fbpx

Masukkan kata kunci Anda

MAHKOTA EMAS SI KATAK TULI

MAHKOTA EMAS SI KATAK TULI

Sebuah tulisan dari Ulya Nurir Rahmah, salah satu penerima Honorable Mention Beasiswa Mizan 2019.

“Terkadang kita harus ‘tuli’ agar bisa mendapat mahkota emas di pucuk tiang yang licin.”

***

Segerombolan katak sedang berkumpul tengah mengikuti sayembara yang diadakan Rajanya. Para katak yang mengikuti sayembara tersebut wajib memanjat sebuah tiang licin yang di pucuknya terdapat mahkota emas. Katak-katak itu berebutan untuk mencapai pucuk tiang itu. Sorak-sorai terdengar dimana-mana. “Kalian pasti gagal, pasti jatuh.” Sorak-sorai yang mengecilkan semangat para katak pejuang itu membuat sebagian katak berjatuhan tak sampai mengambil hadiah yang ada di pucuk tiang. Akan tetapi, ada seekor katak yang ternyata dapat sampai pada puncaknya. Ia mengambil mahkota emas itu, dan terbang turun bersamanya. Setelah ditanya, bagaimana ia bisa sampai pada puncak? Katak itu tak lekas menjawab, hingga beberapa kali pertanyaan yang terlontar untuknya. Akhirnya teman dekat katak itu memberitahukan bahwa katak yang mampu memanjat tiang itu, tuli. Ya, tidak mendengar terpaan dan cacian yangbisa menyebabkan dirinya jatuh seperti yang lain. Ia terus naiki tiang tanpa menghiraukan ricuh para katak lainnya. Ia terus percaya, mahkota emas yang ada di pucuk tiang akan didapatkannya.

Cerita tentang seekor katak yang berhasil memanjat tiang licin itu sebagai sarana untuk mengingatkan kita bahwa ada sebuah ucapan pesimis yang diungkapkan orang lain tidak perlu kita dengar. Percayalah pada keyakinan dan ucapanmu sendiri dari pada orang lain. Berjuanglah untuk suatu harapan yang ingin didapat.

Dalam tulisan kali ini saya ingin menceritakan tentang bagaimana akhirnya “Honorable Mention Beasiswa Mizan 2019” saya dapat. Hal ini saya tulis karena ada beberapa teman yang sangat ingin mengetahui kisahnya, tentu juga apa, kenapa dan bagaimana mengikuti beasiswa ini.

Beasiswa Mizan biasanya dibuka sejak awal tahun, dan biasanya terakhir untuk mendaftar pada bulan Maret. Beasiswa ini merupakan beasiswa khusus untuk mahasiswa yang sedang melakukan penelitian akhir dari masa studinya (skripsi, tesis, dan disertasi). Sebuah beasiswa yang bertujuan untuk menyokong semangat kreatifitas dan kualitas berkarya para calon cendikia Indonesia. Untuk mengikuti beasiswa ini, pendaftar (mahasiswa) wajib mengirimkan proposal penelitian mereka yang telah disetujui oleh dosen pembimbing masing-masing, dengan syarat tema penelitian yang dikaji bertema Studi Keislaman, baik dari aspek politik, sejarah, ekonomi, dan sebagainya.

Sebenarnya saya sudah mengetahui beasiswa ini sejak semester 3, dan mulai bermimpi untuk mengikutinya. Sepanjang itu, tidak ada kata lain selain menunggu waktu penulisan penelitian akhir (skripsi) untuk menjadi salah satu calon penerima beasiswa Mizan. Tak ada tujuan lain mengikuti beasiswa ini, selain agar tulisan yang bernama skripsi itu bukan hanya menjadi bacaan sepintas dosen penguji, bacaan pribadi, atau menjadi pajangan di fakultas, dan perpustakaan universitas. Akan tetapi menjadi sebuah karya yang bisa dinikmati masyarakat umum, khususnya masyarakat Indonesia. Apalagi ketika saya membaca tawaran Mizan di lamannya bahwa, bagi karya tulis terpilih punya kesempatan untuk diterbitkan menjadi sebuah buku. Wah, ini yang semakin membuat saya bersemangat, siapa yang tidak ingin karyanya diterbitkan oleh penerbit yang telah terkenal seperti Mizan? iya kan? dan semua itu masih menjadi mimpi saya pada tahun 2017 silam hingga saat ini.

Ketika saya putar memori saat itu, sebenarnya hal pertama yang perlu dicatat untuk mengikuti sebuah ajang mendapatkan beasiswa, apapun bentuk beasiswanya, adalah jangan malas untuk selalu update informasi. Hal ini penting, termasuk teliti dalam melihat syarta-syarat yang telah dicantumkan, terutama syarat utama yang dapat menentukan berkas-berkas kita diterima. Misalnya, di beasiswa Mizan ini, syarat utamanya, proposal penelitian yang disubmit merupakan penelitian karya akhir berupa skripsi, tesis, dan disertasi yang bertema Studi Keislaman. Nah, ini harus di Bold dalam catatan kita. Jangan sampai penelitian yang submit bertema diluar Studi Keislaman. Tentu hal tersebut akan langsung tertolak.

Baca selengkapnya dalam tulisan Ulya di sini. Semoga tulisan salah satu teman kita ini bisa menginspirasi Sahabat Mizan!