Masukkan kata kunci Anda

Membaca Sejarah Nabi Melalui Tafsir al-Qur’an

Membaca Sejarah Nabi Melalui Tafsir al-Qur’an

sejarah kenabianTulisan ini akan dibuka dengan dua pertanyaan. Pertanyaan pertama ‘Bagaimana kita mengenal sejarah Nabi Muhammad?’ Dan pertanyaan kedua ‘apa yang terlintas dalam pikiran saat membahas tafsir al Qur’an?’

Cerita yang dituturkan secara terus menerus oleh guru mengaji atau para ulama, adalah kemungkinan pertama bagaimana kita mengetahui sejarah Nabi Muhammad. Selain itu, buku sejarah atau tulisan adalah sumber lainnya. Tidak terhitung jumlah buku yang membahas tentang sejarah Nabi Muhammad. Namun, ada beberapa buku yang popular saat menyebut sejarah Nabi Muhammad, atau kalau boleh dibilang, paling banyak dibaca. Diantaranya adalah buku yang ditulis oleh Martin Lings atau Abu Bakr Siraj Ad-Din, dari buku itu kita mengenal sejarah Nabi Muhammad berdasarkan teks-teks klasik Islam. Lings menuturkan sejarah kehidupan Nabi Muhammad dengan gaya sastrawi yang lembut. Lalu ada Muhammad Husain Haekal, seorang penulis Mesir, menulis sebuah buku yang berjudul Sejarah Hidup Muhammad, berbeda dengan Lings, Haekal menulis bukunya dengan metode ilmiah. Meski dalam perjalanannya, tidak sedikit kritik yang dilontarkan pada Haekal karena dinilai mengingkari apa yang ia katakan sendiri tentang metode ilmiah saat menuliskan sejarah Nabi Muhammad.

Selain berbentuk non fiksi, sejarah Nabi Muhammad juga ditulis dengan kemasan fiksi. Hal ini dilakukan oleh para penulis sepenuhnya untuk mempermudah pembaca untuk memahami sejarah Nabi Muhammad. Lelaki Penggenggam Hujan, Para Pengeja Hujan, Para Pewaris Hujan adalah trilogi tentang Nabi Muhammad yang ditulis oleh Tasaro GK. Berbeda dengan Lings dan Haekal, Tasaro menampilkan sejarah Nabi Muhammad melalui kacamata Kashva, seoarang laki-laki yang hidup Kuil Gunung Sistan pada masa pemerintahan Kaisar Khosrou. Selain Tasoro GK, ada narasi lain tentang Nabi Muhammad yang ditulis dalam bentuk novel oleh Fahd Djibran. Melalui buku Manatap Punggung Muhammad kita bisa melihat bagaimana (pencarian) sosok Nabi Muhammad digambarkan dengan sangat populer. Fahd, mengajak para pembacanya untuk mengenal Nabi Muhammad melalui tokoh ‘aku’ –yang sedang dalam kegelisahan menemukan iman –yang ia tuliskan melalui surat panjang yang ia kirimkan pada Azalea, kekasihnya. Secara pribadi, buku yang digarap oleh Fahd ini mengantarkan kecintaan pada Nabi Muhammad. Tidak hanya karena ke-nabi-annya dan statusnya sebagai pembawa risalah damai, melainkan juga karena sisi kemanusiaan yang ditampilkan Nabi Muhammad. Gaya bahasa dan diksi yang dipakai oleh Fahd dalam penulisan bukunya itu memudahkan bagi siapa saja yang membaca bukunya.
Lalu jawaban untuk pertanyaan kedua adalah sebuah buku tebal dan berjilid-jilid yang mencoba memberi penjelasan tentang ayat demi ayat dalam Al-Qur’an. Maka yang ada adalah bayangan Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuthi dengan tafsir Jalalain-nya, atau tafsir Al Manar yang dikarang oleh Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha, atau tafsir yang ditulis oleh ulama Indonesia seperti tafsir al Misbah yang ditulis oleh Prof. Quraish Shihab, Tafsir al Ibriz karya KH. Bisri Musthofa atau Tafsir al Azhar karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan HAMKA.

Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika sejarah Nabi Muhammad ditulis dalam perspektif tafsir al Qur’an? Atau bagaimana al-Qur’an memotret Nabi Muhammad dalam lembar-lembar ayatnya?

Tafsir dan Sejarah

Sejarah dan tafsir bukanlah ruang kosong tanpa perdebatan, diantara keduanya lahir banyak versi dan pendekatan. Sebagaimana yang diketahui sejarah adalah ruang terbuka untuk para ‘penguasa’ menarasikan apa yang dikehendaki dan dipantaskan untuk ditulis sebagai pengingat serta tanda zaman. Oleh karenya, sejarah seringkali tidak hanya berisi tentang fakta-fakta melainkan juga berisi tentang opini penyusunnya. Pun lagi dengan tafsir, ia seringkali disalahpahami sebagi al-Qur’an itu sendiri. Padahal, tafsir adalah tafsir. Ia produk manusia, dan (sangat) berpotensi untuk dikritisi, disanggah atau bahkan diperbaiki. Sedangkan al Qur’an adalah wahyu dari langit yang dibawa ke bumi yang kebenarannya mutlak. Tak ada keraguan di dalamnya.

