Masukkan kata kunci Anda

Melihat Fazlur Rahman Lebih Dekat

Melihat Fazlur Rahman Lebih Dekat

Sesaat setelah ia mangkat, Universitas Chicago, tempat ia mengajar, konon harus menyiapkan empat profesor dengan empat keahlian yang berbeda untuk bisa menggantikan dirinya mengajar. Betapa itu menandakan keluasan ilmu yang dimilikinya sehingga universitas sebesar Chicago University itu kepayahan mencari empat orang yang ahli dibidang filsafat, tasawuf, teologi, metodologi dan pembaruan Islam untuk bisa menggantikan satu orang pengajar, yaitu Prof. Fazlur Rahman.

Fazlur Rahman barangkali merupakan salah satu raksasa pemikir yang dimiliki oleh Islam pada abad modern. Ia dengan sekuat tenaga berupaya merumuskan akar persoalan-persoalan masyarakat muslim berikut solusinya. Ia menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan.Hal itu bisa dilihat dari karya-karya yang lahir dari beliau, diantaranya seperti Major Themes of Qur’an, Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition, Islam, Islamic Methodology in History. Pada 1985 saat mengunjungi Indonesia, Fazlur Rahman pernah menubuatkan bahwa peradaban Islam yang gemilang akan dimulai dari Indonesia, sebuah wilayah yang didiami oleh banyak masyarakat Muslim dengan tetap mempertahankan kekhasan budayanya.

Amin Rais, Nurcholish Madjid, dan Syafi’i Maarif  adalah generasi pertama mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Chicago dan sekaligus generasi pertama yang belajar secara langsung pada Fazlur Rahman. Selain tiga pendekar Chicago itu—begitu Abdurrahman Wahid menyebutnya—ada beberapa mahasiswa Indonesia yang pernah belajar secara langsung pada Fazlur Rahman. Namun, saat ini (2017) hanya tersisa 4 orang saja mahasiswa Fazlur Rahman yang masih hidup. Diantaranya adalah Prof. Mulyadhi Kartanegara, seorang profesor Filsafat yang sekarang menjadi dosen di Universiti Brunei Darussalam. Kami berhasil berbincang dengan Mulyadhi tentang Fazlur Rahman dari dekat, tentang pandangan seorang murid pada gurunya, yang mungkin tidak banyak diketahui oleh khalayak umum. “Selain saya (Mulyadhi Kertanegara), ada Prof. Abdul Muis Naharong, Prof. Amien Rais dan Buya Syafii Ma’arif yang masih hidup.” ujar Mulyadhi.

Untuk Pertama Kalinya

Akhir 1986, sekitar September-Desember, Mulyadhi mulai belajar secara langsung pada Fazlur Rahman. Di dalam kelas itu, ada 2 orang mahasiswa Indonesia lain yang juga belajar bersama dirinya yaitu Abdul Muis Naharong dan Qodry Azizy.Saat mengikuti kuliah Fazlur Rahman waktu itu, Mulyadhi adalah mahasiswa pasca-sarjana di Center for Middle Eastern Studies, University of Chicago, USA, di mana John E. Woods menjadi direkturnya. Pada tahun yang sama, Mulyadhi  bersama Azyumardi Azra, Din Syamsuddin, dan  Qodri Azizy mengikuti program pertukaran sarjana beasiswa dari Fulbright bekerjasama dengan AMINEF (American-Indonesia Exchange Program) di Jakarta dan IIE (International Institute if Education) di Chicago, Illinois, USA.

“Matakuliah yang diajarkan berkisar pada filsafat Islam, mistisisme Islam (tasawuf),  teologi (kalam), yurisprudensi (fikih), dan pembaruan Islam (Islam and Modernity)”  jelas Mulyadhi tentang matakuliah yang diajar oleh Fazlur Rahman dalam perkuliahan. Kelas-kelas Fazlur Rahman tak pernah banyak, maksimum belasan orang. Karena itu, perkuliahan seringdilaksanakan di ruang kerja Fazlur Rahman ketimbang di kelas. Mulyadhi bahkan masih hafal siapa saja teman kelasnya saat itu. “Dari  Indonesia ada Abdul Muis Baharong, Qodry Azizy, dan saya sendiri. Dari  Korea, ada Mr. Park;dari Mesir ada Ahmad Fadhil;dari Malaysia ada Mohamad Zaini Othman dan Hisham; dari Pakistan ada  Iftikhar Zaman dan Seeme;dari Turki ada Abdul Hadi Andali; dari Kanada ada Ingrid Mattison;dan dari Amerika sendiri ada Marks, Stuart, Shiela, Any Higins, Anna Gade, dan Omar Altalib”

