Masukkan kata kunci Anda

Meneguhkan Keindonesiaan Dengan Nafas Islam Bung Karno

Meneguhkan Keindonesiaan Dengan Nafas Islam Bung Karno

Cover Bung karno menerjemahkan al-Quran 170522 FA curve

Salah satu tantangan serius yang sedang kita hadapi saat ini adalah soal ideologi kebangsaan dan keislaman Indonesia. Terjadi upaya pembenturan kebangsaan dan keislaman. Keduanya dikesankan sebagai dua hal yang berbeda.

Dikotomi ini bukan hanya tidak tepat, tapi bertentangan dengan filosofi lahirnya bangsa ini. Negara Indonesia lahir dari sintesa antara kebangsaan dan keislaman. Indonesia lahir dari perjuangan para nasionalis dan tokoh Islam. Keduanya bahu membahu membawa Indonesia lepas dari jerat penjajahan.

Melihat problem yang belakangan santer kita hadapi terkait ideologi kebangsaan dan keislaman kita, tampaknya dibutuhkan sebuah agenda bersama untuk menguatkan kembali memori, kesadaran sekaligus komitmen bangsa ini tentang hal itu. Kita harus lebih serius untuk menjalankan agenda ini.

Dengan memanfaatkan momentum Juni sebagai “Bulannya Bung Karno”, di mana Sang Proklamator lahir di tanggal 6 Juni dan wafat 21 Juni. Di 1 Juni juga menjadi Hari Lahir Pancasila, yang ditandai dengan pidato bersejarah Bung Karno di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang isinya menjadi cikal-bakal Pancasila. Dan juga bulan Juni tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana merupakan bulan suci Islam yang pada tanggal 17 Ramadhan menjadi hari diturunkannya Al-Quran (Nuzulul Qur’an). Dalam kalender hijriyah, di bulan Ramadhan ini pula Kemerdekaan RI tercapai, yakni tepatnya 9 Ramadhan 1364 H. Muchamad Nur Arifin melalui Mizan menerbitkan buku sebagai salah satu bentuk kontribusi terhadap persoalan di atas dengan judul Bung Karno “Menerjemahkan” Al Quran

Seperti disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) KH. Said Aqil Siraj, “buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam.”

Dalam bukunya ini, Mochamad Nur Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang keindonesiaan. Namun berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya, buku ini menggunakan perspektif tafsir Al Quran. Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya.

Buku ini menyuguhkan tiga bagian dari diri Bung Karno: karakter religiusnya, pemikiran keislamannya, dan aksi “jalan” Islamnya.

Potret religusitas Bung Karno merupakan sisi yang tidak sering diperhatikan dalam bingkai sejarah Indonesia. Bung Karno lebih dikesankan sangat nasionalis ketimbang sangat Islamis. Padahal, dari berbagai “adegan” sejarah hidupnya, jelas terlihat betapa Islamisnya Bung Karno. Ada banyak peristiwa maupun tindakan Bung Karno yang menunjukkan bahwa ia sosok yang sangat menekankan aspek religiusitas. Dalam diri Bung Karno, antara nasionalisme dan religiusitas menyatu tanpa ada sekat. Ia sosok yang melampui (beyond) dikotomi keduanya. Bung Karno figur yang nasionalis sekaligus religius. Di bab awal buku ini, pembaca dapat melihat dengan jelas potret religiusitas Bung Karno.

Pemikiran Bung Karno tentang keislaman juga mendapat perhatian Nur Arifin. Penulis menyuguhkan “tafsir” Bung Karno atas Al Quran. Disuguhkan secara detail pandangan-pandangan Bung Karno tentang keislaman dan keindonesia hasil “pembacaannya” terhadap ayat-ayat Al Quran. Diantaranya “tafsir” bung Karo atas surat Al Hujurat. Bung Karno sangat menekankan soal ijtihad. Menurutnya, ijtihad adalah apinya Islam. Bara Islam bisa terus terjaga selama spirit energi ijtihad tetap dijaga. Matinya ijtihad berarti matinya progresifitas dan dinamisitas Islam. Bagi Bung Karno, Islam bisa mengejr kemajuan saintifik dan teknologi jika tafsir atas ayat-ayat Al Quran dihidupkan dengan spirit ijtihad. Al Quran mencakup semua disiplin ilmu. Sangat disayangkan jika “harta karun” keilmuan di dalamnya tk bisa ditemukan oleh para penafsirnya. Bagi Bung Karno, peta jalan untuk sampai kesana dengan menggunakan spirit ijtihad.

Nur Arifin juga tak ketinggalan mengupas “jalan Islam” Bung Karno. Ia mendedahkan histori religiusitas Bung Karno. Pembaca diajak menapaktilasi penjelajahan Bung Karno dalam mencari, menemukan, dan memformulasikan Islam yang sesuai dengan keindonesiaan. Dipaparkan secara gamblang kekaguman Bung Karno akan sosok Nabi Muhammad SAW yang dinilainya sebagai simbol revolusi. Kekaguman Bung Karno pada Nabi SAW mencapai puncak hingga melihat “revolusi Indonesia sebagai revolusi Muhammad SAW”. Selain itu juga diurai perjalanan ruhani Bung Karno yang sangat menyentuh.

Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila. Oleh karena itu, menurut Prof. Mahfud M.D, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” tuturnya.

Sekali lagi, buku Nur Arifin ini hadir pada saat yang tepat. Buku ini menyuntikkan kembali kesadaran tentang betapa berharganya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman kita. Bahwa semua itu sudah tuntas dirumuskan oleh para founding fathers kita. Tak ada lagi dikotomi antara Indonesia dan Islam. Keduanya lebur, sinergis, sekaligus beyond, seperti yang bisa kita lihat pada figur Bung Karno.