Anda boleh saja membenci matematika, namun Anda tentu tak ingin fobia itu menurun kepada putra-putri Anda, bukan? Problemnya, seringkali orangtua yang semasa sekolah membenci matematika, membesarkan pula anak-anak dengan perasaan yang sama.
Salah satu contoh adalah Tammy Jolley yang mengaku menderita "fobia-parah matematika". Merasa harus jumpalitan belajar aljabar dan statistik saat di sekolah menengah, Tammy pun kewalahan saat harus membantu putranya, Jason, 9 tahun, mengerjakan PR matematikanya. Ingin Tammy mengatakan pada putranya itu, "Ah, sudahlah, ini memang pelajaran susah. Wajar kalau kamu nggak mengerti." Namun ibu yang berkerja sebagai staf pengadilan itu memilih sebaliknya, yaitu menyemangati Jake.
Penelitian yang tengah dilakukan sejumlah ahli menyebutkan kaitan penting matematika dengan keberhasilan anak. Bahkan disebutkan dalam sebuah jurnal Psikologi Perkembangan keluaran 2007, keterampilan matematika pada masa taman kanak-kanak memberi gambaran yang lebih kiat tentang pencapaian akademik anak ketimbang kemampuan membaca atau kemampuan berkonsentrasi.
Isu ini menarik perhatian terutama di AS, karena remaja di sana mulai tertinggal dalam marematika ketimbang sebaya mereka di berbagai kawasan lain dunia. Dibanding para siswa di 33 negara industri, pencapaian matematika anak-anak AS berada di bawah rata-rata--demikian disebutkan hasil terbaru Program Penilaian Siswa Internasional.
Ternyata, orangtua memegang peran penting dalam memengaruhi sikap dan keterampilan matematika pada anak, dan ini diawali bahkan sejak masa balita. Mereka yang sering bercakap dengan putra-putrinya tentang angka-angka, dan menjelaskan aspek-aspek bentuk dan ruang dengan gerak dan kata-kata, cenderung berhasil menanamkan keterampilan matematika bahkan sejak usia 4 tahun. Hasil tersebut didapat dari penelitian yang dipimpin Susan C. Levine, seorang profesor bidang psikologi dan perkembangan di University of Chicago. Levine melakukan observasinya dari rumah ke rumah terhadap 44 anak usia pra-sekolah.
Bagaimanapun, kebanyakan orangtua tanpa sadar mengajarkan kepada anak-anak mereka ketakutan pada matematika. Mungkin mereka sekadar menanggapi pekerjaan rumah anak-anaknya dengan mengatakan, "Mama/Papa nggak pinter matematika," atau "Sudah 20 tahun nggak pernah bikin soal matematika." Pesan yang sampai kepada anak adalah bahwa matematika itu "mengerikan" dan mungkin mereka pun tak mampu mengerjakannya.
Tentu sangat mungkin orangtua yang fobia matematika membesarkan anak yang berhasil di mata pelajaran tersebut. Syaratnya adalah perubahan sikap si orangtua sendiri. Dan ini berarti menahan percakapan-percakapan negatif tentang matematika, menggabungkan matematika dengan permainan dan kehidupan sehari-hari, layaknya mereka mengajarkan membaca atau membacakan cerita, serta mendorong anak untuk menyelami problem-problem matematika tanpa rasa takut.
Mendorong rasa ingin tahu anak menjadi awal yang baik untuk ini. Adam Riess, peraih Nobel Fisika 2011, membombardir orangtuanya dengan pertanyaan-pertanyaan matematika pada masa kecilnya, dan mereka memperlakukan hal itu sebagai rasa ingin tahu anak yang alami. Dalam sebuah perjalanan bermobil pada usianya yang ke-8, alih-alih bertanya "Apakah kita sudah sampai?" Riess akan melihat speedometer dan menghitung berapa lama lagi waktu yang diperlukan untuk sampai ke tujuan. "Matematika tampak sebagai sesuatu yang sangat menarik bagiku," demikian Reiss yang kini mengajar Fisika dan Astronomi di John Hopkins University.
Untuk membantu anak mulai belajar dan tertarik matematika, orangtua tidak perlu terampil metematika. Menurut Dr. Levine, sekadar mengajarkan hubungan angka dengan benda-benda pun bisa menjadi awal yang baik. Menunjukkan angka 3 bersamaan dengan tiga biskuit yang berjajar, akan menjadikan anak memahami konsep jumlah secara lebih baik ketimbang meminta mereka berhitung dari 1-10 di luar kepala.
Bersama-sama menyelesaikan puzzle atau menggunakan gerakan untuk menggambarkan hubungan dimensi, seperti "lebih tinggi" atau "lebih pendek", dapat menanamkan kemampuan spasial yang berkaitan erat pula dengan keterampilan matematika. Demikian juga bermain balok kayu, dengan mengajak balita Anda membuat susunan balok seperti yang Anda buat, mengajarkan kepada mereka keterampilan bentuk dan ruang. Yang pasti, jangan berhenti mencari cara-cara menyenangkan untuk menumbuhkan ketertarikan anak Anda pada matematika. [PN, mizan.com/ Sumber: good.is]