Setiap tafsir yang ditulis oleh para mufassir memiliki kekhasan masing-masing, setidaknya hal ini bisa dilihat dari coraknya. Ada tafsir yang penafsirannya bercorak sastra bahasa, bercorak filsafat, bercorak teologi, bercorak penafsiran ilmiah, bercorak fiqih atau hukum, bercorak tasawuf, dan bercorak sastra budaya. Atau dari pendekatan penafsirannya, bisa jadi menggunakan pendekatan tahlili; menafsirkan al Qur’am dari surat pertama samapai dengan surah terakhir – sesuai dengan urutan mushaf. Atau juga dengan pendekatan maudlu’i sebuah tafsir yang hanya menafsirkan ayat atau surat dalam al Qur’an sesuai dengan tema yang dibahas.

Adalah Syaikh Muhammad Izzat Darwazah seorang intelektual asal Pakistan melakukan apa yang diluar kebiasaan itu, ia menyusun sejarah Nabi Muhammad dengan tafsir Al Qur’an. Syaikh Darwazah menggunakan tafsir nuzuli; sebuah metode penafsiran sesuai dengan kronologi turunnya ayat. Sesaat setelah menyusun ketiga bukunya seperti al-Tafsîr al-Hadîts, Sîrah al-Rasûl, al-Dustur al-Qur’ani, syaikh Drawazah menemukan satu kesimpulan bahwa model tafsir nuzuli-lah yang pas (ideal) untuk mengetengahkan sebuah tafsir. Karena al Qur’an bukan saja semata-mata wahyu Tuhan, melainkan juga sebuah isyarat bahwa al Qur’an tidak turun diruang hampa dan nir sebab kejadian – tapi sejatinya al Qur’an mememiliki hubungan logis dan faktual dengan realitas. Baik sebelum masa kenabian, personal Nabi Muhammad, dan era kenabian itu sendiri.

Pada masanya, syaikh Darwazah dicurigai sebagai pengikut orientalis karena menggunakan tertib nuzuli untuk tafsirnya. Hal ini bukan tanpa sebab, meski jauh sebelum syaikh Darwazah, para ulama sudah menggunkan tertib nuzuli dalam penafsiran, karena orientalis Jerman bernama Theodor Noldeke menulis sebuah karya berjudul tarikh al-Qur’an. Dalam karyanya itu, Noldeke menggunakan bahasa dan sastra serta sejarah dalam membidik peristiwa bersejarah yang disinggung al-Qur’an, dan juga menjadi pijakannya saat menyusun al-Qur’an sesuai dengan tertib nuzuli. Tapi sekali lagi, syaikh Darwazah tidak hanya mengambil inspirasi dari Noldeke atau para ulama terdahulu saat menggunakan tertib nuzuli. Syaikh Darwazah juga melakukan kritik pada orientalis dan ulama terdahulu yang dinilai melenceng dalam memahami al-Qur’an.

Aksin Wijaya dan Sejarah Kenabian

Aksin Wijaya boleh jadi menjadi sedikit orang yang memperkenalkan Syaikh Darwazah dan gagasannya ke Indonesia. Dengan kerendahan hati, Aksin Wijaya mengatakan apa yang ia lakukan dengan buku yang telah ia susun dengan Judul Sejarah Kenabian; Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah ‘hanya’lah mendeskripsikan apa yang digagas oleh syaikh Darwazah. Saya kira apa yang dilakukan oleh Aksin Wijaya lebih dari ‘hanya’-lah, karena ia telah mampu menceritakan dan menggambarkan kembali dengan apik bagaimana syaikh Darwazah menyusun sejarah Nabi Muhammad dengan tafsir nuzuli. Sebuah upaya yang tidak mudah dilakukan, mengingat karya sayikh Darwazah selama ini masih terabaikan dan jarang diteliti, dan tentunya juga belum sama sekali yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Dalam buku yang ditulis oleh Aksin Wijaya ini, kita akan dihantarkan pada model tafsir nuzuli ala Noldeke, al Jabiri dan tentunya sayikh Darwazah. Lalu potret masyarakat arab pada masa pra kenabian Nabi Muhammad, kepribadian Nabi Muhammad – akhlaknya, perkawinannya, hingga hubungan Nabi Muhammad dengan Allah. Dan yang terakhir pada potret sejarah dakwah dan masayarakat pada era kenabian Nabi Muhammad. (Nur Hayati Aida)

Info Buku:

Judul: SEJARAH KENABIAN DALAM PERSPEKTIF TAFSIR NUZULI MUHAMMAD IZZAT DARWAZAH

Penulis: AKSIN WIJAYA

Penerbit: AL-MIZAN

Kode Buku: IM-107

ISBN: 9789794339596

Tahun Terbit: 27 2016

Halaman: 525 Halaman