Dalam hal mengajar, Fazlur Rahman, tidak berbeda dengan profesor lain saat itu, cenderung konvensional. Hal itu terlihat dari alat-alat yang digunakan Fazlur Rahman saat mengajar. Alih-alih menggunakan slide,Fazlur Rahmanmemilih menggunakan papan dan kapur tulis saat menerangkan sesuatu. Metode yang digunakan Fazlur Rahman juga mirip cara pengajaran di pesantren yang disebut dengan bandongan atau reading text,  di mana Fazlur Rahman membaca buku-buku pilihan dalam matakuliah yang diampu dan kemudian ditutup sesi tanya-jawab dengan mahasiswa. Saat mengikuti kelas Fazlur Rahman, Mulyadhi menyebut beberapa kitab babon yang didaras Fazlur Rahman dalam kelas seperti: Mafatih al-Ghaib milik Fakhruddin al-Razi dibidang tafsir/filsafat, Futuhat al-Makkiyyah karyaIbn Arabi di bidang tasawuf, dan Muwaththa’karya Imam Malik  di bidang hadist/Fiqih. Kitab-kitab berbahasa Arab itu kemudian diterjemahkan dan dijelaskan Fazlur Rahman dengan bahasa Inggris.

Bagi Fazlur Rahman, tak ada pertanyaan yang tabu atau sepele. Kenangan Mulyadhi kemudian melayang pada sesi tanya jawab di kelas yang diampu Fazlur Rahman. Fazlur Rahman bahkan tetap menjawab dengan baik dan sistematis pertanyaan-pertanyaan para mahasiswa yang kelihatan dangkal dan tak penting. “Yang menarik, mahasiswa Amerika biasanya paling banyak bertanya walau kadang pertanyaan mereka menurut kita tidak begitu penting. Sementara para mahasiswa dari Asia Tenggara biasanya hanya menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang penting. Tapi apa pun pertanyaannya, beliau selalu menjawabnya dengan baik, meskipun sekali-sekali mendapat sanggahan dari mahasiswanya. Tak ada pertanyaan yang tabu bagi beliau”, kenang Mulyadhi.

Filsafat dan Rasionalitas

Sebagai seorang intelektual yang berkutat dengan dunia naskah dan sumber utama pemikiran, Fazlur Rahman menguasai seperangkat alat utamanya yaitu bahasa. Fazlur Rahman tidak hanya menguasai bahasa Inggris atau Arab, tetapi juga bahasa Persia, Urdu, Turki, German, Perancis, dan Yunani. Mulyadhi selalu terkesan dengan kebiasaan Fazlur Rahman saat mengutip istilah-istilah filsafat dengan bahasa Yunani ketika menjelaskan materi filsafat di kelas. Penguasaan bahasa ini bagi Mulyadhi amatlah penting, yang memungkinkan seorang sarjana mengakses secara langsung sumber-sumber primer ilmu pengetahuan yang otoritatif.

Selain menguasai banyak bahasa, Fazlur Rahmanjuga memiliki kemampuan untuk menganalisis pemikiran filsafat, bukan hanya Islam dan Yunani tapi juga Jerman. Mulyadhi mengakui bahwa kekuatan-analisis Fazlur Rahman ini berpengaruh kuat dalam sikap dan kerja intelektualnya di bidang filsafat.  Jejak keterpengaruhan itu bisa dilihat dalam karya-karya Mulyadhi. “Penguasaan dan analisis Fazlur Rahman pada pemikiran filsafat tidak hanya sebatas pada Islam dan Yunani tapi juga Jerman dll. Itu sangat mempengaruhi sikap dan cara saya mempelajari dan menganalisis filsafat, teologi, dan tasawuf saya, seperti yang bisa Anda lihat dalam tulisan-tulisan saya”, terang Mulyadhi.

