ingin suasana sekolah yang saya alami di Mizan dapat diper­luas ke tengah masyarakat. Saya ingin generasi baru kita dapat belajar membaca dan menulis buku sebagaimana saya belajar di sekolah bernama Mizan. Apakah mimpi-baru saya ini dapat menjadi kenyataan?

If you can dream it, you can do it.

Bandung, 17 April 2003

*Penulis buku Mengikat Makna (Kaifa, 2001, cetakan ke-6) dan Andai­kan Buku Itu Sepotong Pizza (Kaifa, 2003, cetakan ke-2), serta Koordinator Mizan Writing Society.