Masukkan kata kunci Anda

Menggali Khazanah Islam, Menjual “Badai” pada Abad Cyberspace, dan “Melaju Menuju Kurun Baru”

Menggali Khazanah Islam, Menjual “Badai” pada Abad Cyberspace, dan “Melaju Menuju Kurun Baru”

*Artikel di buku Milad Mizan ke-15 tahun 1998

“Kami di Amsterdam sangat membutuhkan informasi tentang buku-buku baru mengenai Islam yang terbit di Indonesia … Saya secara pribadi merasa kagum atas terciptanya website Mizan ini, sebab ini dapat menjadi tolok ukur perkembangan teknologi di tanah air … Alhamdulillah bisa gabung dengan Mizan lagi tu’ ngikutin terbitan2 barunya, and of course isinya. Namun, kalau boleh tolong dong naiknya (harga2nya) jangan terlalu tinggi … Tampilannya menarik, aksesnya cepat. Selamat dan sukses untuk Mizan … Saya merasa bangga setelah menemukan homepage Mizan ini … Semoga jaya, jalan terus, bertandang ke gelanggang walau seorang … Bagus dan terus kerjakan seperti ini dengan landasan religius yang tinggi … Mr. Putut (Widjanarko, Direktur Pelaksana Penerbit Mizan), Ass. wr. wb. I’ve already read yr site. May I have yr free new book as advertise on yr site? Kindly send them to my home address. Good luck. Wass. wr. wb.”

—Sepucuk e-mail yang dikirim ke Mizan-Online

Inilah kurun baru Penerbit Mizan. Mengglobal, teknologis, dan terus berubah. Memasuki usianya ke-15, Mizan ditantang pelbagai perubahan. Ada seabrek krisis yang membuat sesak napas. Ada banjir informasi yang memaksa positioning citra terus-menerus dipertajam. Ada juga dorongan kritik yang semakin mempercepat kematangan dan pendewasaan.

Begitulah, usia kelima belas tahun Mizan diawali dan ditandai dengan hal-hal unik. Sekitar November 1996, Mizan telah berselancar di internet dengan membuka website Mizan-Online dan menjadi penerbit buku di Indonesia yang pertama kali memiliki rumah di ruang maya (cyberspace) tersebut. Mizan-Online (http: //www.mizan.com), kini di-update setiap dua pekan sekali. Tak hanya menyuguhkan informasi produk-produk terbaru serta kegiatan-kegiatan Mizan, tetapi juga berupaya menciptakan komunitas penggemar buku di ruang maya. Para peselancar internet, misalnya, bisa men-download satu atau beberapa bagian buku yang bahkan belum diterbitkan versi fisiknya. Pengunjung yang beruntung malah mungkin akan mendapatkan buku gratis selama setahun dari Mizan. Bulan-bulan terakhir ini Mizan-Online sudah mencatat kurang lebih 4 ribu kunjungan sebulannya (dari Amsterdam, Köln, dan Tokyo hingga Arun, Bontang, dan Jayapura). Tak puas dengan itu, bersamaan dengan Milad Mizan ke-15 ini, Mizan-Online didesain ulang total dengan tampilan dan interaktivitas yang lebih baik. Hitung-hitung juga untuk persiapan menghadapi era e-commerce yang tak bisa tidak akan datang itu.

Sambutan terhadap Mizan-Online itu tentu saja menggembirakan. Yang lebih menggembirakan, dan tentu saja patut disyukuri, adalah sambutan pembaca atas buku-buku yang telah diterbitkan Mizan. Brand awareness terhadap “merek” Mizan, kami yakin, menjadi makin tinggi saat ini. Media massa juga memberikan sambutan yang sangat baik, terbukti dari jumlah resensi di media massa pada 1997 yang berhasil dipantau adalah sekitar 330 artikel resensi, tersebar dari media massa nasional, daerah, sampai pers kampus. Jumlah ini meningkat ketimbang tahun-tahun sebelumnya, yaitu 201 artikel resensi pada 1996 dan 195 artikel resensi pada 1995.

Kami juga bersyukur bahwa pelamar beasiswa Mizan juga meningkat dari tahun ke tahun, yaitu 171 orang pada 1995, 212 orang pada 1996, dan 258 orang pada 1997. Meskipun jumlah beasiswa dan penerimanya tidak besar, beasiswa yang diberikan kepada para mahasiswa dari segala strata dalam kajian keislaman ini diharapkan juga memicu budaya menulis di kalangan kaum Muslim Indonesia. Jika layak, skripsi, tesis, atau disertasi pun akan diterbitkan oleh Mizan. Dan, alhamdulillah, tampaknya beasiswa Mizan ini juga telah menjadi institusi dalam kegiatan penelitian keislaman, terbukti dari banyaknya pelamar yang sudah menunggu-nunggu saat masa aplikasi beasiswa Mizan diumumkan.

