"Berikan pertolongan pada orang yang meminta pertolongan padamu, meskipun kau lihat ia mengenakan gelang emas di tangannya." (hadist)
"Ketika itu bulan Ramadhan 1943, desa kami kedatangan sekitar 17 orang dari ibukota Tirana. Kami membagi mereka ke rumah-rumah warga, dan keluargaku menampung tiga bersaudara dari keluarga Lazar. Kami pun membagi semua yang kami peroleh dari kebun dengan para pengungsi itu," demikian Lime Balla, satu di antara Muslim Albania yang ikut menampung para pengungsi Yahudi yang melarikan diri dari kejaran Nazi pada Perang Dunia II. Foto dan kisah perempuan yang kini berusia 92 tahun itu dimuat dalam buku Besa, karya fotografer Norman Gershman, yang baru-baru ini diangkat menjadi sebuah film dokumenter.
Demi mewujudkan ajaran Islam tentang menepati janji dan melindungi yang lemah, masyarakat Muslim Albania mempraktikkan Besa -adat kehormatan Albania yang memandang janji/sumpah seseorang sebagai sesuatu yang sakral. Dan Besa, menjadi alasan utama kaum Muslim Albania melindungi para pengungsi Yahudi pada Perang Dunia II. Besa pula, menjadi judul film dokumenter yang mengungkapkan perjuangan mereka menyelamatkan ribuan nyawa dari kekejaman Nazi.
“Kami tak melakukan sesuatu yang istimewa. Itu adalah besa!" demikian ujar Rexhep Hoxha, yang melakukan perjalanan ke Israel demi memenuhi janji ayahnha untuk mengembalikan buku-buku agama milik sebuah keluarga Yahudi yang mereka tampung pada PD II.
Pesan penuh kerendahan hati itu juga ditangkap oleh Norman Gershman, yang mengunjungi banyak keluarga Muslim Albania, para pelindung kaum Yahudi pada era terjadinya Holocaust. Mencoba menapaki kembali jejak kepahlawanan kaum Muslim itu, Gershman menemukan fakta bahwa mereka tidak memandang upaya penyelamatan itu sebagai sesuatu yang istimewa.
Gershman mengutip seorang pria yang ayahnya terlibat dalam upaya melindungi kaum Yahudi, mengatakan, "Apa istimewanya? Setiap orang di Albania akan melakukan hal yang sama. Kami hanya melakukan besa!"
Seorang pria Albania lain bahkan berujar, “Aku akan memilih putraku tewas ketimbang harus mengingkari besa-ku!"
Gershman mengatakan, “Siapa pun yang membutuhkan pertolongan, kalau mereka mengetuk pintu Anda, maka Anda punya kewajiban mutlak membantu dan menyelamatkan mereka, memelihara mereka, tanpa pandang bulu apakah mereka teman atau musuh Anda."
Film dokumenter Besa, yang diputar Jumat 3 Agustus lalu di San Fransisco, bukanlah yang pertama mengungkapkan tentang era Holocaust yang sampai sekarang masih penuh misteri itu.
Film lain, “Free Man”, yang dirilis pada 2011, menapaki jejak kepahlawanan pendiri Masjid Jami Paris dalam menyelamatkan kau.m Yahudi dari Nazi.
Film tersebut lahir hampir lima tahun setelah Robert Satloff, Direktur Washington Institute for Near East Policy, mengungkapkan dalam buku ya yang terbit 2006, "Among the Righteous", kisah masyarakat Arab yang menyelamatkan Yahudi pada era Holocaust.
Satloff menyebut dokumen Kementrian Luar Negeri yang berasal dari tahun 1940, tentang kecurigaan Nazi bahwa masjid itu terlibat dalam upaya perlindungan warga Yahudi. Dokumen itu sendiri ditunjukkan kepada Satloff oleh Imam Masjid Jami Paris, Dalil Boubakeur. [PN/Mizan.com/Dari berbagai sumber]
021-7865767
cs@mizan.com
konfirmasipembayaran@mizan.com