Masukkan kata kunci Anda

Menjadi Tamu di Rumah Karen Armstrong

Menjadi Tamu di Rumah Karen Armstrong

Menjadi Tamu di Rumah Karen Armstrong

oleh: Sari Meutia

Kalau saat ini ditanya, dari sedikit kota yang pernah saya kunjungi di dunia ini, kota apa yang paling berkesan untuk saya? Saya akan menjawab: London. Ya, London. Kota ini menjadi begitu berkesan bagi saya, karena selain dapat berkunjung ke pameran buku London (London Book Fair) 2013, saya juga mendapat kesempatan untuk menjadi tamu di rumah penulis bestseller dunia, Karen Armstrong.

Saya tidak menyangka bahwa permintaan untuk bertemu Karen di London, ditanggapi dengan baik oleh Karen. Bahkan, Karenlah yang menyarankan pertemuan di rumahnya. Tujuan saya bertemu Karen adalah memastikan kedatangannya ke Indonesia pada Juni 2013 atas undangan penerbit Mizan yang akan mengadakan milad ke-30 (http://mizan.com/event_det/30-tahun-mizan-3-festival-3-awards-3-bulan-3-kota), sekaligus membuat rekaman dirinya terkait kedatangannya tersebut.

Pertengahan April itu, cuaca, walaupun cerah, masih sangat dingin (sekitar 6-8 derajatcelcius) dan berangin. Saya berjalan kaki dari stasiun kereta menuju kawasan kediaman Karen. Jaket menutup erat tubuh saya yang terbiasa diterpa matahari panas khatulistiwa. Jadwal pertemuan kami pagi itu adalah pukul 11.

Kawasan kediaman Karen di London

Kawasan kediaman Karen di London

Berbekal google map dan sekali bertanya distasiun mengantarkan saya ke rumah Karen lebih awal 15 menit dari waktu yang dijanjikan. Karena itu, walaupun sudah menemukan pintu rumah Karen dan dalam keadaan kedinginan, saya tetap bersabar untuk tidak mengetuk pintu rumahnya.

Menunggu di depan pintu rumah Karen

Namun, seolah menjawab doa orang yang sedang kedinginan, datang petugas DHL mengetuk pintu rumah Karen untuk mengantarkan paket. Karen sendiri yang membukakan pintu, menandatangani serta menerima paket, dan….tertegun melihat seorang perempuan berjilbab di depan pintu rumahnya.

Saya seperti mendapat peluang untuk menyapanya: “I am Sari Meutia from Mizan Indonesia.” Karen menjawab: “Oo… you are a little bit earlier, dear. I am still working. You can come in, but we still have to stick to our schedule.”  Saya memang sudah diberitahu sebelumnya bahwa Karen hanya menyediakan waktu 30 menit untuk bertemu saya. Wow, Inggris banget pikir saya. Tapi, tak apalah, untuk seorang penulis besar seperti Karen Armstrong.

Sudah 10 tahun terakhir ini, Mizan berupaya mendatangkan Karen Armstrong ke Indonesia, tapi tidak pernah berhasil. Jadwal saya padat, saya tidak tahan panas, bermacam alasan dikemukakan Karen. Namun, kami tidak pernah menyerah. Sampai akhirnya,awal 2013—melalui agennya, Karen menyatakan kesediaannya datang ke Indonesia. Mungkin Karen melihat buku-bukunya cukup banyak diterbitkan di Indonesia, dan terjual cukup baik. Mizan saja sudah menerjemahkan dan menerbitkan 8 buku Karen.

Jadwal Karen memang sangat padat. Terutama setelah peristiwa 9-11 di AS. Kepopuleran bukunya dan kefasihan Karen berbicara tentang Islam membuatnya diundang untuk berceramah di mana-mana di seluruh dunia—baik di negara-negara sekuler maupundi negara-negara Islam.

Karen bercerita bahwa baru seminggu lalu dia kembali dari perjalanan pulang hari ke Chicago AS. Karen diundang oleh Oprah untuk rekaman program baru Oprah yang lebih serius dan dalam dibandingkan Oprah Show.

Selain menulis—yang menjadi pekerjaan penuh waktunya, nyaris setiap bulan Karen bepergian untuk berceramah. Pada bulan Mei ini, dia diundang ke Brazil, dan secara terus terang dia menyampaikan permintaan maaf kepada saya bahwa dia belum sempat berkonsentrasi memikirkan soal kunjungannya ke Indonesia saat ini. “Di kepala saya saat ini, masih penuh tentang agenda saya ke Brazil. Selesai perjalanan ke Brazil, saya akan mulai mempersiapkan diri saya untuk Indonesia.”

Walaupun Karen tipe perempuan yang tampaknya terbiasa mengerjakan segala sesuatu one at a time, proses rekaman dengan wanita pintar yang masih sangat energik pada usia 68 tahun ini, berjalan dengan sangat baik.

Karen siap mengunjungi fansnya di Indonesia

Karen siap mengunjungi fansnya di Indonesia

Pemenang  TED Price Wishdan penggagas Charter of Compassion (bukunya Compassion: 12 Langkah Menuju Hidup Berbelas Kasih diterbitkan Mizan)  sangat antusias mempromosikan gagasannya tentang cinta/belas kasih dan saling pengertian antar umat beragama.Menurut Karen, pada dasarnya setiap agama memiliki kesamaan yang disebutnya golden rules (kaidah emas). “Cintailah orang lain sama dengan seperti kamu mencintai dirimu sendiri.”

Sewaktu menulis The Great Transformation, misalnya, yang berfokus pada tahun 800 hingga 300 SM, ketika agama-agama besar mulai muncul, Karen mengatakan: “Kita masih memerlukan buku semacam ini, karena penemuan penting dari zaman itu adalah penemuan cinta/belas kasih sebagai kebajikan utama.”

Karen berharap setelah kedatangannya ke Indonesia, semangat dan gerakan Charter of Compassion dapat terus hidup di Indonesia.

Karen kerap bepergian ke negara Muslim—seperti Mesir misalnya, dan mengalami masalah di imigrasi. Dia berharap, setelah belasan jam terbang, dia tidak harus berurusan dengan imigrasi yang meletihkan dan merepotkannya karena hal-hal teknis.

Saya memandang Karen sebagai perempuan yang mempunyai dua sisi yang menarik. Dia—sudah pasti—sangat pandai, mempunyai disiplin tinggi terkait pekerjaannya (menulis), tepat waktu, to the point, seperti umumnya orang  Barat. Tapi, di sisi lain, dia memiliki kehangatan khas perempuan seperti menawarkan teh, membukakan jaket saya dan menyimpankannya, serta tertawa sangat lepas saat kami berbagi cerita lucu.

See you in Indonesia, KarenSaya sempat bertanya, mengapa tidak menulis buku tentang perempuan. Jawaban Karen: “Saya tidak menikah, saya tidak berkencan, saya tidak pernah hamil dan melahirkan. Banyak hal tentang perempuan yang saya tidak tahu.” Jawaban sangat bersahaja dari seorang penulis Sejarah Tuhan dan sejarah agama-agama besar di dunia.

Saya akhirnya harus pamit dari rumah Karen yang hangat dan penuh buku. Waktunya bagi Karen untuk kembali bekerja: menulis. Pertemuan itu memang singkat, tapi jauh lebih lama dari waktu yang sudah disepakati.

Sampai ketemu di Indonesia, Karen. Mudah-mudahan semangat compassion yang kau tularkan kepada kami dapat memperkukuh jalinan pengertian baik intra maupun lintas agama di Indonesia.

[] Sari Meutia, London, 16 April 2013