Dalam perkembangan produk, pada Agustus 1994, setahun setelah merayakan pengukuhan perannya sebagai “matra baru Islam di Indonesia”, Mizan menciptakan lini bernama “Kronik Indonesia Baru”. Produk pertamanya mendokumentasikan megaskandal abad ini, Megaskandal Bapindo: Drama Pembobolan dan Kolusi Bapindo yang mengungkap kronologi persekongkolan itu hari demi hari. Disusul kemudian dengan guncangan buku kontroversial Prahara Budaya: Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI dkk. yang diliput oleh hampir semua media massa dan elektronik saat peluncurannya di Taman Ismail Marzuki serta memantik diskusi-diskusi panas sesudah itu. Lini ini ingin memfokuskan perekaman peristiwa mutakhir dan penting yang berlangsung di Indonesia, sekaligus menampung tema-tema umum dan luas yang tak terkait secara langsung dengan Islam. Aktivitas lini ini pada tahapan selanjutnya amat memperkaya khazanah informasi Mizan dan mampu menjerat isu-isu aktual yang berkembang di tanah air.

Dua tahun setelah itu, tepatnya Agustus 1996, Mizan mulai masuk ke buku biografis. Aku Bagian Ummat, Aku Bagian Bangsa: Otobiografi Deliar Noer—sebuah buku setebal 1.056 halaman yang ditulis sendiri oleh intelektual yang teguh hati ini—merupakan buku pertamanya, yang diluncurkan dengan mengundang tokoh-tokoh kaliber internasional seperti Chandra Muzaffar dari Malaysia dan Ahmad Totonji dari Amerika Serikat. Disusul kemudian oleh Wacana Baru Fiqih Sosial: 70 Tahun K.H. Ali Yafie, sebuah buku yang mengubah wajah “angker” fiqih. Juga tragika perjalanan hidup Muhammad Yusuf Ali, penerjemah Al-Quran ke dalam bahasa Inggris yang paling otoritatif itu, diterbitkan dalam Jiwa yang Resah. Dan di tengah “amukan badai krismon”, terbit Sajadah Panjang Bimbo: 30 Tahun Perjalanan Kelompok Musik Religius—yang tak pelak lagi merupakan satu-satunya buku yang mengisahkan kelompok musik yang mengubah citra musik religius islami ini.

Awal 1997 terbit pula buku bercorak baru mengikuti zaman kepraktisan. Karya agung sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, di-“ringkaskan” sendiri olehnya dengan judul Mutiara Ihya Ulumuddin. Disusul kemudian penerbitan karya agung kitab hadis hasil kerja keras tak kenal lelah Imam Bukhari yang diringkas oleh Al-Imam Zainuddin Ahmad bin Abdul-Lathif Az-Zabidi (ulama besar abad ke-15) berjudul Ringkasan Shahih Bukhari. Penerbitan edisi Indonesia ringkasan ini diberi pengantar K.H. Ilyas Ruchiyat.

Memasuki medio 1997 dibentuk lini baru “Mizan for Beginners”. Lini ini mengemas pengetahuan kontemporer (Islam, cyberspace, posmodernisme, teori kuantum, internet, dan lain-lain) secara komprehensif dalam bentuk seperti komik—dengan memperoleh hak terjemahan eksklusif dari Icon Books. Serial ini telah mencatat sukses, baik di Inggris maupun di Amerika Serikat. Dengan teks yang ringkas tanpa mengurangi kedalaman serta ilustrasi yang cerdas dan menarik, pembaca diajak mendalami persoalan-persoalan serius dengan fun. Jika dikoleksi, buku-buku “For Beginners” ini akan merupakan sebuah ensiklopedia mini yang unik.

