fbpx

Masukkan kata kunci Anda

When you say hello, are you ready to say goodbye?

When you say hello, are you ready to say goodbye?

Hello Goodbye – Ditta Amelia Saraswati

***

Melisa berjalan pelan, setengah berjinjit, supaya tidak ada yang terbangun karena suara langkahnya. Dijinjingnya sepatu di tangan kiri dan tangan kanannya memegang kunci pintu rumah.

Kriit …

Pintu terbuka, Melisa buru-buru menguncinya lagi.
Jarak 2 blok dari rumahnya, ada seseorang sedang menunggu.
*

Randy baru saja akan meminum soda kalengannya, saat Melisa mengetuk-ketuk jendela mobilnya dari luar.
“Heran deh, kenapa lo selalu minta cabut hari Rabu gini sih? Udah dadakan, tengah malem pula.” Randy menyeruput soda yang keluar dari kaleng minuman.
“Gue kayaknya udah bilang berkali-kali. Kalau Rabu, pasti bokap balik.”
“Terus? Kan lo tinggal diem aja di kamar. Tidur, enak.”
“Dan harus mendengar mereka berdua berantem semaleman? Enggak deh!”
Randy memutar bola matanya.
“Mau ke mana sekarang?” tanya Randy sambil menyalakan mesin mobil.
“Ke mana aja. Yang jauh.”
“Lembang mau? Atau Puncak?”
“Gila! Jauh banget!”
“Tadi katanya mau yang jauh!!”
“Ya udah, terserah, deh. Ngikut aja.”
Randy mulai melajukan mobilnya, dia juga sebenarnya belum menentukan tujuan. Randy melihat wajah Melisa yang tertunduk sibuk memainkan hp.
*
Mobil biru itu melaju di jalanan Jakarta. Melisa sedari tadi hanya memainkan seatbelt-nya.
“Napa lo? Tumben diem aja. Biasanya ngacak-ngacak dashboard nyari CD.” tegur Randy sambil tetap fokus menyetir.
“Lagi enggak mood.” Melisa menjawab ketus.
“Eh, Ran, matiin AC dong, gue buka jendelanya, ya.”
Randy mematikan AC, Melisa langsung membuka jendela mobil. Angin berembus di sela-sela rambutnya.
Dia melihat lampu jalanan dengan anteng.
“Ran, kesel gue. Badmood parah.”
“Soal orang tua lo, ya?” tebak Randy.
“Iya.”
Randy tidak melanjutkan pertanyaannya, dan membiarkan Melisa menikmati waktunya. Randy menyalakan radio mobilnya.
Take me out tonight
Where there’s music and there’s people
And they’re young and alive

Suara Morrissey menyanyikan There’s a Light That Never Goes Out memenuhi mobil Randy. Bersama angin malam, tumbuh rasa tenang baru. Melisa meninggikan volume radio.
“Cie, kesukaan lo, ya?”
Somehow, gue ngerasa kalau lagu The Smiths yang ini persis kondisi gue sekarang.” Melisa berhenti memainkan seatbelt, hanya memandang lurus ke jalanan.
Driving in your car
I never never want to go home
Because I haven’t got one
Anymore …

*

“Mel, laper gak? Mau drive thru?” Randy menunjuk restoran makanan cepat saji dengan logo M yang tidak terlalu jauh.
“Boleh.”
“Satu cheese burger paket ya, Mba. Minumnya Cola. Lo?” Randy menoleh ke Melisa.
“Samain aja.”
“Jadi, dua ya mba.”
“Ran …”
Oit?”
“Makan sini aja deh.”
“Lah? Tau gitu ngapain drive thru?”
“Hehe, sorry… lo parkir deh.”
“Ya udah.” Randy segera memarkirkan mobilnya setelah mendapat sekantong pesanannya.
Melisa memasuki restoran, memilih kursi pojokan. Randy segera menyusul. Menyimpan pesanan mereka.
Mereka berdua sibuk mengunyah cheese burger. Suara Sabrina mengisi kekosongan di antara mereka. Randy tidak cukup cakap memulai obrolan. Dan Melisa pun tidak seperti ingin diajak bicara.
Melisa menggenggam cheeseburger yang sisa setengah. Wajahnya menekuk. Ada tetesan air di sekitar pipi Melisa.
“Orang tua gue mau cerai, Ran.”
Randy menyimpan burgernya, mengelus perlahan rambut Melisa.
“Kenapa sih, mereka egois banget, mereka enggak mikir apa gue bakal jadi kaya gimana?” Randy tidak menjawab, hanya terus mencoba menenangkan Melisa.
Melisa menangis sejadinya. Malam menjadi saksi bahwa anak manusia masih memiliki banyak kelemahan.
*

“Mel, pulang yuk?” ajak Randy.
“Ke mana?”
“Rumah lo. Lo butuh istirahat.”
“Tapi gue gak mau ketemu mereka, Ran.”
“Iya, gue tahu, lo sedih, lo kecewa. Tapi enggak gini cara menyelesaikan persoalan.”
Melisa hanya diam.
“Yuk, pulang…” ulang Randy.

Randy melihat jam tangannya, hampir jam 3 pagi, dia sudah kembali mengendarai mobil birunya, mengantar Melisa pulang. Melisa sedang tertidur di sampingnya dengan rambut kusut dan bekas air mata. Dielusnya rambut Melisa, menggenggam tangannya perlahan, lalu kembali memperhatikan jalan. Pijar bintang tertutup awan malam. Randy sesekali mengamati wajah Melisa.

Randy bersenandung pelan, There’s a light that never goes out ….[]