Rasionalitas dan dukungan Fazlur Rahman pada sains dan teknologi modern sangat menonjol. Jika Seyyed Hossein Nasrmelihat filsafat Mulla Shadra lebih dari sisi mistik atau teosofisnya, Fazlur Rahman melihat dan menyajikannya dari sudut pandang rasionalis, sehingga sosok Mulla Shadra yang disajikannya terlihat lebih sebagai filosof ketimbang seorang teosofis. Tapi, menurut Mulyadhi, justru karena itu tulisan Fazlur Rahman tentang Mulla Shadra dipandang lebih unggul ketimbang tulisan Nasr. Rasionalitas Fazlur Rahman tidak lepas dari latar belakang madzhab Hanafi (yang cenderung rasional) yang dianutnya.

 

Tulisan dan analisis filosofisnya sulit ditandingi oleh penulis manpun”, puji Mulyadhi tentang bagaimana pengaruh Fazlur Rahman pada dirinya. Karya-karya Fazlur Rahman, terutama karyanya tentang Ibn Sina, baik tulisan ataupun suntingannya, membuat Mulyadhi begitu terkesan. Pemikiran Fazlur Rahman di bidang filsafat sangat berpengaruh pada Mulyadhi, meski semua tahu bahwa Fazlur Rahman tidak hanya ahli di bidang filsafat tapi juga dalam bidang teologi, tasawuf dan pembaruan Islam. “Tulisannya tentang Ibn Sina (terjemahan dan suntingan) sangat mengesankan saya, dan saya banyak belajar dari tulisan-tulisan beliau”, terang Mulyadhi.

Fazlur Rahman dan Persoalan Umat

Sebagai seorang intelektual, Fazlur Rahman bukanlah sosok pemikir yang berada di menara gading. Dengan kapasitas intelektualnya, ia berusaha sekuat tenaga merumuskan dan mencari solusi persoalan-persoalan riil yang dihadapi umat. Kepedulian Fazlur Rahman pada persoalan umat itu tak lepas dari kepekaan sosialnya terhadap persoalan yang ada, yang menurut Mulyadhi, patut ditiru.Ini tentu berbeda dengan banyak intelektual yang tak mau turun secara langsung pada tataran praktis. Bagi Mulyadhi, Fazlur Rahman merupakan sarjana yang seimbang antara tataran teoritis-spekulatif dan praktis empiris.

Mulyadhi menyebut beberapa persoalan yang mendapat perhatian oleh Fazlur Rahman, antara lain poligami dan riba. Untuk kasus pertama, Fazlur Rahman berpendapat bahwa poligami dilarang oleh Islam. Mengapa? Fazlur Rahman berpendapat demikian dengan alasan ketidakmungkinan seorang suami memenuhi syarat berbuat adil pada istri-istrinya. “Kalau Anda takut tidak bisa berbuat adil“, kata al-Qur’an, “maka satu sajalah.” Dan karena kita tidak akan bisa berbuat adil, Islam hanya membolehkan satu istri saja. Namun, menurut Mulyadhi, ada hal yang jarang diketahui oleh khalayak, yakni bahwa Fazlur Rahman memandang persoalan poligami ini sebagai masalah sosial yang juga harus dibahas dalam konteks sosial. Karena itu, menurut Fazlur Rahman, sekalipun Islam melarang poligami, tapi dalam kasus ketika di suatu daerah kaum lelakinya tinggal sedikit karena banyak meninggal akibat peperangan, maka poligami dibolehkan.

Bagi Mulyadhi, yang telah belajar secara langsung dengan Fazlur Rahman serta membaca secara serius karya-karya Fazlur Rahman, aspek-aspek kearifan praktis  dari Fazlur Rahman-lah yang lebih banyak mempengaruhi dirinya dalam kiprahnya sebagai seorang sarjana ketimbang aspek teoretisnya. “Kesan itu saya dapatkan dari tulisan beliau maupun praktik mengajar dan mendidik yang saya alami langsung dengan beliau. Aspek-aspek kearifan praktis inilah yang barangkali lebih banyak mempengaruhi saya dalam kiprah saya sebagai seorang sarjana ketimbang aspek teoritisnya”, jelas Mulyadhi.

