fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Penjara dan Pengasingan Seorang Pramoedya Ananta Toer

Penjara dan Pengasingan Seorang Pramoedya Ananta Toer

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” – Nyai Ontosoroh kepada Minke dalam Tetralogi Buruh.

6 Februari lalu merupakan hari kelahiran salah satu sastrawan ternama asal Indonesia yakni, Pramoedya Ananta Toer. Beliau lahir di Blora, Jawa Tengah pada tahun 1925. Pramoedya Ananta Toer, atau yang akrab disapa Pram, hingga saat ini masih dianggap sebagai salah satu penulis terbaik asal Indonesia yang tulisannya telah dibaca hingga ke mancanegara. Buku-buku fiksi maupun non fiksi yang ia hasilkan terhitung telah mencapai puluhan judul. Beberapa di antaranya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

Tulisan-tulisannya yang terkenal dengan kritik tajam beberapa kali membawa ia ke dalam penjara. Dari zaman penjajahan belanda, lalu di pemerintahan Soekarno, dan terakhir saat Soeharto mencapai puncak kekuasaannya setelah peristiwa 65. Kedekatan Pram dengan Organisasi kiri yang lekat dengan Partai Komunis Indonesia, kembali menjadikan ia sebagai tahanan. Pram dicap sebagai simpatisan komunis. Di tahun 1969, Pram diasingkan di Pulau Buru, Maluku selama 14 tahun.

Dalam masa pengasingan tersebut Pram tak berhenti berkarya. Ia menghasilkan naskah-naskah buku yang kelak menjadi karya-karya monumentalnya, seperti novel Tetralogi Pulau Buru yang termahsyur. Novel tersebut terdiri dari 4 buku, yakni “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah” dan “Rumah Kaca” yang terbit secara bertahap dalam rentang tahun 1980 hingga 1988.

Novel Tetralogi Pulau Buru tersebut berlatar kehidupan pribumi dalam masa kolonial. Tokoh utama yang dihadirkan dalam novel tersebut bernama Minke yang merupakan tokoh fiktif yang merepresentasikan Tirto Adhi Soerdjo, yaitu Bapak Pers Indonesia dan pelopor kesadaran pergerakan Nasional.

Kisah hidupnya selama masa pengasingannya di Pulau Buru juga ia ceritakan dalam bukunya yang berjudul “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1” dan “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2”. Dalam buku tersebut, ia menceritakan bagaimana ia dan teman-teman tapolnya memulai kehidupan di tanah yang begitu asing.

Pada tahun 1979 Pram akhirnya pulang dari pengasingan di Pulau Buru. Namun, cap sebagai simpatisan komunis yang telah melekat pada dirinya, membuat beberapa bukunya dilarang beredar oleh Jaksa Agung karena dianggap menyebarkan paham komunis. Salah satu karyanya yang berjudul “Gadis Pantai” merupakan novel trilogi. Namun malang, dua buku lanjutannya telah habis dibakar dan tidak bersisa sama sekali.

Setelah Soeharto lengser barulah buku-buku Pramoedya Ananta Toer bebas untuk dijual.
Berbagai penghargaan telah dinobatkan kepadanya. Bahkan ia sempat digadang-gadang akan menerima penghargaan nobel sastra.

Walaupun hampir sebagian dari separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara dan pengasingan, namun Pram dianggap sebagai penulis terbaik dalam sejarah penulisan di Indonesia.

Karena ia terus menulis, dan tulisannya takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Selamat Ulang Tahun, Pramoedya Ananta Toer.

 

(Ari/Mauline)