Masukkan kata kunci Anda

Pasar Kliwon Connection: Penerbit Mizan dalam Analisis Jaringan Sosial

Pasar Kliwon Connection: Penerbit Mizan dalam Analisis Jaringan Sosial

*Artikel di buku Milad Mizan ke-20 tahun 2003

Pasar Kliwon Connection: Penerbit Mizan dalam Analisis Jaringan Sosial

Jeroen Peeters*

Pasar Kliwon Connection

Sekilas, Pasar Kliwon di Surakarta tidak menam­pak­kan diri sebagai tempat bertumbuhnya akar sejarah salah satu pe­nerbit Islam terkemuka di Indonesia. Berlokasi di sebelah timur Istana Mangkunegaran, pada abad ke-19, Pasar Kliwon berkembang menjadi kawasan masyarakat Arab di Surakarta. Pada tahun-tahun awal kekuasaan Orde Baru, basis eko­nomi masyarakat migran Hadrami ini dibangun dari produksi dan distribusi tekstil (terutama batik dan kain tenun). Seba­gaimana tempat lain di Jawa, terdapat kaitan antara sektor ekonomi pasar ini dan bentuk-bentuk pelembagaan agama, yang disponsori dengan keuntungan yang diperoleh dari perdagangan dan perusahaan. Meskipun tradisi buku telah bercokol di Pasar Kliwon, tidak ada bukti bahwa komunitas istimewa ini juga memainkan peran penting dalam sejarah awal kelahiran penerbitan Islam di Indonesia. Toh, dalam komunitas inilah lahir para pelopor terkemuka penerbitan buku di Jawa.

Sejarah penerbitan buku di Indonesia selayaknya memberikan perhatian khusus pada perjalanan karier yang mengesankan dari Abdillah Toha (Assegaf). Lahir di Sura­karta pada 1942 dari keluarga kelas menengah atas migran Hadrami (keturunan Arab yang berasal dari Hadhramaut, Yaman Selatan)—ayahnya bekerja di sebuah pabrik tenun—Abdillah Toha mendapatkan pendidikan pertamanya di Sekolah Islam Diponegoro. Berlokasi di Pasar Kliwon, Se­kolah Islam Diponegoro ini didirikan oleh kelompok ter­pelajar Rabithah Al-Alawiah, yang di dalamnya keluarga Abdillah Toha pun menjadi anggotanya. Pada masa pen­jajahan, Sekolah Islam ini khusus diperuntukkan bagi ma­sya­rakat Arab. Namun belakangan, sekolah tersebut meng­ambil nama pahlawan nasional Diponegoro. Peluang untuk diterima di lingkungan nasional yang lebih luas inilah, kendatipun sebelumnya berasal dari komunitas Arab yang terbatas, turut memuluskan karier Abdillah Toha selanjut­nya. Setelah lulus sekolah lanjutan atas pada 1962, Abdillah Toha melanjutkan studi ke Australia, dan menerima gelar sarjana ekonomi dari Universitas Western Australia pada 1966. Gelar inilah yang memungkinkannya menjadi salah seorang karyawan Bank of America yang baru saja membuka cabangnya di Jakarta. Di sana, Abdillah Toha memulai tugas­nya di bagian kredit, satu di antara sedikit orang Indonesia yang bekerja di tengah karyawan lain yang sebagian besar orang Amerika.

