fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Merayakan Kefakiran

Merayakan Kefakiran

Saya semakin lama semakin benar-benar paham makna hadis ini: “Hati manusia itu berada di antara dua genggaman Allah”.  Manusia ini dengan nyamuk saja bisa kalah, apalagi kalau Pencipta kita mengurangi atau menambah hormon dan enzym-enzym yang diproduksi tubuh kita. Manusia bisa gila, depresi, atau skizoprenik, tanpa dia sendiri bisa membetulkannya.

Untungnya ada versi hadis yang menyebutkan bahwa hati kita berada di antara dua jari atau genggaman ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Penyayang). Jadi kita bisa merasa tenteram bahwa yang Maha Kuasa akan pada puncaknya memilihkan yang terbaik dalam kehidupan kita.

Kalau sudah begini, hanya orang tidak waras yang masih mau sombong. Baik sombong karena ras, status, kekayaan, maupun kepintaran. Apa pun yang dia punya adalah pemberian -bahkan hanya pinjaman – dari Dia yang mengendalikan kita. Sewaktu-waktu bisa diambil dari kita tanpa kita bisa berbuat apa pun.

Maka, kalau pintar, kaya, atau berkuasa, orang bijak akan menggunakan semuanya itu untuk menolong orang, menolong sesama makhluk Tuhan, sambil tetap tak pernah lupa untuk rendah hati. Lagi pula, orang (lebih) pintar dari kita itu banyak. Jangan minteri (sok), saling belajar saja. Mudah-mudahan dengan  itu kita bisa hidup bahagia.

Ya, manusia ini fakir; bukan hanya tak berdaya, tapi tak tahu apa-apa.  Bagi manusia, semulia apa pun posisinya di bumi, semua kehidupan ini hanya bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, di balik bayangan, sampai mungkin ada ribuan lapis bayangan. Yang kita persepsi ini hanya kerlip dari sumber cahaya yang jauh, setelah dipantulkan mungkin ribuan kali.

Kata Nabi, “al-faqru fachriy”. Sebuah permainan kata yang cerdas, “kefakiran adalah kebanggaanku”. Karena hanya orang waras/intelligen yang sadar kefakiran dirinya, di hadapan ke-Maha Kuasa-an Allah.

Di samping itu, fakir terhadap Allah yang Maha Rahman itu enak. Hidup kita justru akan terjamin. Yang paling dahsyat itu adalah; Nabi yang -dalam mi’raj telah mencapai martabat “kebersatuan” dengan Allah, martabat qaaba qawsayn (dua busur panah)- masih menyatakan “kefakiran adalah kebanggaanku”. Ini membenarkan kesadaran kita bahwa kehidupan kita -yang nowhere near the Prophet  Saw- sesungguhnya, jangankan “kerlip” sinar yang sudah dipantulkan beribu kali itu”, bahkan kerlip sinar yang dipantulkan tak terbatas kali. We’re (almost) nothing!!!

Hal ini akan menjadi jelas kalau kita ilustrasikan melalui kisah pertemuan Rumi dengan Syams Tabrizi yang amat terkenal itu.

Suatu kali, Rumi yg memiliki jabatan yang dimuliakan di Konya, sedang menaiki kudanya dengan gagah di jalanan kota Konya. Tiba-tiba dia melihat seorang bertubuh kecil berpenampilan sufi qalandari -dengan baju dan rambut acak-acakan- menghentikan perjalanannya. Di luar dugaan Rumi, sang qalandar mendadak sontak bertanya: “Siapa yang lebih mulia, Nabi Muhammad atau Bayazid Busthami?”. Rumi yang shocked menanggapi: “Pertanyaan apa ini?” Jawab si qalandar: “Nabi mengatakan tentang Tuhan: ‘Kami tak bisa memuji-Mu sebagaimana Kau seharusnya dipuji’, sementara Bayazid berkata: ‘Maha Suci Aku. Betapa Agung keadaanku’. Rumi kebingungan, lalu si qalandar melanjutkan: “Tentu Nabi yang lebih mulia. Nabi yg sudah begitu tinggi pengetahuannya tentang Tuhan, masih menyadari bahwa Tuhan jauh lebih luhur dari itu. Sedang Bayazid, dengan pengetahuan ketuhanan yang masih jauh lebih rendah dari Nabi, sudah merasa mencapai tingkat kebersatuan dengan-Nya’”

Ya, jangan bicara tentang Nabi Saw, bahkan terhadap Bayazid kita tak bisa diperbandingan. Maka, masih adakah jalan lain bagi manusia tak berdaya ini kecuali bersujud di hadapan-Nya? []

(Haidar Bagir)

 

Pernah dimuat di mizan wacana