Awal tahun ini, bekerja sama dengan ANTeve, dimunculkanlah buku yang amat kental dengan “karakter awal” Mizan, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Buku ini ditulis oleh seorang cendekiawan yang memiliki spesialisasi gabungan ilmu “Timur” dan “Barat”, Dr. Alwi Shihab. Buku ini pula yang mendasari pembahasan tayangan “Renungan Alwi Shihab” sepanjang Ramadhan 1418 H di ANTeve yang banyak digemari terutama oleh kaum Muslim kelas menengah kota. Sementara itu kakaknya, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, M.A., kini Menteri Agama RI, tetaplah menerbitkan buku-buku karyanya di Mizan: Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat dan Mukjizat Al-Quran: Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan Pemberitaan Gaib. Bersama buku-bukunya terdahulu—“Membumikan” Al-Quran: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat dan Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan—buku-buku ini mencatat bestseller (“Membumikan”, misalnya, telah terjual lebih dari 56 ribu eksemplar sampai sekarang).

Di tengah keadaan yang makin gemuruh ini, Mizan pun menjual “badai”, meskipun idealisme tak luntur—tetap berusaha menampilkan penulis-penulis muda, seperti Yudi Latif, Idi Subandy Ibrahim, Hamid Basyaib, Jamal D. Rahman, Abd. Rohim Gazali, Zaim Saidi, Farid Gaban, dan lain-lain. Setelah sukses dengan Udin Darah Wartawan: Liputan Menjelang Kematian (Januari 1997), Ada Udang di Balik Busang: Dokumentasi Pers Kasus Amien Rais (Juli 1997, cetakan pertama ludes dalam sebulan), dan dua buku dari Jenderal Besar A.H. Nasution (Bisikan Nurani Seorang Jenderal dan A.H. Nasution di Masa Orde Baru), kemudian lini “Kronik” menerbitkan dua buku lagi yang juga sukses. Kedua buku itu, Kapan Badai Akan Berlalu: Suara-Suara Kritis Cendekiawan Menghendaki Perubahan (Februari 1998) dan Indonesia di Simpang Jalan: Reformasi dan Rekonstruksi Pemikiran di Bidang Politik, Sosial, Budaya, dan Ekonomi Menjelang Milenium Ketiga (April 1998), cetakan pertamanya habis dalam waktu dua minggu. Selain sukses secara komersial, yang pantas disyukuri adalah misi lini “Kronik” dalam mempertahankan moralitas terus dapat dilangsungkan. Tentu saja “Kronik” juga menampilkan tema lain yang tak kalah penting. Yang sangat menonjol adalah Dunia Sophie: Sebuah Novel Filsafat (1996). Buku novel filsafat yang menjadi bestseller internasional ini (telah terjual 15 juta eksemplar di seluruh dunia) sangat unik, dan mendapat sambutan luas di sini.

Pada lini “Kronik” ini pula Mizan bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik (LIP) FISIP Universitas Indonesia menerbitkan serial penerbitan studi politik. Serial ini diharapkan menjadi wadah percaturan gagasan studi politik di tanah air. Dua buku pertamanya, Evaluasi Pemilu Orde Baru dan Menimbang Masa Depan Orde Baru, sudah menegaskan maksud serial ini.

Bertepatan dengan penjualan buku genre “badai” yang ini, Mizan memunculkan “Seri Alaf” yang menggairahkan di bawah lini “Kronik”. “Seri Alaf (alaf artinya milenium) ini akan menghadirkan kajian informatif yang menggugah mengenai masyarakat masa depan untuk membekali, terutama, kaum Muslim memasuki milenium baru. Karenanya wajar jika buku pertamanya adalah Being Digital: Menyiasati Hidup dalam Cengkeraman Sistem Komputer karya Nicholas Negroponte, salah seorang yang paling fasih menggambarkan masyarakat teknologis masa depan. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa. Buku kedua adalah karya penulis dalam negeri yang sangat berbakat, Yasraf Amir Piliang, yang menggambarkan carut-marut budaya posmo saat ini: Sebuah Dunia yang Dilipat: Realitas Kebudayaan Menjelang Milenium Ketiga dan Matinya Posmodernisme. “Seri Alaf” ini diharapkan menjadi salah satu pendorong utama kaum Muslim Indonesia untuk melaju lebih cepat daripada perubahan itu sendiri.

