fbpx

Enter your keyword

Melinda Gates: Bila Kita Bersatu, Kita Bangkit

Melinda Gates: Bila Kita Bersatu, Kita Bangkit

The Moment Of Lift – Melinda Gates

 

Sebuah debut dari Melinda Gates, panggilan yang sesuai kebutuhan zaman dan memang perlu untuk bertindak demi pemberdayaan wanita.

Gaya tutur Melinda yang mengesankan didukung oleh data mengejutkan ketika dia mengemukakan isu-isu yang paling membutuhkan perhatian kita—dari pernikahan di bawah umur sampai kurangnya akses kontrasepsi hingga ketimpangan gender di lingkungan kerja. Dan, untuk pertama kalinya, dia menuliskan kehidupan pribadi dan jalan menuju kesetaraan dalam perkawinannya sendiri. Selama itu, dia menunjukkan betapa besarnya peluang untuk mengubah dunia—dan diri kita sendiri.

 

Sebenarnya, kemiskinan berarti tidak peduli sekeras apa pun kau bekerja, kau tetap terjebak di dalamnya. Kau tidak bisa melepaskan diri. Upayamu nyaris tidak ada gunanya.

Kau ditinggalkan oleh orang yang mampu mengangkat taraf hidupmu.

 

Selama 20 tahun terakhir, Melinda Gates berkeliling dunia untuk mengemban misi “menemukan solusi” bagi orang-orang yang paling memerlukan, di mana pun mereka berada.

 

Di Malawi, para ibu berjalan sepanjang 20 km sambil berharap mendapat suntikan pengontrol kehamilan dari para yayasan penyedia vaksin, yang ternyata tak tersedia. Mereka putus asa mengingat jumlah anak yang dimiliki sudah melebihi kemampuannya memberi makan. Di Senegal, anak-anak perempuan diwajibkan untuk sunat. Tak sedikit dari mereka yang mengalami perdarahan hingga berujung kematian. Di India, semakin muda usia perempuan, semakin rendah pendidikannya, semakin sedikit pula maskawin yang harus dibayarkan keluarga perempuan itu ketika dia dinikahkan. Anak-anak perempuan ini kehilangan keluarga, teman, sekolah mereka, dan setiap peluang untuk berkembang.

 

Dalam perjalanan panjang ini, Melinda menyadari satu hal: jika kita semua ingin mengangkat harkat umat manusia, angkatlah harkat kaum perempuan. Di negara-negara yang ia datangi, Melinda juga bertemu para pahlawan pemberani yang tak henti berjuang: membangun sekolah, menyelamatkan nyawa, menyudahi peperangan, memberdayakan gadis-gadis, dan mengubah budaya. Buku ini menyuarakan hal penting: bila kita bersatu, kita bangkit. Dan, di dunia yang kita bangun bersama, semua orang bangkit.

 

 

Semasa kecilku, peluncuran pesawat ruang angkasa sangat berarti dalam hidupku. Aku besar di Dallas, Texas, dalam keluarga Katolik dengan empat anak, seorang ibu rumah tangga, dan seorang ayah dengan profesi sebagai ahli teknik ruang angkasa yang menangani program Apollo.

Pada hari peluncuran, kami semua berjejalan masuk ke mobil lalu berkendara ke rumah salah seorang teman ayahku—sesama ahli teknik Apollo—dan menyaksikan drama itu bersama-sama. Aku masih ingat betapa merindingnya aku akibat ketegangan hitung mundur itu. “Dua puluh detik lagi, lima belas detik lagi, siap-siap, dua belas, sebelas, sepuluh, sembilan, mulai dinyalakan, enam, lima, empat, tiga, dua, satu, nol. Semua mesin berjalan. Meluncur! Sudah meluncur!”

Momen-momen itu selalu membuatku merinding—terutama momen mengangkasa ketika mesin roket menyala, bumi bergetar, dan roket mulai meluncur. Baru-baru ini kutemukan frasa “momen mengangkasa” dalam buku karya Mark Nepo, salah seorang penulis spiritual favoritku. Dia menggunakan kata itu untuk menggambarkan suatu momen yang agung. Sesuatu “berkibar bagaikan syal ditiup angin”, tulisnya, kemudian kepedihannya mereda dan dia merasa utuh.

Gambaran kemengangkasaan Mark penuh dengan keajaiban (wonder). Kata wonder mengandung dua makna bagiku. Kata itu bisa berarti ‘hal yang memukau’, juga bisa berarti ‘rasa ingin tahu’. Sungguh banyak hal yang membuatku terpukau—tetapi rasa ingin tahuku pun sama besarnya. Aku ingin tahu cara mengangkasa!

