![]()
Namanya Doug Saunders, Kepala Biro Eropa surat kabar Globe and Mail dan penulis buku terkenal Arrival City (tentang kawasan kumuh Mumbai, Rio, London, Paris, Chngqing, Los Angeles, dll. kota-kota yang menjadi pos pertama jutaan imigran dari pedesaan ke kawasan urban). Saunders tinggal di AS selama serangan 11 September. Dia juga sedang di London saat pengeboman subway Juli 2005. Dia juga melakukan reportase intensif tentang perang melawan teror dan Islamofobia di Eropa.
Saunders melihat beberapa waktu belakangan ini teori konspirasi tentang imigran Arab/Muslim yang akan menguasai benua biru tersebut--"Eurobia"--telah membantu kepopuleran para politisi sayap kanan. Sementara di AS, sikap-sikap anti-Muslim mencapai tingkat mengkhawatirkan, hingga empat kandidat presiden terkemuka Partai Republik menyebar citra yang salah tentang Muslim dan Islam, seringkali di hadapan para penyandang dana yang menderita Islamofobia akut.
Dalam buku terbarunya, The Myth of the Muslim Tide, Saunders mengungkap dan membantah sejumlah mitos (tentang imigran Muslim). Berikut di antara mitos-mitos tersebut:
Muslim cenderung beranak banyak.
Pada 2010, populasi Muslim di negara-negara Uni Eropa plus Switzerland dan Norwegia mencapai 18,2 juta atau 4,5 persen. Pada 2030, populasinya akan menjadi 29,8 juta jiwa — 7,1 persen. Pada 2050 akan mencapai 10 persen. Demikian menurut penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan di Eropa.
Sementara di Amerika, pada 2010 populasi Muslim diperkirakan sebanyak 2,6 juta. Pada 2030 akan 6,2 juta atau 1,7 persen--sama banyak dengan populasi warga Yahudi dan jamaah Gereja Episcopal.
Namun fakta ini diabaikan begitu saja, dan orang lebih banyak percaya pada video semacam "Muslim Demographics" yang di You Tube. Video tersebut sudah ditonton oleh 13 juta orang, meskipun "setiap orang mengatakan isi video itu tidak benar." (Saat ini, fitur komentar pada video You Tube tersebut dinonaktifkan--red.)
Islam berarti tingkat kelahiran yang tinggi.
“Tidak ada hubungan antara ajaran Islam dengan tingkat kelahiran," meskipun lima dari sepuluh negara dengan tingkat kelahiran tertinggi memiliki penduduk mayoritas Muslim. Disebutkan juga dalam buku ini, "Negara-negara Muslim saat ini mengalami penurunan tingkat kelahiran yang tercepat sepanjang sejarah...dan menjadi setara dengan negara-negara di Eropa."
Rata-rata jumlah anak per keluarga di Iran saat ini turun menjadi 1,7 anak, angka yang lebih rendah ketimbang di Inggris ataupun Prancis. Di Indonesia, rata-rata keluarga memiliki 2,19 anak, Turki 2,15, Tunisia 2,04, Uni Emirat Arab 1.9, Lebanon 1,86 dan Bosnia Muslim 1,23. Semuanya cenderung mengalami penurunan.
Mayoritas imigran adalah Muslim dan akan menjadi Muslim.
Menurut The Myth of Muslim Tide, "Kalaupun Dunia Barat akan 'tenggelam' itu bukan karena (gelombang imigrasi) Muslim."
Spanyol, yang dekat dengan dunia Arab, mendapatkan mayoritas imigrannya dari Rumania atau dari kawasan seberang Atlantik. Di Inggris, hanya 28 persen imigran beragama Islam. "Jika ada sebuah kelompok agama yang akan menguasai Inggris, ia adalah Katolik." Di Jerman, imigran Muslim kurang dari 15 persen, sebagian besarnya justru datang dari kawasan Eropa Timur.
Hanya Prancis yang memiliki imigran Muslim terbesar, tapi itu pun karena kebanyakan memang sudah menjadi warga Prancis sejak puluhan tahun lalu, saat Aljazair dan Tunisia masih menjadi wilayah Prancis.
Sedangkan Belgia, Belanda, dan negara-negara Skandinavia, menarik gelombang pengungsi dari kawasan Polandia, Romania, dan Rusia.
Imigran Muslim hidup terpisah dalam kawasan komunitas tertutup.
Mereka yang secara ekonomi kurang beruntung memang demikian, terutama di Eropa. Namun itu benar-benar karena faktor ekonomi. Mereka membayar "hukuman etnis dan agama di pasar tenaga kerja," demikian menurut sebuah penelitian terhadap 11 kota di Eropa oleh Open Society Institute.
Apa yang terjadi tak beda dengan, misalnya, kawasan kumuh Karibia (yang dihuni mayoritas penganut Kristen) atau Suriname (yang dihuni mayoritas pemeluk Kristen dan Hindu).
Di Kanada pun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa "warna kulitlah, bukan agama, yang memengaruhi kemampuan integrasi masyarakat, dan kemampuan Muslim berintegrasi secara sosial dan ekonomi tidaklah kurang (bahkan terkadang malah sedikit lebih) ketimbang kelompok lain dari etnis yang sama.
Diukur dari tingkat keterserapan tenaga kerja, kepemilikan rumah dan naturalisasi, penelitian lain juga menunjukkan bahwa "indeks asimilasi" Muslim Kanada mencapai yang tertinggi--77 dari 100. Amerika Serikat menyusul dengan skor 60, namun Muslim di Eropa jauh di bawah itu."
Muslim tidak setia pada negara yang menampungnya.
Sebaliknyalah yang terjadi, warga Muslim sangat berkomitmen. Sebuah jajak pendapat menunjukkan bahwa Muslim di Inggris dan Prancis, menunjukkan keterikatan yang kuat terhadap masing-masing negara tersebut ketimbang warga negara lainnya.
Imigran Muslim selalu penuh kemarahan.
Pada kenyataannya, Muslim berada di antara kelompok masyarakat paling bahagia dan memiliki tingkat kepuasan tinggi di Barat, seperti disebutkan laporan beberapa jajak pendapat.
Imigran Muslim ingin menerapkan Syariah Islam.
Faktanya, justru masyarakat Kristen Amerika yang menginginkan hukum negara berdasarkan pada Sepuluh Perintah Tuhan. Warga Muslim yang menggunakan hukum Islam, terutama di Inggris dan Amerika Serikat, melakukannya untuk persoalan-persoalan pribadi (misalnya membagi warisan), tak beda dengan yang dilakukan warga Kristen dan Yahudi.
Islam membiakkan terorisme.
Pada kenyataannya, para teroris cenderung merupakan individu-individu yang tidak taat pada agama (banyak yang mengonsumsi obat terlarang dan minum alkohol), yang terbawa oleh kelompok radikal, demi tujuan-tujuan politik atau pribadi, tapi bukan demi alasan-alasan agama. Setidaknya itulah yang disebutkan dalam laporan intelijen Inggris, MI5. Sangat sedikit yang dibesarkan di dalam keluarga religius. Bahkan ada bukti bahwa identitas religius yang dengan baik ditanamkan justru akan menghindarkan pemeluknya dari radikalisasi dan kekerasan.
Singkatnya, Saunders mengatakan bahwa semua hal di atas dan klaim-klaim lain terhadap Muslim "nyata-nyata tidak benar. Hipotesis gelombang (imigran) Muslim sama sekali tak ada dasar... Gagasan bahwa Muslim akan mengambil alih dunia hanyalah delusi." (PN/ mizan.com/ Haroon Siqqiqui-thestar.ca)