Masukkan kata kunci Anda

Mengenal Tasawuf: Manusia Modern Mendamba Allah

Mengenal Tasawuf: Manusia Modern Mendamba Allah

Mengenal Tasawuf: Spiritualisme dalam Islam
Haidar Bagir

 

 

Beberapa dekade belakangan ini menyaksikan adanya kebutuhan baru yang besar akan spiritualisme, baik di dunia secara umum maupun di kalangan kaum Muslim. Kebutuhan akan spiritualisme di negara-negara maju sudah lama terasa, dibandingkan dengan di negara-negara berkembang. Di Amerika Serikat, misalnya, kebutuhan akan spiritualisme itu sudah kuat terasa sejak tahun 1960-an. Hal ini bisa kita lihat dari maraknya budaya hippies, yang memberontak terhadap nilai-nilai kemapanan. Mereka pun mencari-cari alternatif-alternatif baru. Ada yang positif, seperti ketika mereka pergi ke India untuk belajar yoga dan Hinduisme, tetapi tidak sedikit pula yang tampak negatif. Maka, bermunculanlah beragam bentuk spiritualisme model kultus-kultus (cults). Misalnya, Alvin Toffler—hampir 20 tahun yang lalu—mencatat adanya lebih dari 4.000 organisasi semacam itu. Umumnya bersifat misterius dan sering kali menuntut ketaatan-buta dari pengikutnya.  Betapa pun, semua itu bersumber pada gejala yang itu juga, yakni kecenderungan manusia untuk kembali pada spiritualisme.

Memang, di samping ditandai oleh derasnya arus informasi berkat perkembangan teknologi informasi, dan meningkatnya tekanan hidup akibat budaya serbacepat dan serbabesar yang melahirkan berbagai ekses perilaku negatif dan psikologis, zaman ini ternyata juga diwarnai arus baru di tengah masyarakat dunia, yaitu kerinduan pada kesejukan batin dan kedamaian jiwa. Di sisi lain, peningkatan kemakmuran ekonomi dan cara-cara orang memuasi kebutuhan akan kenikmatan hidup ternyata justru menegaskan bahwa kebahagiaan hidup tidak terletak dalam kehidupan yang bersifat serbafisik dan duniawi. Mencari inspirasi dan kebijakan dari berbagai filsafat dan agama, serta informasi tentang persoalan inner-self menjadi sesuatu yang trendi belakangan ini.

Sebuah majalah terkemuka di Amerika Serikat, TIME, beberapa tahun lalu melaporkan adanya kecenderungan pada masyarakat Amerika Serikat untuk kembali kepada Tuhan. Majalah itu, berdasarkan hasil polling yang mereka buat, mengatakan bahwa saat ini lebih banyak orang (AS) yang berdoa ketimbang “berolahraga, pergi ke bioskop, ataupun berhubungan seks”. Kecenderungan akan spiritualisme itu pun makin lama makin meningkat.

Mungkin kita juga akan dikejutkan oleh kenyataan bahwa, menurut Steven Waldman, mantan editor di U.S. News & World Report, “God” merupakan salah satu kata kunci (keyword) paling populer pada kebanyakan search engines. Karena alasan itu, seperti diberitakan oleh CNN  pada 20 Januari 2000, Waldman bersama Robert Nylen, chief executive pada New England Monthly, mendirikan Beliefnet.com, sebuah situs yang menyediakan berita, grup diskusi, dan features tentang agama-agama dunia.

Bob Jacobson, pimpinan Bluefire Consulting, sebuah penyelenggara jasa konsultasi Internet di Redwood City, California, memperteguh kesimpulan Waldman-Nylen di atas. Dalam berita thestandard.com pada 25 Juni 1999, Jacobson menyatakan bahwa pesona situs-situs pornografi telah melenakan pers untuk melirik lawannya, yakni situs-situs keagamaan. Mungkin kita tidak menduga bahwa di Altavista, salah satu search engine terbesar di dunia, pencarian kata “porn” hanya menghasilkan 4.794.806 situs, sementara pencarian kata “god” menghasilkan 6.396.150 situs. Pelacakan kata “angel” menghasilkan 1.292.520, sedangkan kata “satan” hanya menghasilkan 295.390.

Menurut laporan CNN, 10 Mei 2000, tahun ini merupakan tahun para pelancong spiritual (the year of the spiritual traveler). Ribuan orang memenuhi panggilan mistik (mystic) dan mitis (mythic) untuk meninggalkan rumah guna mengunjungi tempat-tempat “suci”. Kota Assisi di Italia, tempat lahir St. Francis, dan Gereja Basilica menjadi salah satu tujuan. Wali Kota Assisi, Georgio Bartolini, memperkirakan akan hadirnya jutaan pengunjung di Assisi dan Basilica. “Kita memperkirakan sebanyak 13 juta pengunjung antara Desember 1999 hingga Januari 2001, atau 13.000-15.000 pengunjung setiap hari,” kata Bartolini. Tempat lain yang ramai dijadikan tujuan perjalanan suci (pilgrimage) adalah the Dome of the Rock di Yerusalem, Ayer’s Rock atau Uluru di Australia.