Suatu waktu, kami semua duduk di dalam sebuah pesawat di akhir proses lepas landas yang panjang, menunggu momen mengangkasa dengan cemas. Sewaktu anak-anak masih kecil dan kami semua berada di pesawat yang siap lepas landas, kukatakan kepada mereka, “Maju, maju, maju,” kemudian saat pesawat tidak lagi menapak tanah, kukatakan, “Terbang!” Saat anak-anak sudah lebih besar, mereka mengikutiku, lalu kami mengucapkannya bersama-sama selama bertahun-tahun. Namun, tiap kali kami mengucapkan “maju, maju, maju” lebih sering daripada yang kami kira, aku terpikir, Mengapa butuh begitu lama untuk lepas landas?

Mengapa kadang terasa begitu lama? Dan, mengapa kadang terjadi begitu cepat? Apa yang membawa kita melampaui titik penting ketika kekuatan yang mendorong kita naik mengalahkan kekuatan yang menarik kita turun lalu kita terangkat dari tanah dan mulai terbang?
Selagi bepergian keliling dunia selama 20 tahun untuk kepentingan yayasan yang kudirikan bersama suamiku, Bill, aku bertanya-tanya:
Bagaimana kita bisa menghadirkan momen mengangkasa untuk manusia—terutama untuk perempuan? Karena ketika kau mengangkat harkat kaum perempuan, kau mengangkat harkat umat manusia.

Dan, bagaimana kita menciptakan momen mengangkasa dalam hati manusia supaya kita semua ingin mengangkat harkat kaum perempuan? Karena kadang yang dibutuhkan untuk mengangkat harkat kaum perempuan adalah dengan berhenti menarik mereka turun.

Dalam perjalananku, kuketahui tentang adanya ratusan juta perempuan yang ingin memutuskan sendiri kapan dan apakah mereka mau punya anak, tetapi mereka tidak bisa. Mereka tidak punya akses untuk mendapat kontrasepsi. Banyak juga hak dan fasilitas yang tidak diperoleh perempuan dan anak-anak perempuan: Hak untuk memutuskan apakah perlu menikah, juga kapan mereka menikah, dan siapa calonnya. Hak untuk bersekolah. Mendapatkan penghasilan. Bekerja di luar rumah. Berjalan di luar rumah. Menggunakan uang mereka sendiri. Merancang anggaran. Merintis usaha. Memperoleh pinjaman. Memiliki properti. Menceraikan suami. Menemui dokter. Mencalonkan diri sebagai politikus. Mengendarai sepeda. Mengemudikan mobil. Berkuliah. Belajar komputer. Menemukan investor. Perempuan di beberapa bagian dunia tidak memperoleh semua hak ini. Kadang hak-hak ini diberangus secara hukum, tetapi sekalipun diizinkan, sering kali hak ini masih dilarang oleh bias budaya yang menentang kaum perempuan.

Perjalananku sebagai advokat publik dimulai dengan perencanaan keluarga. Kemudian aku mulai menyuarakan masalah-masalah lain juga. Namun, aku segera menyadari—karena aku segera diberi tahu—bersuara tentang perencanaan keluarga, atau bahkan tentang setiap masalah yang baru saja kusebutkan, tidak cukup. Aku harus angkat bicara untuk perempuanDan, segera saja kulihat bahwa jika kita ingin memiliki kedudukan setara dengan laki-laki, kita tidak akan berhasil dengan memenangkan hak kita satu demi satu atau selangkah demi selangkah; kita akan meraup semua hak itu ketika kita berdaya.

Inilah pelajaran yang kudapatkan dari orang-orang hebat yang perlu kau temui. Beberapa orang akan membuat hatimu terluka. Yang lain akan membuat hatimu bergemuruh. Para pahlawan ini telah membangun sekolah, menyelamatkan nyawa, menyudahi peperangan, memberdayakan gadis-gadis, dan mengubah budaya. Menurutku mereka akan menginspirasimu. Mereka sudah menginspirasiku.

Mereka telah menunjukkan kepadaku perbedaan yang timbul ketika kaum perempuan diangkat harkatnya, dan aku ingin semua orang melihatnya. Mereka menunjukkan kepadaku apa yang dapat dilakukan orang-orang untuk menciptakan dampak, dan aku ingin semua orang tahu itu. Karena itulah aku menulis buku ini: untuk membagi kisah orang-orang yang menyuntikkan fokus dan makna penting dalam hidupku. Aku ingin kita melihat cara-cara yang bisa kita lakukan untuk membantu orang lain berkembang. Mesin sudah menyala, bumi bergetar, kita terbang. Tidak seperti zaman dahulu, kita memiliki pengetahuan, energi, dan pandangan moral untuk memutus pola sejarah. Sekarang kita membutuhkan bantuan setiap advokat. Perempuan dan laki-laki. Tidak boleh ada yang tertinggal. Semua orang harus dilibatkan. Panggilan kita adalah mengangkat harkat perempuan—dan jika misi ini kita jalankan bersama, kitalah yang menjadi liftnya.