fbpx

Enter your keyword

Metode Kindfulness Ajahn Brahm

Metode Kindfulness Ajahn Brahm

Kindfulness – Ajahn Brahm

 

SEBUAH pepatah kuno berkata bahwa dengan memperhatikan diri sendiri, seseorang telah memperhatikan sesamanya. Dan, dengan memperhatikan sesamanya, seseorang telah memperhatikan dirinya sendiri. Kindfulness, atau welas asih, topik utama dari buku kecil ini, adalah cara yang luar biasa untuk menghadirkan kebenaran tersebut ke dalam kehidupan kita.

Melalui berbagai cerita dan petunjuk langsung, saya akan memperkenalkan metode Kindfulness kepada Anda. Tak hanya itu, saya juga akan mengajari Anda sebuah cara ampuh untuk menjadi bijak dan menghadirkan sesuatu yang saya sebut sebagai “napas yang indah”.

Latihan ini berkembang secara bertahap dan semakin mendalam seiring berjalannya waktu. Saya akan membahas secara rinci kelima tahapnya dan cara-cara tidak langsung untuk melatih kewaspadaan melalui metode Kindfulness. Merasakan “napas yang indah” dengan semangat menghadirkan cinta adalah bagian dari latihan untuk mengasah kemampuan kita dalam menjaga diri. Dengan menjaga benak kita melalui metode Kindfulness, kita pun semakin mampu menjadi kekuatan kebajikan yang bertugas memperjuangkan kebaikan di dunia.

Di bagian selanjutnya dalam buku ini, kita akan mengalihkan perhatian pada welas asih, latihan untuk membuka pintu hati kita selebar-lebarnya. Latihan ini juga terdiri atas lima tahap, dan saya akan memberikan panduan pada setiap tahap. Sementara, kita pelan-pelan mengolah Kindfulness di dalam hati kita dan mengobarkan kemampuan untuk memancarkannya keluar tanpa batas hingga ke seluruh dunia. Welas asih merupakan cara yang ampuh untuk memperhatikan sesama—dan saya yakin Anda akan mendapati bahwa dengan memperhatikan sesama, hidup Anda akan menjadi kian menyenangkan, dan kian indah.

 

DI sebuah sekolah bisnis ternama beberapa tahun yang lalu, seorang profesor menyampaikan kuliah sosial ekonomi yang luar biasa kepada mahasiswanya. Tanpa menjelaskan apa yang tengah ia lakukan, dengan berhati-hati sang profesor meletakkan sebuah stoples kaca di atas meja. Kemudian, sambil memperlihatkan kepada para mahasiswa, ia mengeluarkan sekantong batu dan memasukkannya satu demi satu di dalam stoples, sampai tidak ada lagi yang bisa dimasukkan. Ia bertanya kepada mahasiswa, “Apakah stoples ini penuh?”
“Ya,” jawab mereka.

Profesor itu tersenyum. Dari bawah meja, sang profesor mengambil kantong kedua yang berisikan kerikil. Kemudian, ia menyelipkan bebatuan yang lebih kecil itu ke celah-celah di antara bebatuan besar di stoples. Untuk kali kedua, ia bertanya kepada mahasiswa, “Apakah stoples ini penuh?”
“Tidak,” jawab mereka. Sekarang mereka mengerti apa yang profesor itu lakukan.

Mereka benar, tentunya, sebab sang profesor mengambil sekantong pasir halus. Ia menuangkan sebagian besar pasir ke celah-celah di antara bebatuan dan kerikil di stoples. Ia kembali bertanya, “Apa stoples ini penuh?”
“Mungkin tidak, Profesor, kalau melihat apa yang sedang Anda lakukan,” jawab para mahasiswa.

Tersenyum mendengar jawaban mereka, profesor itu mengambil sekendi kecil air. Ia menuangkan air ke stoples yang dipenuhi oleh bebatuan, kerikil, dan pasir. Setelah stoples itu tidak dapat menampung air lagi, ia meletakkan kendi dan memperhatikan mahasiswanya.
“Jadi, pelajaran apa yang kalian dapat?” tanyanya kepada para mahasiswa.
“Bahwa betapa pun penuhnya jadwalmu,” sahut salah seorang mahasiswa, “kau selalu bisa menambahkan sesuatu lagi!” Toh, itu sekolah bisnis ternama.
“Bukan!” seru sang profesor tegas. “Pelajaran barusan menunjukkan bahwa kalau ingin memasukkan bebatuan besar, kau harus memasukkannya lebih dulu.”

Pelajaran itu menunjuk kepada prioritas.
Pastikan Anda mendahulukan “bebatuan yang berharga”, kalau tidak Anda tidak akan bisa mengaturnya, menambahkannya ke hari-hari Anda.