fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Malaikat di Depan Jendela

Malaikat di Depan Jendela

Cecilia And The Angel – Jostein Gaarder

Malam Natal tahun ini sungguh menyedihkan bagi Cecilia. Dia sakit keras dan mungkin tak akan pernah sembuh. Cecilia marah dan menganggap Tuhan tak adil.

Namun, terjadi keajaiban. Seorang malaikat—Ariel namanya—mengunjungi Cecilia. Mereka berdua kemudian membuat perjanjian. Cecilia harus memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia dan Malaikat Ariel akan memberitahunya seperti apa surga itu.

Buku ini memenangi Norwegian Bookseller Prize dan diadaptasi ke dalam film yang juga memenangi Amanda Award, anugerah tertinggi perfilman Norwegia pada tahun 2009.

 

***

Cecilia terbangun tiba-tiba. Pasti sudah tengah malam karena rumah sudah betul-betul sunyi. Ia menyalakan lampu di atas ranjangnya.
Ia mendengar sebuah suara bertanya, “Nyenyak tidurmu?”
Siapa itu? Tak seorang pun duduk di kursi di samping tempat tidur. Tak ada pula orang berdiri di dalam kamar itu.
“Nyenyak tidurmu?” kata suara itu lagi.
Cecilia mengangkat badannya dan melihat ke sekeliling. Kemudian, ia terpaku. Satu sosok duduk di pinggiran jendela. Pinggiran itu hanya cukup buat anak kecil, tapi itu bukan Lars. Jadi, siapakah ia gerangan?
“Jangan takut,” kata orang tak dikenal itu dalam suara yang tinggi dan bening.
Ia mengenakan jubah putih panjang dan bertelanjang kaki. Cecilia hanya bisa melihat samar-samar wajahnya yang dilatarbelakangi cahaya terang lampu-lampu Natal di pohon di luar sana.
Cecilia mencoba menggosok-gosok matanya, tapi sosok berjubah putih itu terlihat masih duduk di situ.
Ia anak laki-laki atau perempuan? Cecilia tidak tahu pasti karena ia tak punya sehelai rambut pun di kepalanya. Cecilia memutuskan bahwa ia pasti bocah laki-laki, meskipun bisa saja Cecilia menganggap sebaliknya.
“Bisakah kau beri tahu aku, apa kau tidur nyenyak?” ulang si tamu misterius itu.
“Ya, tentu saja …. Tapi, siapa kamu?”
“Ariel.”
Cecilia menggosok matanya lagi.
“Ariel?”
“Ya, aku Ariel, Cecilia.”
Cecilia menggelengkan kepalanya.
“Aku masih belum tahu siapa kamu.”
“Tapi, kami tahu hampir semua tentangmu. Sama seperti cermin.”
“Seperti cermin?”
Sosok itu mencondongkan badannya, tampak seperti sewaktu-waktu ia akan jatuh dan menimpa meja di bawahnya.
“Kau hanya bisa melihat dirimu sendiri. Kau tidak bisa melihat apa yang ada di sisi lainnya.”
Cecilia terperanjat. Ketika masih kecil, ia sering berdiri di hadapan cermin di kamar mandi dan membayangkan ada dunia lain di sisi lain cermin itu. Kadang-kadang, ia takut kalau-kalau orang-orang yang menghuni dunia itu bisa melihat menembus cermin itu dan memata-matainya ketika ia sedang mandi. Atau bahkan lebih gawat lagi: ia bertanya-tanya apakah mereka bisa melompat menembus cermin dan muncul di kamar mandi.
“Apa kau sudah pernah ke kamar ini sebelumnya?” tanya Cecilia.
Ia mengangguk tenang.
“Kalau begitu, bagaimana kau bisa masuk kemari?”
“Kami masuk lewat mana saja.”
“Ayah selalu mengunci pintu. Pada musim dingin, kami menutup semua jendela.”
Tamu misterius itu tak memedulikan semua itu. “Hal-hal semacam itu tak menghalangi kami.” “Semacam itu apaan?”
“Pintu yang terkunci dan yang semacam itu.” Cecilia berpikir sejenak. Ia merasa seperti melihat suatu trik dalam ?lm. Jadi, ia memutar ulang ?lm itu dan memikirkannya sekali lagi.
“Kau bilang ‘kami’,” katanya. “Apa ada banyak yang sepertimu?”
Orang itu mengangguk.
“Ya, banyak sekali. Kau mulai paham!”
