fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Rumi dan Sekumpulan Syair: Nukilan Buku ‘Dari Allah Menuju Allah’

Rumi dan Sekumpulan Syair: Nukilan Buku ‘Dari Allah Menuju Allah’

Buku ‘Dari Allah Menuju Allah‘ merupakan karya Haidar Bagir untuk memahami cuplikan-cuplikan puisi Rumi yang disyarah.

Matsnawi memang adalah sekumpulan syair. Tapi, apakah ia hanya sekumpulan puisi–betapa pun amat indah dan penuh makna–yang terserak tanpa ada suatu tema yang mengikat, kecuali kesejajaran-kesejajaran atau, mungkin, pengulangan/pengungkapan kembali dalam bahasa berbeda (parafrase) di sana-sini? Sebagian ahli, bahkan di masa Rumi masih hidup mengeluhkan hal ini. Seperti dikutip Chittick dalam The Sufi Doctrine of Rumi, mereka seolah-olah ingin mengatakan bahwa Matsnawi adalah sebuah buku syair biasa, dan bahwa di dalamnya “tak ada diskusi-diskusi metafisis dan misteri-misteri tingkat tinggi”. Menjawab itu, Rumi menyindir bahwa “seperti ketika Al-Quran diturunkan dulu, ia diremehkan sebagai sekadar legenda-legenda dan dongeng-dongeng. Mereka mengatakan, tak ada di dalamnya hasil-hasil penyelidikan dan penelitian yang luhur …”.

Memang, sependek pengetahuan saya, tak perlu seorang pembaca serius menjadi peneliti hanya untuk tahu bahwa Matsnawi adalah suatu buku pelajaran tentang tasawuf, bahkan tentang ‘irfân (tasawuf filosofis) yang komprehensif. Tak harus pula kita berpandangan sejauh Seyed Ghahreman Safavi  yang berkeyakinan bahwa Matsnawi memiliki struktur tersembunyi yang khas dan sophisticated. Ya. Meski boleh jadi Rumi tak menguraikan dan mendefinisikan stasiun-stasiun dan keadaan-keadaan yang menerpa seseorang yang berjalan di jalan menuju Tuhan, cukup seperti Chittick kita merasakan adanya kesinambungan dalam hal tema(-tema) pokok yang secara konsisten menjalari seluruh Matsnawi–khususnya tema-tema menyangkut Tuhan, alam, dan manusia.

Memang, dalam banyak bagian, Rumi menyatakan dengan jelas bahwa tujuannya terutama bukan untuk menjelaskan, melainkan untuk membimbing. Tujuannya dalam menulis puisi dan berbicara kepada pendengarnya bukanlah untuk menyajikan uraian ilmiah tentang aspek-aspek dari ajaran Islam. Juga, bukan untuk menjelaskan kepada mereka segala hal tentang sufisme. Dia hanya mau membuat mereka menyadari bahwa sebagai manusia, mereka terikat oleh fitrah mereka untuk kembali kepada Tuhan dan mengabdikan diri mereka sepenuhnya kepada-Nya.

Benar juga, menurut Seyyed Hossein Nasr dalam pengantarnya untuk The Sufi Doctrine of Rumi, bahwa “Rumi tidak menulis eksposisi metafisis langsung seperti yang dilakukan seorang Ibn ‘Arabi atau Shadr al-Din al-Qunawi. “Tapi”, jangan salah, “Rumi adalah seorang ahli metafisika tingkat tinggi dan menggarap hampir semua pertanyaan gnostik dan metafisik, betapa pun sering dalam bentuk perumpamaan, narasi, atau bentuk lain dari perangkat sastra dan simbol puitis”.

Lalu, dengan kerangka apa kita bisa memahami ajaran tasawuf Rumi secara sedikit-banyak sistematis? Sudah lazim di Dunia Islam, sejak abad keempat belas dan seterusnya, bahwa sebagian besar komentator Rumi sangat bergantung pada pemikiran Ibn ‘Arabi untuk memberikan struktur pada tulisan-tulisan Rumi. Inilah juga cara yang dipakai oleh Chittick dalam The Sufi Doctrine of Rumi. Memang, menjelang abad kesembilan belas, mazhab wahdah al-wujud Ibn ‘Arabi ini telah memberikan arah untuk sebagian besar diskusi tentang kerangka teoretis sufisme.

Seperti Chittick, saya percaya bahwa membiarkan Rumi berbicara sendiri–sebagaimana dilakukan Chittick dengan bukunya yang lebih belakangan, The Sufi Path of Love–tetap diperlukan. Namun, memahami Rumi dalam kerangka wahdah al-wujud juga tidak terhindarkan. Dan ini bukannya tanpa dasar yang kuat. Selain kemiripan-kemiripan yang begitu melimpah di antara keduanya, Rumi hidup di masa-masa yang dekat dengan masa hidup Ibn ‘Arabi. Keduanya diduga pernah bertemu di Konya. Yang jauh lebih penting dari itu, Rumi adalah sahabat karib Shadr al-Din al-Qunawi, murid dan anak tiri Ibn ‘Arabi sekaligus penerus langsung dan paling penting Ibn ‘Arabi. Tak sulit diduga, keduanya menyerap juga semangat zaman (zeitgeist) yang sama.

Pada awalnya, dalam syarah atas cuplikan-cuplikan puisi Rumi yang akhirnya terekam dalam buku ini, saya juga tidak secara khusus merencanakan untuk melihat pemikiran Rumi dari sudut pandang Ibn ‘Arabi. Tapi, mungkin juga karena keterbatasan wawasan saya tentang Rumi, secara tak terhindarkan penafsiran saya begitu saja didominasi oleh teori-teori ‘irfân Akbarian itu. Memang dengan itu kemudian makna puisi-puisi Rumi terasa lebih terang-benderang. Belakangan, saya dapati ada beberapa kesejajaran antara buku saya ini dengan The Sufi Doctrine of Rumi, meski jangkauan buku ini sedikit lebih luas–dalam makna, lebih global–dari buku yang disebut terdahulu. Maka, selain berbicara tentang concern utama Rumi tentangTuhan, alam, dan manusia dari sudut pandang ‘irfân, buku ini juga menyoroti pemikiran Rumi tentang cinta sebagai satu-satunya jalan besar menuju Allah, serta metode-metode teknis yang bisa memandu kita melewati (bersuluk) di jalan itu.

Maka, saya hanya bisa menganjurkan agar para pembaca tak merasa cukup dengan membaca buku ini untuk memahami pemikiran-pemikiran Rumi. Ada sedikitnya dua buku karya Schimmel di samping banyak buku lain tentang Rumi yang penting dibaca oleh peminat serius pemikiran-pemikiran Rumi. Tapi yang sangat penting, Anda–para pembaca yang budiman–perlu sedikitnya membaca The Sufi Path of Love karya Chittick, yang mencoba lebih banyak membiarkan Rumi berbicara sendiri. Mudah-mudahan dengan itu, buku ini akan bisa memberikan manfaat lebih banyak dan keterbatasan-keterbatasannya bisa diatasi.[]