Abdillah Toha rupanya tidak ingin terlalu lama meng­ikatkan nasibnya pada Bank of America, yang hanya sedikit memberi kesempatan berkarier bagi orang Indonesia. Bagai­manapun, tahun-tahun awal masa bekerjanya ini boleh jadi telah menanamkan rasa ketidaksukaan terhadap Barat[1]  dalam diri Abdillah; sebagian besar karena kontak langsung dengan rekan sejawat Amerika yang sama sekali tidak lebih unggul darinya, baik dalam jabatan maupun intelektualitas, tetapi dibayar lebih tinggi. Pada 1971, dia terlibat dalam se­­buah perusahaan properti, yang memiliki Hotel Sabang Metropole, salah satu hotel yang pertama dari generasi baru bisnis hotel di Jakarta. Setelah diselingi dengan bekerja sebagai konsultan manajemen, pada 1979, hanya sepuluh tahun setelah lulus sarjana, Abdillah Toha akhirnya men­capai puncak dengan menjadi CEO Jan Darmadi Corporation (JDC). Dipimpin oleh Jan Darmadi, salah seorang peng­usaha keturunan Cina terkemuka di Indonesia, pada tahun-tahun itu, aktivitas bisnis JDC berkembang pesat. Keber­hasilan JDC menarik perhatian pemburu (tenaga kerja) lain, yang mencari eksekutif berbakat. Pada 1984, Humpuss, konglomerasi bisnis yang dipimpin oleh putra bungsu Pre­siden Suharto, Hutomo Mandala Putra, menawari Abdillah Toha untuk memimpin lini industri petrokimia da­lam kelom­pok perusahaan itu. Hubungan dengan Humpuss hanya berlangsung hingga 1986 ketika Abdillah Toha memu­tuskan untuk memusatkan perhatian pada usaha bisnis sendiri.

Prestasi ini, meskipun sangat mengesankan, mungkin tak akan termuat di sini kalau bukan karena keponakan Abdillah Toha, Haidar Bagir (Al-Habsyi). Lahir di Surakarta pada 1957, Haidar bersekolah di sekolah yang sama dengan Abdillah Toha, Sekolah Islam Diponegoro; sekolah yang juga turut dikembangkan oleh ayahnya, seorang pengusaha batik di Pasar Kliwon. Setelah lulus SMA Negeri 1, Surakarta, Haidar memilih jurusan Teknik Industri di ITB (Institut Tek­nologi Bandung) pada 1976. Pada titik dalam perjalanan hidup Haidar inilah terdapat sesuatu yang khusus.

Pada pertengahan 1970-an, ITB menjadi titik utama kebangkitan Islam di kalangan mahasiswa, yang kemudian menyebar secara cepat ke berbagai universitas di Jawa. Pada tahun-tahun awal inilah, komunitas masjid ITB menggan­tung­kan diri sepenuhnya pada komunikasi lisan, dengan retorika pemimpin-karismatiknya, M. Imaduddin Abdulrahim, sebagai daya tarik utama. Dengan perkembangan kebang­kitan Islam yang demikian pesat sementara komunitas ITB sendiri demikian sempit, secara bertahap komunitas itu memerlukan jaringan komunikasi yang lebih canggih. Pada 1970-an, sebuah jurnal mahasiswa Islam, Pustaka, dipelo­pori oleh Ammar Haryono, seorang pustakawan ITB, meng­ajak Haidar Bagir menjadi dewan redaksi.

Berbekal pengalaman dari Pustaka, Haidar Bagir memu­tuskan untuk memulai bisnisnya sendiri. Pada 1983, setelah lulus dari ITB, Haidar bermitra dengan teman kuliahnya, Ali Abdullah (Assegaf)[2]  dan Zainal Abidin (Syahab), mendirikan Mizan. Sebagai lulusan Jurusan Sipil ITB, Zainal telah mem­perkenalkan Haidar pada masjid ITB, yang di dalamnya dia dan Haidar juga menjadi anggota dewan redaksi jurnal Pustaka. Sementara itu, Ali Abdullah menimba pengalaman dalam penerbitan dari Al-Ma’arif, Bandung, yang pada masa­nya merupakan penerbit Islam terbesar di Indonesia. Setelah bersepakat dengan kawan-kawannya itu, Haidar meminta dukungan dari adik ibunya, Abdillah Toha, untuk mengum­pul­kan dana yang diperlukan bagi pendirian penerbitan itu. Demikianlah, saham Mizan juga dimiliki oleh Abdillah Toha, bekerja sama dengan Anis Hadi (Assegaf), salah seorang kawan lama Abdillah dari Pasar Kliwon, yang kebetulan menjadi tetangganya di Ciputat (Jakarta Selatan). Dengan cara inilah, suatu fondasi keuangan diletakkan untuk se­buah program penerbitan yang kelak akan mengungguli, baik pemain lama maupun pemain baru, yaitu Bulan Bintang dan Pustaka. Pada 1983, dengan modal awal hanya 25 juta rupiah,[3]  enam judul buku diterbitkan—produksi yang ke­mu­dian meningkat hingga 22 buku tahun berikutnya. Pada Juni 1995, katalog Mizan menyebutkan tidak kurang dari 237 judul, mencakup topik yang sangat luas mulai filsafat hingga pendidikan.