Tapi, Cecilia sudah lelah dengan teka-teki. Ia berkata, “Di seluruh dunia ini, ada lima miliar manusia. Dan aku pernah membaca bahwa dunia ini berumur lima miliar tahun. Apa kau pernah memikirkannya?”
“Tentu saja. Kalian datang dan pergi.”
“Apa katamu?”
“Setiap detik, bayi-bayi baru muncul dari lengan jas Tuhan. Sim salabim! Setiap detik pula, ada orang-orang yang menghilang. Antrean yang saaangat panjang. Mantra K E L U A R terucap, maka kau pun harus keluar.”
Cecilia merasa pipinya panas.
“Kau sendiri juga datang dan pergi.”
Sosok itu menggelengkan kepalanya yang tak berambut itu dengan penuh simpati.
“Apa kau tahu, dulu ini adalah kamar kakek-mu?”
“Tentu saja. Tapi, bagaimana kau tahu?”
Ia mulai mengayun-ayunkan kakinya. Menurut Cecilia, ia terlihat seperti sebuah boneka.
“Sekarang, kita harus melanjutkan,” katanya.
“Melanjutkan apa?”
“Kau tidak menjawab apakah kau tidur nyenyak. Tapi, bagaimanapun, kita harus tetap melanjutkan. Selalu butuh sedikit waktu supaya hal ini bisa berjalan lancar.”
Cecilia menarik napas dalam-dalam—dan mengembuskannya. Ia berkata, “Kau juga tidak memberi tahu aku bagaimana kau tahu ini dulu kamar Kakek.”
“Bagaimana kau tahu ini dulu kamar Kakek,” ulang Ariel.
“Tepat sekali.”
Ia terus mengayun-ayunkan kakinya.
“Kami sudah ada di sini sejak dimulainya waktu, Cecilia. Sewaktu kakekmu masih kecil, ia pernah harus berbaring di tempat tidur sepanjang Natal gara-gara pneumonia parah, dan itu jauh sebelum obat yang ampuh untuk penyakit itu ditemukan.”
“Jadi, saat itu, kau juga ada di sini?”
Ia mengangguk.
“Aku tidak akan pernah lupa pancaran kesedihan dari matanya. Kedua matanya seperti dua anak burung yang tersesat.”
“Seperti dua anak burung yang tersesat,” desah Cecilia.
Cecilia menatapnya dan buru-buru menambahkan, “Tapi, itu sudah berlalu. Kakek sembuh total.”
“Ya, sembuh total.”
Mendadak ia bergerak. Dalam sepersekian detik, ia sudah berdiri di atas pinggiran jendela, nyaris memenuhi bingkai jendela. Cecilia masih belum bisa melihat jelas wajahnya karena cahaya terang yang menyilaukan matanya.
Bagaimana ia bisa bangkit tanpa terjatuh ke atas meja? Seolah-olah ia tak bisa jatuh.
“Aku juga ingat semua gembala di padang ini,” katanya.
Cecilia teringat kisah yang dibacakan Nenek dari Bibel.
“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya,”kutipnya. “Apakah maksudmu, kau ….”
“Penghuni surga, ya. Ada banyak sekali kami di sana, memuji Tuhan.”
“Aku tidak percaya kamu.”
Ariel menoleh, dan kini Cecilia bisa melihat wajahnya dengan agak jelas. Wajah itu mengingatkannya pada salah satu boneka Marianne.
“Kasihan kamu,” kata Ariel.
“Karena aku sakit?”
Ariel menggelengkan kepala.
“Maksudku, pasti ngeri rasanya tidak memercayai orang yang kamu ajak bicara.”
“Peduli amat!”
“Apa benar, kadang-kadang kamu begitu buruk sangka, sampai-sampai hatimu jadi gelap gulita?”
Wajah Cecilia menunjukkan bahwa ia tersinggung.
“Aku cuma bertanya,” katanya menenangkan Cecilia. “Tahukah kamu, meskipun melihat manusia datang dan pergi, kami tidak tahu persis bagaimana rasanya berwujud darah dan daging.”
Cecilia bergerak-gerak gelisah di tempat tidurnya. Tapi, Ariel belum terlihat mau menyerah.
“Bukankah memang rasanya sedikit ngeri jika kamu terlalu buruk sangka?”
“Pasti jauh lebih ngeri lagi rasanya jika kamu terang-terangan mengatakan kebohongan kepada seorang gadis kecil yang sedang sakit.”
Ariel meletakkan tangannya di depan mulutnya dan mengeluarkan suara tercekat.
“Malaikat tidak pernah bohong, Cecilia!” Sekarang giliran Cecilia yang tercekat.
“Apa kamu benar-benar malaikat?”