Yang Tak Semua Orang tahu

Karena tidak ada ruang khusus untuk menjalankan shalat, Fazlur Rahman meminta otoritas Universitas Chicagho untuk menggunakan Bonn Chapel (semacam gereja kecil) sebagai tempat shalat bagi mahasiswa Muslim, baik shalat harian maupun  shalat jum’at. Dalam banyak kesempatan, Bonn Chapel ini juga menjadi tempat bagi Fazlur Rahman untuk memberikan khutbah Jumat yang kebanyakan audiensnya adalah para mahasiswa yang tergabung dalam Muslim Student Association (MSA) yang dibinanya bersama Omar Altalib dan Ingrid Mattison dari Kanada.Prof. Robert Bianchi dan Prof. John E.  Woods,  sejawat Fazlur Rahman dalam mengajar, juga pernah diajak melakukan shalat Jumat di Bonn Chapel. Mulyadhi, yang saat itu menjadi muazin, menjadi saksi ketika  Bianchi menjadi makmum Fazlur Rahman saat shalat berjamaah.

Dalam khutbah-khutbah Jumatnya, Fazlur Rahman tak jarang mengkritik para pemikir atau intelektual yang berseberangan paham dengan dirinya. Di antara intelektual yang dikritik Fazlur Rahman adalah Abu al-A’la Mawdudi dan Yusuf Ali, seorang penerjemah al Qur’an yang masyhur. Fazlur Rahman mempertanyakan kemampuan bahasa-Arab Yusuf Ali, namun juga memuji kemampuan bahasa Inggris Yusuf Ali, yang menurutnya mengalir deras di seluruh nadi. Bagaimanapun, Fazlur Rahman kemudian merekomendasikan terjemahan Marmaduke Pickhall sebagai terjemahan atau tafsir yang lebih akurat.

MengantarFazlur Rahman Ke Rumah Peristirahatan Terakhir

Pertengahan 1988 para mahasiswa Indonesia di Chicago mendapat kunjungan dari pakar pendidikan Indonesia, Prof. Mukhtar Buchori. Saat itu, Mulyadhi diminta menemani Mukhtar Buchori berkunjung ke kediaman Fazlur Rahman. Kunjungan hari Jumat itu diantaranyamengandung percakapan antara Fazlur Rahman dan Mukhtar Buchori tentang Mulyadhi. Fazlur Rahman, tutur Mulyadhi, waktu itu menitipkan dirinya pada Mukhtar Buchori “Pak Buchori, saya titip Mulyadhi kepada bapak. Dia mahasiwa yang cukup berbakat di bidang filsafat Islam”, tiru Mulyadhi.

Sebelum percakapan itu berlangsung, Fazlur Rahman sempat minta didoakan supaya operasi yang akan dijalaninya pada Rabu pekan depan berjalan lancar. Di tubuh Fazlur Rahman saat itu terdapat penyumbatan pembuluh darah yang harus segera dioperasi. Namun, pasca operasi itu Fazlur Rahman mengalami koma sekitar satu setengah bulan. Fazlur Rahman kemudian mengembuskan nafas terakhir pada 26 Juli 1988.

Jasad Fazlur Rahman kemudian dikebumikan di area pemakaman Arlington Height Cemetary, di Chicago. Mulyadhi berada di sana saat itu dan menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang menyaksikan prosesi pemakaman Fazlur Rahman. Yang membuat hati Mulyadhi sedih dan tak tahan meneteskan air mata saat itu  adalah ketika melihat prosesi bagaimana jasad Fazlur Rahman dikebumikan. “Jasad beliau dimasukkan ke dalam peti (setelah dihadapkan ke kiblat) kemudian para kerabat memasukkan sekepal tanah ke lubang kubur, dan sisanya dilakukan oleh buldoser yang mengurugnya dengan tanah untuk menutupi lubang kuburnya. Dalam hati, saya merasa sedih karena beliau dikuburkan dengan cara seperti ini. Terbayang seandainya di Indonesia, proses penguburan beliau akan dilakukan oleh kerabat dengan hati-hati dan lebih terhormat, serta diiringi pula dengan tahlil dan salawat”, jelas Mulyadhi.

Sekarang setelah 18 tahun sepeninggal Fazlur Rahman, karya-karyanya masih terus diterbitkan dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, masih terus dibaca dan dikaji oleh para akademisi dan masyarakat luas, teori double movement-nya menjadi salah salah satu materi yang ‘wajib’ dipelajari untuk mata kuliah hermeneutika. Pada Januari 2017 ini, Penerbit Mizan akan menerbitkan karya legendaris Fazlur Rahman berjudul Islam, dan disusul karya fenomenal lainnya pada April  2017 berjudul Tema-tema Pokok al-Quran. (Nur Hayati Aida)

Post Scriptum: Tulisan diolah dari wawancara tertulis dengan Prof. Mulyadhi Kartanegara