Buku pertama yang diterbitkan pada 1983 oleh Mizan yang berjudul Dialog Sunnah Syi‘ah layak mendapat perhatian khusus. Buku ini mencerminkan tujuan Mizan, nama yang diusulkan oleh Anis Hadi, (penerbitan) yang dimaksudkan untuk menyajikan pandangan yang lebih seimbang menge­nai Syi‘ah.[4]  Meskipun diakui bahwa Revolusi Iran merupa­kan titik penting yang memancing perhatian terhadap Syi‘ah di Asia Tenggara, ketertarikan terhadap Syi‘ah di kalangan para ulama (Sayyid) di Asia Tenggara sudah lebih dahulu muncul. Sebagian besar karena reaksi terhadap serangan gencar Reformasi (baca: modernis—peny.) Islam, Syi‘ah men­­dapat sejumlah pengikut di kalangan para Sayyid, yang merasa terancam posisinya sebagai kelompok pemuka masyarakat berstatus tinggi.[5]  Tekanan ini terutama sangat dirasakan oleh komunitas Sayyid Pasar Kliwon, yang di dalamnya gerakan Reformasi Islam, seperti Muhammadiyah dan Al-Irsyad, memiliki pengaruh yang lebih besar daripada di tempat lain di Jawa. Komunisme, yang muncul bersamaan dengan Reformisme Islam pada 1920-an, merupakan ke­kuatan lain yang secara intrinsik bertentangan dengan komunitas Sayyid di Surakarta. Pada 1950-an dan awal 1960-an, Surakarta berkembang menjadi salah satu kubu lokal Partai Komunis Indonesia di Jawa. Dalam kondisi (kuatnya gerakan Reformasi Islam, di satu sisi, dan ko­munisme, di sisi lain) ini, sisa-sisa rasa hormat yang diberi­kan oleh masyarakat kepada kalangan Sayyid pun mulai menghilang. Hal ini juga tecermin dari perubahan perilaku di kalangan ‘Alawiyyah sendiri. Khawatir akan perubahan status ini, alih-alih mempertahankan status dan prestise mereka, beberapa Sayyid yang berpendidikan memilih untuk menyamarkan asal-usul mereka. Gelar Sayyid pun ditanggalkan dan bahkan nama klan, salah satu referensi keterikatan terhadap Bâ ‘Alawî, ditinggalkan (nama klan dalam tulisan ini ditulis di dalam tanda kurung).

Dengan latar belakang perubahan sosial yang de­mikian cepat inilah para penulis Syi‘ah modern mendapat tanggapan positif. Dengan menggunakan idiom mo­dernitas, sementara tetap mempertahankan posisi khusus Ahl Al-Bait (keturunan Nabi), karya-karya mereka dapat diterima terutama di kalangan para Sayyid yang berpendidikan. Revolusi Iran pada 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini, yang juga seorang Sayyid, jelas menambah daya tarik Syi‘ah di kalangan pemuda ‘Alawiyyah di Indonesia. Kendatipun berakar dari kawasan lokal, pengenalan wacana Syi‘ah tidak semestinya dilakukan secara terpisah dari jaringan komunikasi global yang akan mengakhiri inde­pen­densi kultural yang telah menjadi ciri penerbitan Islam di era Sukarno. Buku pertama yang diterbitkan oleh Mizan itu berasal dari koleksi perpustakaan pribadi ayah Haidar, (Muhammad) Bagir, yang pada waktu itu memang memiliki perhatian terhadap Syi‘ah.[6]  Sumber yang terbatas ini segera digantikan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta, yang sangat aktif membagikan bahan-bahan cetakan pada 1980-an. Mahasiswa Indonesia yang kembali dari Iran juga semakin meningkat dan juga merupakan sumber informasi tambahan bagi Mizan.

