fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Rekomendasi Bacaan untuk Tujuhbelasan

Rekomendasi Bacaan untuk Tujuhbelasan

Selamat memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, Sahabat Mizan!

Sudah 74 tahun bangsa kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dipimpin oleh Soekarno dan Hatta, kita berhasil membebaskan diri dari penjajahan. Namun, apakah kita benar-benar sudah bebas merdeka?

Kenyataannya, hingga saat ini kita masih saja dijajah. Bukan dijajah oleh bangsa lain, melainkan dijajah oleh kemalasan kita sendiri. Terutama kemalasan dalam membaca.

“Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” ? Mohammad Hatta

Nah, sambil memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia, yuk simak buku-buku yang cocok untuk Sahabat Mizan baca:

 

  1. Ini Bukan Kudeta – Salim Said

 

Cita-cita mencapai civil society adalah sebuah tujuan yang diperjuangkan oleh sebagian masyarakat Indonesia. Setelah tiga dekade lebih berada di bawah kekuasaan rezim Orde Baru yang militeristik, perjalanan 20 tahun reformasi tak juga memunculkan pemerintahan sipil yang kuat dan berdaulat. Bahkan, akhir-akhir ini muncul “kerinduan” untuk mengembalikan pemerintah bernuansa militer. Seakan-akan pemerintahan sipil tak bisa memberikan jaminan keamanan dan stabilitas bagi Indonesia. Benarkah demikian?

Pakar ilmu politik dan militer Indonesia, Salim Haji Said, memaparkan transisi pemerintahan dari sistem militer ke sipil dan sebaliknya di Thailand, Mesir, Korea Selatan, dan Indonesia. Apa yang terjadi dalam transisi pemerintahan di keempat negara tersebut? Apa kesamaannya dan apa perbedaannya? Dan, apa pelajaran yang bisa ditarik oleh Indonesia dari peristiwa transisi pemerintahan dari militer ke sipil dan sebaliknya di negara-negara tersebut?

Dengan analisis bernas, Salim Haji Said mengupas semua peristiwa di negara-negara tersebut dan menjabarkan hal-hal apa saja yang dibutuhkan Indonesia agar bisa beralih ke negara civil society yang berdaulat.

 

  1. Kartini : Sebuah Novel – Abidah El Khalieqy

 

“Aku tidak akan menikah. Aku bisa jadi diriku sendiri. Aku bisa berdaya tanpa laki-laki.” Dia hanya lulusan E.L.S.-bagaimana mungkin berani melantangkan sumpah menentang ikatan pernikahan? Menabrak akar tradisi, perempuan muda itu juga memiliki prespektif tentang dunia yang begitu jauh. Meradang terhadap ketidakadilan zamannya, pemberontakan Sang Putri Pingitan bak moncong senjata, yang bahkan mengentak kesadaran seorang Ratu Wilhelmina. Memahami Kartini, berarti menyelami perasaannya akan nasib Ngasirah yang terusir dari rumah utama. Menyelami pedihnya harus memanggil ibu kandungnya itu dengan sebutan Yu, layaknya kepada pembantu. Menghayati lukanya menyaksikan Kardinah, adik kandungnya, menderita akibat dijadikan istri kedua; melihat kepedihan perempuan yang seolah menjadi-jadi usai pernikahan. Sementara di sisi lain, dia harus pula menghadapi para politisi busuk yang menikungnya dengan berbagai tindakan brutal. Sungguh sebuah hidup yang penuh, bahkan ketika pada akhirnya Kartini menemukan satu-satunya yang dia kehendaki, “Ingin betul saya menggunakan gelar tertinggi, yakni hamba Allah.”

 

  1. Ensiklopedia Keislaman Bung Karno – Rahmat Sahid

 

Nyaris tak ada yang meragukan ketokohan Bung Karno sebagai pemimpin besar revolusi sekaligus sosok yang visioner. Namun, akibat upaya desoekarnoisasi, tak sedikit pula yang memberikan penilaian negatif terhadap Bung Karno. Namanya sengaja dinegatifkan, termasuk dianggap tidak memihak pada Islam, bahkan ada yang meragukan keyakinannya terhadap Tuhan.

Buku ini menyajikan cerita-cerita menarik di balik panggung politik Bung Karno. Ketika Bung Karno melawat ke negeri komunis Soviet muncul pro-kontra di publik. Tapi, tahukah alasan sebenarnya mengapa Bung Karno ke sana? Bagaimana Bung Karno memasukkan syarat ke Soviet? Juga soal bagaimana sampai Soviet kembali membuka masjid yang kini dikenal dengan nama Masjid Biru Soekarno hingga ditemukannya Makam Imam Bukhari.

Buku ini juga memuat perjalanan spiritual Bung Karno, termasuk cerita pahit pembuangannya oleh pemerintah Kolonial Belanda yang justru meninggalkan beberapa jejak masjid yang masih ada hingga kini.

Ensiklopedia Keislaman Bung Karno ini memberikan gambaran yang utuh tentang pemikiran Bung Karno terhadap Islam dengan seluk-beluknya. Menyajikan pemikiran Bung Karno tentang Tuhan, Islam, Al-Quran, Nabi Muhammad, dan Nilai-nilai Islam. Juga pergaulannya dengan tokoh-tokoh Islam dalam perjuangan kemerdekaan dan pengaruhnya terhadap Dunia Islam.

 

  1. Hatta: Aku Datang Karena Sejarah – Sergius Sutanto

 

“Aku telah memilih pergerakan sebagai jalan hidupku, dan aku pun harus siap menerima segala konsekuensinya.” Beri Hatta lima pilihan, rendang, laut, buku, sekolah, dan Makkah, maka tanpa ragu dia akan memilih Makkah. Sebuah pilihan yang didasari pengaruh Pak Gaek, sang kakek yang menggantikan peran ayah semenjak Hatta menjadi yatim. Tetapi, sang ibu tak ingin Hatta pergi ke Makkah. Alhasil, nasib pun membawa Hatta muda ke Jakarta kemudian ke Belanda. Bersinggungan dengan ketidakadilan penjajahan membuatnya bergabung dalam pergerakan nasional. Sebuah pilihan penuh risiko yang membuatnya terbuang ke Digul hingga Banda Neira. Pilihan itu pula yang mengantarkannya bertemu dengan Soekarno, Sjahrir, dan orang hebat lainnya. Sjahrir yang suka pesta dan Soekarno yang mengantarkan Rahmi untuknya. Meski akhirnya, dia terpaksa melihat bagaimana para sahabatnya ini berlintang jalan, dan dia sendiri pun tersingkir, Hatta tak pernah membenci. Hatta: Aku Datang karena Sejarah, ditulis Sergius Sutanto yang telah menghasilkan sebuah film dokumenter tentang Hatta. Dengan landasan riset mendalam dan dukungan keluarga, novel ini akan membawa kita lebih dekat pada sosok pribadi bapak bangsa ini.

 

  1. Mata Air Keteladanan – Yudi Latif

 

Buku ini menawarkan keteladanan tokoh-tokoh berkarakter, terkategorisasi dalam kelima sila masing-masing. Tokoh-tokoh seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, merekalah sebagian contoh sumber mata air keteladanan Pancasila dalam perbuatan. Pembinaan dan pengembangan karakter tidak hanya dalam pengetahuan, tetapi dalam perbuatan. Merekalah sosok-sosok yang menghargai perbedaan, manusiawi dan santun, mencintai tanah airnya, demokratis, adil dan solider.