Masukkan kata kunci Anda

Sedikit perhatian dan Banyak kebahagiaan

Sedikit perhatian dan Banyak kebahagiaan

Ketika dua dus besar berisi buku bacaan anak itu kami buka, wus wut wus… bagaikan semut ketemu gula, anak-anak itu langsung saja antusias memilih buku yang mereka suka. Ini adalah salah satu adegan yang paling membahagiakan dan mengharukan di acara buka bersama MIZAN dan anak-anak penghuni panti asuhan Al-Hidayah, Bandung. Membahagiakan karena mereka, Alhamdulillah, menyukai buku-buku yang kita bawa. Mengharukan karena, yah… bayangkan saja di sebuah rumah kecil masuk gang sempit pula, yang kalau hujan -kebetulan kemarin sempat hujan deras, atap tempat mereka bernaung bocor di sana-sini. Dalam keadaan yang seperti itu, anak-anak panti masih saja memiliki minat membaca yang tinggi.
Ternyata, adegan ini juga mempengaruhi salah satu teman saya, kang Yadi Saeful, Manager Editor Buku Agama – MIZAN. “Siapa yang sayang ayah? Siapa yang sayang Ibu?” tanya Kang Yadi sambil mengambil dan membaca judul salah satu buku. “Sayaaaaa”, jawab anak-anak panti.
Kata Yadi, Beliau sampai terenyuh mendengarnya. Betapa tidak, anak-anak yang hampir seluruhnya tidak mengenal wajah ayah-ibu nya, spontan mengatakan bahwa mereka menyayangi ayah-ibu nya. Mungkin itu bentuk kerinduan mereka pada kasih saying ayah-ibu yang tidak dimilikinya. Atau bisa jadi mereka sekadar menyampaikan isi hatinya, ingin berkumpul bersama ayah-ibunya di bulan suci ini. Menyaksikan anak-anak yang bergembira, meski mungkin mereka sedih karena tidak seberuntung anak-anak lain yang bisa bermain bersama ayah-ibu mereka.
Yah eniwey, mungkin “sayang ibu” bagi anak-anak itu diperuntukkan kepada Bu Neneng, salah satu pengurus panti yang juga tinggal disana. Ibu Neneng sendiri sangat menyayangi anak-anak panti. Beliau memberi perhatian, petuah-petuah, memandikan, memberi pakaian, mendidik, mengajarkan mengaji, dan menyekolahkan anak-anak panti hingga ke perguruan tinggi. Menurut saya, panggilan “Ibu” adalah kata yang paling pas disematkan untuk Bu Neneng. Mengutip istilah rekan saya yang lain, Tika Ageng, “Tidak perlu melahirkan untuk memiliki anak”.
Kang Irfan Amali, salah satu tokoh gerakan perdamaian Peace Genration, yang juga ikut pada saat itu kemudian mengambil salah satu buku. Sambil bermain dan membacakan buku, dan sesekali melemparkan pertanyaan pada mereka, Irfan bagaikan sosok seorang ayah yang membacakan cerita untuk anak-anaknya.
Bu Neneng, pengelola panti, gembira sekaligus terharu melihat anak-anak asuhnya bergembira di sore itu.
Di panti ada satu anak yang menjadi primadona. Saya sebut seperti itu karena kami rebutan ingin menggendongnya. Hatim namanya. Umurnya 21 bulan, dan merupakan penghuni panti paling bungsu. Dia sudah pandai memegang pensil, pandai berhitung 1-10, hafal surat Al-Fatihah, dan pandai memukul ember seolah itu gendang sambil nyanyi “Ning Nang Ning Nung”. Saya yakin kalau kalian lihat dia, pasti akan muncul keinginan ngarungin anak itu buat dibawa pulang. Niat ini juga sempat dibisikkan teman saya, Wulan. Saya berdoa semoga ia hanya bercanda bilang begitu.
Setelah selesai menyantap hidangan berbuka, dan bercengkrama dengan anak-anak, akhirnya tiba saatnya kami pulang. Kami membentuk shaf menyamping, dan menyalami setiap anak diiringi dengan shalawat kepada Rasulullah saw. -juga iringan tabuhan kardus Hatim sambil bersenandung “Ning Nang Ning Nung”.
Ibarat kita hanya orang selewat untuk mereka, apa yang kita beri tidak seberapa, mereka tetap membutuhkan uluran tangan dan perhatian kita. Dan ini di satu panti masih ada ribuan panti dengan kebutuhan yang sama. Mari berbagi, mari memberi, karena sedikit perhatian kita merupakan kebahagiaan bagi mereka.
Terakhir, saya ingat saran yang kang Irfan Amali yang disampaikan kepada Bu Neneng. “Bu, kalau bisa anak-anak diusahakan baca buku, sehari satu buku. InshaAllah, setelah besar jadi orang sukses”. Aamiin aamiin ya Rabbalálamin.

IMG-20160623-WA0011

Penulis : Liesna / Mizan Aplication Publisher