Sudah tentu, dewan redaksi Mizan memerankan peran yang tidak mudah dalam mengumpulkan dan memilih bahan-bahan terbitan ini. Mereka bersikap hati-hati agar tidak terkesan menyerang. Karya-karya para penulis Sunni juga masih lebih banyak daripada judul-judul menyangkut Syi‘ah, dan belakangan kajian-kajian filsafat pun lebih banyak dipilih daripada isu-isu politis yang lebih sensitif. Meskipun masih berhubungan dengan penulis, seperti Muthahhari, Syari’ati, dan Khomeini, belakangan Mizan mengambil kebijakan menerbitkan judul-judul yang semakin beragam. Pertimbangan bisnis jelas memainkan peran penting dalam pergeseran ini. Untuk mendapatkan bahan bagi para penerjemah, yang sebagian besar para mahasiswa dari masjid ITB, buku-buku best seller dari ber­bagai penulis asing, mulai Annemarie Schimmel hingga Seyyed Hossein Nasr, kian banyak terdaftar dalam katalog Mizan. Dengan pemikiran ini pula Haidar Bagir mengunjungi London, atau lebih tepatnya toko buku Al-Huda yang ber­lokasi di Charing Cross, yang khusus menjual buku-buku Islam berbahasa Inggris.[7]

Di balik pelipatgandaan sumber bahan terbitan ini terdapat satu bisnis strategi yang tunggal. Sejak awal, Mizan memusatkan upayanya kepada khalayak akademik, yang seleranya terhadap bacaan keislaman kian terpicu oleh Revolusi Iran. Minat serupa juga tampak dalam pertum­buhan kelompok-kelompok kajian Islam di tingkat pen­didikan yang lebih tinggi, yang untuk mereka pula Mizan menyediakan bahan-bahan bacaannya. Sebagai konse­kuensinya, Mizan mendapatkan aura sebuah penerbit intelektual, sebuah citra yang secara hati-hati mereka jaga. Citra sebagai penerbit akademik yang mereka bangun secara sadar ini terutama tecemin pada perhatian khusus yang mereka berikan pada kemasan buku, terutama pada sampul. Mizan merupakan penerbit buku Islam pertama yang meme­lopori seni grafis pada sampul buku, dengan menunjuk G. Ballon, seorang mahasiswa Seni Rupa ITB, sebagai desainer grafis. Sampul yang demikian istimewa dan kertas putih yang digunakan oleh Mizan, telah menjadi sebuah kontras tersendiri terhadap buku-buku yang diterbitkan oleh para penerbit Islam kawakan, seperti Al-Ma’arif dan Bulan Bin­tang, yang biasanya menggunakan kertas koran dan sampul buku yang tidak imajinatif. Kemasan buku Mizan yang berbeda jelas membawa citra yang lebih bergengsi (secara intelektual). Perhatian terhadap detail juga diberikan dalam hal editing dan pencantuman kelengkapan akademis, se­perti catatan kaki, indeks, dan kepustakaan. Strategi-stra­tegi yang cermat ini selama bertahun-tahun tampak jelas mendatangkan hasil. Dengan memilih pembacanya berdasarkan kualitas sosial, alih-alih kuantitasnya, Mizan secara cepat memantapkan posisinya di segmen yang menguntungkan di tengah pasar buku Islam yang sedang berkembang. Pada 1993, selama sepuluh tahun keber­ada­annya, Mizan diperkirakan telah menerbitkan tak kurang dari 1,5 juta buku.[]

*Dikutip dari artikel Jeroen Peeters, Islamic Book Publisher in Indonesia: A Social Network Analysis. Sebagian paragraf yang tak langsung berkaitan dengan Mizan tidak dimuatkan dalam pengutipan artikel tersebut dalam buku ini. Catatan lain: semua catatan kaki diberikan oleh penyunting (Haidar Bagir, salah seorang penggagas dan pendiri Mizan) sebagai pembanding. Selebihnya, kami serahkan kepada pembaca untuk mengambil kesimpulan sendiri.

 

[1] Berdasarkan pengenalan saya terhadap Abdillah Toha, inilah saya kira suatu pernyataan yang terlalu menggeneralisasi (sweeping generalisation).

[2] Yang benar, Ali Abdullah baru belakangan diperkenalkan kepada Haidar oleh Zainal Abidin.

