.jpg)
Sambungan dari -->> Irfan AmaLee: Dakwah dengan Kasih Sayang, Bukan Ketakutan & Kebencian
Ada dua fenomena penyebaran informasi di internet, khusunya media sosial, yang mengganggu saya beberapa hari terakhir ini. Pertama, SaveMaryam (SM), sebuah kampanye yang bertujuan heroik: menyelamatkan akidah anak muda Islam dengan menjadikan isu kristenisasi sebagai titik awal kampanyenya, parahnya mereka menggunakan data keliru yang efeknya sangat fatal pada kerukunan umat beragama di Indonesia. Kedua, penyebaran foto-foto seputar pembantaian umat Islam di Myanmar yang kemudian diketahui bahwa foto-foto itu adalah manipulasi informasi.
Seorang blogger menyayangkan fenomena penyebaran informasi manipulatif yang berisi kebencian ini karena melihat fakta bahwa kebanyakan yang mengonsumsi dan menyebarkan informasi ini kebanyakan berusia di bawah 20 tahun (mereka yang akan menjadi pemimpin masa depan). Hanya beberapa hari yang lalu saya melihat postingan di Facebook, sebuah foto yang disebut sebagai pembantaian Muslim Myanmar. Foto itu menggambarkan mayat-mayat yang gosong, Sekilas saja kita bisa mengenali bahwa mayat-mayat itu adalah orang-orang Afrika, dan di foto tersebut ada para petugas palang merah yang juga orang-orang Afrika. Di postingan tersebut, disebutkan bahwa yang ikut menshare foto ini akan mendapat komisi 1 dolar. Baik dari pesan maupun visual, orang waras pasti akan mempertanyakan foto ini. Tapi begitu kecewanya saya melihat begitu banyak orang men-share foto ini (terutama remaja). Di kolom komentar saya melihat beberapa komentar seperti: “Subhanallah!” “Semoga Allah melindungi Muslim Myanmar” dan komentar-komentar lain berisi simpati, bahkan umpatan.
Melalui tulisan ini saya menghimbau pembaca, terutama pembaca muda, untuk lebih kritis dalam menerima, mencerna, dan menyebarkan informasi. Berikut ini beberapa tips sederhana dalam menyikapi informasi:
• Double check setiap informasi. Informasi yang kita terima dari social media, bisa kita cek kebenarannya dengan mencari pembandingnya atau review atas informasi tersebut. 'Mbah' Google pasti siap membantu untuk melakukan tugas ini.
• Berpikirlah dua kali (atau seratus kali) untuk melakukan share atas sebuah informasi. Pastikan bahwa informasi itu benar dan berasal dari sumber terpercaya, dan bermanfaat bagi orang lain. Ingat, sekali Anda share informasi yang salah, maka informasi itu kemungkinan besar akan di-share lagi, di-sharelagi dan Anda ikut bertanggung jawab atas penyebaran informasi yang salah.
• Abaikan atau hapus informasi yang bersifat sektarian, berusaha menggalang solidaritas satu kelompok, umat atau bangsa dengan menyebarkan kebencian pada kelompok lain. Beberapa social media menyediakan fitur report abuse agar postingan tersebut berhenti penyebarannya.
• Jangan ikut komentar di sebuah postingan yang kontroversial. Karena biasanya satu komentar akan mengundang komentar lain, yang akibatnya akan terjadi perdebatan yang tidak jelas dan menimbulkan kebencian. Jika ingin meluruskan informasi, tulislah dalam sebuah notes, blog, dengan jelas tegas, dan sopan. Kirim tulisan tersebut sebagai personal message kepada pemnyebar informasi yang salah tersebut, atau posting secara publik agar masyarakat luas dapat mendapat pelurusan informasi.
• Cari dan share berita atau artikel-artikel yang memberitakan tentang kebaikan, kerjasama antarumat beragama, aksi nyata untuk kemanusiaan, atau renungan yang dapat memperkuat keimanan sesuai agama Anda. Dengan cara inilah kita menggunakan media sosial sebagai sarana dakwah denganhikmah, dan mauizhah hasanah (kebijaksanaan dan nasihat yang baik).
* Pendiri PeaceGeneration Indonesia. Sedang menempuh S2 Studi Perdamaian, Brandeis University Boston, US.
021-7865767
cs@mizan.com
konfirmasipembayaran@mizan.com