Masukkan kata kunci Anda

Moderate Islam in Indonesia

Moderate Islam in Indonesia

Jumat (12/07) lalu di Mizan Group Headquarter Jakarta berlangsung Majelis Fikr, acara rutin bulanan yang diadakan oleh Mizan Publika yang bertujuan untuk memperluas wawasan dan horison di kalangan internal Mizan dengan mengundang pembicara dari berbagai disiplin ilmu untuk bisa berbagi dan berdiskusi bersama. Dalam Majelis Fikr bulan agustus kemarin, tema yang diangkat adalah “Public Diplomacy, Soft Power, and the Making of Moderate Islam in Indonesia”. Narasumber yang diundang untuk membicarakan tema ini adalah James B. Hoesterey, seorang asisten profesor di Emory University yang pernah membuat riset tentang Aa Gym yang kemudian diterbitkan menjadi buku berjudul Rebranding Islam: Piet, Prosperity, and A Self Help Guri (Stanford University Press, November 2015)`

Diskusi dibuka dengan pemaparan Aa Jim, begitu biasa James Hoesterey dipanggil, tentang hasil penelitiannya mengenai Islam Moderat di Indonesia. Menurut Aa Jim, istilah Moderate Islam sendiri menjadi ambigu karena jika ada islam yang moderat, berarti ada juga islam yang tidak moderat. Latar belakang Aa Jim dalam penelitian ini ternyata adalah untuk menerangkan lebih lanjut mengenai strategi Diplomasi Publik. Diplomasi publik sendiri merupakan sebuah cara untuk membangun hubungan dengan cara memahami kebutuhan, budaya, dan masyarakat; mengomunikasikan pandangan; membenarkan mispersepsi yang ada dalam masyarakat internasional; mencari area dimana pemerintah dapat menemukan kesamaan pandangan (Leonard, 2002:8). Strategi diplomasi publik melalui Islam Moderat ini ternyata memang sudah dilakukan oleh pemerintah sejak era Presiden SBY. Saat itu, Menlu Hasan Wirajuda sempat bertemu dan berdiskusi dengan Hillary Clinton untuk membicarakan strategi ini. Namun ternyata bukan hanya dengan negara-negara barat Indonesia mengadakan diplomasi publik melalui Islam Moderat tapi juga dengan negara-negara yang tergabung di OKI (Organisasi Konferensi Islam). Dalam Arab Spring hal ini ternyata pernah dibahas. Indonesia dipandang sangat tepat untuk dijadikan contoh negara yang bisa menerapkan Islam yang moderat.

Namun dalam kenyataan di Indonesia, seperti yang sudah dibahas di atas, persoalan diplomasi publik melalui penggambaran Islam yang moderat akan terasa berat mengingat perkembangan hubungan antar umat beragama di Indonesia saat ini. Ditambah lagi belum ada figur yang tepat untuk mempromosikan Moderate Islam ini. Aa Jim berpendapat istilah Compassionate Islam lebih tepat dalam mengembangkan strategi diplomasi publik Indonesia ke luar negeri.

Aa Jim