[3] Pada akhirnya, modal keseluruhan Mizan adalah sekitar 58 juta rupiah.

[4] Jika hendak dibenarkan oleh para penggagas Mizan, pernyataan ini harus diartikan bahwa tujuan Mizan adalah menyajikan infor­masi-informasi tentang Islam secara seimbang dari berbagai sudut pan­dang, termasuk sudut pandang kemazhaban. Persoalan pen­ting­nya menyajikan sudut pandang Syi’ah—yang, betapapun juga, tetap disajikan dalam bentuk dialog penuh toleransi dan konstruk­tif—adalah karena kenyataan bahwa mazhab ini sempat disalah­pahami oleh sebagian kaum Muslim di negeri ini.

[5] Sebenarnya ini adalah suatu generalisasi yang bisa menyesatkan. Meskipun barangkali bukannya sama sekali tanpa alasan, menga­itkan apresiasi para penggagas Mizan terhadap Syi‘ah dengan ke­bu­tuhan untuk memperkuat kembali prestise ke-Sayyid-an, per­nyataan ini mu­dah dibuktikan sebagai hal yang tidak tepat. Ke­nyataannya, tak sedikit juga—pasti tidak lebih sedikit dari yang mengapresiasinya—keturunan Arab dari kalangan Sayyid di Indonesia yang bersikap antipati kepada Syi‘ah. Sejalan dengan itu, tak sedikit pula keturunan Arab non-Sayyid atau warga negara pribumi yang mengapresiasi Syi‘ah bahkan tanpa sebelumnya pernah bersentuhan dengan anggota masyarakat Sayyid. Sebagai ilustrasi saja, seorang tokoh yang paling sering dikaitkan dengan Syi‘ah sejak awal keberhasilan Revolusi Iran—Dr. Jalaluddin Rakhmat—telah meng­apre­siasi Syi‘ah sebelum perkenalan saya dengannya tahun 1980. Menurut penuturannya, apresiasinya terhadap Syi‘ah telah muncul sejak masa-masa belajarnya di AS, yang bermula bah­kan sebelum Revolusi Iran meletus. Pada saat itu bisa dipastikan Dr. Jalaluddin belum memiliki kenalan Sayyid (Indonesia) yang sama-sama mengapresiasi Syi‘ah sepertinya.

[6] Sebenarnya, Muhammad Bagir, sejak sebelum adanya penyebaran tentang Syi‘ah pasca-Revolusi Iran memang tidak pernah merasa perlu untuk secara eksklusif mengikatkan diri pada suatu mazhab tertentu dalam Islam—Sunni atau Syi‘ah— baik dalam bidang tafsir fiqih, dan pemikiran keislaman pada umumnya. Gagasan me­nerbitkan Dialog se­mata-mata muncul dari adanya kebutuhan akan penyajian infor­masi tentang mazhab ini dari sudut pandang para pemeluknya sendiri—antara lain, akibat adanya kesalah­pa­ham­an seperti tersebut di atas. Yang pasti, tak termasuk di dalam­nya niatan untuk mempromosi­kan apalagi menyebarkan Syi‘ah di dalamnya. Kopi buku Al-Murâja‘ât, yang diterjemahkan menjadi Dialog itu, diperolehnya sebagai hadiah dari sebuah lembaga Syi‘ah di Timur Tengah yang memang biasa membagi-bagikan buku secara gratis, puluhan tahun sebelum Revolusi Iran. Sikap in­klusivistik Bagir dapat dilihat dalam karyanya yang berjudul Fiqih Praktis, jilid 1 dan 2 (Mizan, Bandung, 1999 dan 2002).

[7] Sejak awal, porsi buku Sunni yang diterbitkan oleh Mizan memang telah jauh lebih besar daripada buku-buku Syi‘ah. Bagi para penggagas Mizan yang percaya pada inklusivisme kemazhaban dalam Islam, kenyataaan bahwa mazhab Sunnah dipeluk oleh mayoritas kaum Muslim di negeri ini secara alami meniscayakan hal ini. Sementara itu, pergeseran ke arah buku-buku yang lebih akademik dan filosofis secara sederhana patut dinisbahkan kepada terjadinya perluasan wawasan keislaman para penggagas dan pengelola Mizan.