Seluruh rangkaian aktivitas Mizan ini—dalam upaya memberikan pelayanan terbaik bagi umat mendekati usia kelima belas di atas—belum, atau tidak akan, berhenti. Di samping buku-buku “nonkeislaman” yang belakangan kerap muncul, Mizan tetap kuat dengan “karakter awal” buku-bukunya. Buku-buku penting karya penulis Muslim dari mancanegara dan para Islamisis terkemuka pun disuguhkan ke khalayak di sini—misalnya: Tafsir Juz ‘Amma (Muhammad Abduh); Hierarki Ilmu: Membangun Rangka Pikir Islamisasi Ilmu (Osman Bakar); Berdialog dengan Al-Quran: Memahami Pesan Kitab Suci dalam Kehidupan Masa Kini (Syaikh Muhammad Al-Ghazali); The Tao of Islam (Sachiko Murata); Demokrasi, Oposisi dan Masyarakat Madani: Isu-Isu Politik Islam (Fahmi Huwaydi); Kebebasan Berpendapat dalam Islam (Muhammad Hashim Kamali); Membangun Dunia Baru (Malik bin Nabi); dan Rahasia Wajah Suci Ilahi: Memahami Islam Secara Fenomenologis (Annemarie Schimmel). Dan yang paling akhir adalah Jalan Baru Islam: Memetakan Paradigma Mutakhir Islam Indonesia, yang berisi konstelasi pemikiran mutakhir di Indonesia.

Buku-buku karya intelektual Islam Indonesia tak henti-henti diterbitkan, dan makin “menjadi tuan rumah di negeri sendiri”. Misalnya, Menegakkan Syariat Islam dalam Konteks Keindonesiaan (Hartono Mardjono); Islam dan Hak-Hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih Pemberdayaan (Masdar F. Mas’udi); Islam dan Keturunan Arab: Dalam Pemberontakan Melawan Belanda (Hamid Algadri); Identitas Politik Umat Islam (Kuntowijoyo); Menggagas Fiqih Sosial: Dari Lingkungan Hidup, Asuransi hingga Ukhuwah (K.H. Ali Yafie); Surat kepada Kanjeng Nabi (Emha Ainun Nadjib); Menjawab Persoalan-Persoalan Islam Kontemporer (Jalaluddin Rakhmat), dan lain-lain.

Rencana-rencana lain ke depan pun telah dipatok—jika tak ada aral merintang, insya Allah akan dapat dilaksanakan. Misalnya, Mizan saat ini sedang mempersiapkan beberapa produk referensi, baik untuk anak-anak maupun dewasa. Telah siap, misalnya, Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang terjemahan dari The Cultural Atlas of Islam karya cendekiawan Islam terkemuka, Isma‘il Raji Al-Faruqi dan Lois Lamya Al-Faruqi, suami-istri yang syahid setelah peristiwa pembunuhan yang masih misterius sampai saat ini. Mizan telah mendapatkan pula hak terjemahan Oxford’s Encyclopaedia of Modern Islamic World yang disunting oleh John L. Esposito. Beberapa produk lain akan menyusul.

Rencana lain adalah menerjemahkan dan menerbitkan karya-karya intelektual Islam Indonesia ke dalam bahasa Inggris dan dipasarkan ke seluruh dunia. Meskipun jumlah kaum Muslim Indonesia sekitar seperlima kaum Muslim dunia, harus diakui pemikiran-pemikiran intelektual Indonesia tidak terlalu bergema di dunia internasional. Hal itu lebih disebabkan persoalan teknis, yaitu langkanya intelektual Islam Indonesia menulis atau dipublikasikan dalam bahasa Inggris, bukan karena ketidakkompetenannya. Karenanya upaya penerjemahan ini diyakini akan memberikan gambaran wacana yang berkembang di kalangan Islam Indonesia, dan pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar pada perkembangan pemikiran dalam persaudaraan besar Islam dunia.

Begitulah, semua ini menjadi semacam unique blend Mizan: menggali khazanah peradaban dan ilmu-ilmu Islam (baik yang klasik maupun kontemporer, baik lokal Indonesia maupun Dunia Islam yang luas), menyerap dan bersikap kritis terhadap kondisi-kondisi riil dewasa ini, dan mempersiapkan bekal menyongsong kurun baru yang bakal tiba agar tak terbanting-banting dihela kereta ekspres perubahan zaman. Di sinilah titik pijak “Melaju Menuju Kurun Waktu” yang menjadi slogan Milad Mizan ke-15 ini. Perubahan zaman harus dihadapi dan ditaklukkan. Bila tidak dihadapi secara lapang dan kritis—lewat diskusi-diskusi intensif dan pendokumentasian secara tertulis yang logis—manusia akan dihentikan proses kemanusiaannya oleh “makhluk” lain ciptaan manusia sendiri.

Oleh sebab itu, marilah kita bersama “melaju menuju kurun baru”.

Insya Allah.

[red]