Ia mengangguk kecil—seolah-olah itu bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Cecilia semakin ter pana. Beberapa detik kemudian, barulah Cecilia bisa berkata, “Itu juga dugaanku dari tadi. Memang itulah yang paling mungkin. Tapi, aku tidak berani bertanya karena mungkin saja aku salah. Soalnya, aku tidak begitu percaya malaikat itu ada.”
Ariel membuat gerakan menepis dengan tangannya.
“Menurutku, kita tidak perlu melakukan permainan itu. Bayangkan jika akulah yang bilang bahwa aku tidak terlalu percaya kamu ada. Akan jadi sangat mustahil membuktikan siapa di antara kita yang benar.”
Seolah-olah ingin membuktikan bahwa dirinya benar-benar malaikat, Ariel melompat turun ke meja di depan jendela dan mulai berjalan mondar-mandir di atasnya. Beberapa kali ia kelihatan seperti akan kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke lantai, tapi ia selalu kembali tegak pada saat-saat terakhir. Satu kali tampak seolah-olah ia kembali tegak setelah saat terakhir itu.
“Seorang malaikat di rumah kami,” gumam Cecilia kepada dirinya sendiri—seolah-olah itu adalah judul sebuah buku yang ia baca.
“Kami cukup menyebut diri kami anak-anak Tuhan,” Ariel menanggapinya.
Cecilia mencuri-curi pandang kepadanya. “Kamu, sih, memang.”
“Apa maksudmu?”
Cecilia mencoba duduk lebih tegak di ranjangnya, tapi ia segera kembali luruh ke bantalnya. Cecilia berkata, “Kamu masih seorang malaikat kanak-kanak.”
Ariel tertawa nyaris tanpa suara.
“Apanya yang lucu?” tanya Cecilia.
“‘Malaikat kanak-kanak’. Tidakkah menurutmu itu deskripsi yang sangat lucu?”
Cecilia tidak tahu apa alasannya menganggap deskripsi itu sangat lucu.
“Bagaimanapun, kamu malaikat yang belum tumbuh dewasa,” katanya. “Jadi, kamu pasti seorang malaikat kanak-kanak.”
Ariel kembali tertawa, kali ini sedikit lebih keras. “Malaikat tidak tumbuh di pepohonan,” katanya. “Bahkan, kami sama sekali tidak tumbuh. Jadi, kami juga tidak bisa ‘tumbuh dewasa’.”
“Aku tidak mau mendengarkanmu lagi!” sergah Cecilia.
“Sayang sekali, karena menurutku, kita sudah memulai dengan sangat baik.”
“Tapi, kukira, hampir semua malaikat itu dewasa,” Cecilia bersikeras.
Ariel mengangkat bahunya.
“Itu bukan salahmu. Kamu hanya bisa menebak-nebak apa yang ada di sisi lain.”
“Apa maksudmu tidak ada malaikat dewasa?” Ariel tertawa berderai-derai. Tawanya membuat Cecilia teringat ketika kelereng-kelereng Lars berhamburan di seluruh lantai dapur. Paling tidak, kali ini Cecilia tidak harus membantu Ariel memunguti kelereng.
“Jadi, tak ada satu pun malaikat dewasa,” kata Cecilia menyimpulkan. Aku, sih, oke-oke saja. Tapi, itu artinya tak seorang pendeta pun berkata benar karena semua pendeta bilang, ada baaanyak sekali malaikat dewasa di surga.”
Hening sejenak. Kemudian, Ariel membentangkan satu tangannya dengan gerakan yang anggun.
“Ada baaanyak sekali malaikat dewasa di surga!” serunya. “Baaanyak!”
Karena tidak ada tanggapan dari Cecilia, Ariel berkata, “Asyik sekali ngobrol denganmu, Cecilia.”
Cecilia mulai menggigiti jempolnya. Akhirnya, ia tak tahan dan berkata, “Aku pengin tahu seperti apa rasanya jadi dewasa.”
Ariel duduk di meja, kakinya yang telanjang tergantung di pinggirnya.
“Kau ingin ngobrol soal itu?”
Cecilia berbaring menatap langit-langit. “Guruku bilang, masa kanak-kanak cuma tahapan menuju dewasa. Itu sebabnya, kami harus mengerjakan semua PR dan menyiapkan diri jadi orang dewasa. Konyol banget, kan?”
Ariel mengangguk. “Karena yang benar justru sebaliknya.”
“Apa?”
“Justru masa dewasalah yang merupakan tahapan menuju lahirnya anak-anak baru.”
Cecilia harus merenung dalam-dalam sebelum menanggapi.