
BAHAGIA DENGAN ZIKRULLAH |
“(Orang-orang yang kembali kepada Allah adalah) ... mereka yang beriman, dan hati mereka menjadi tenang dengan mengingat Allah -sesungguhnya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang. Orang-orang yang beriman ini, dan yang beramal saleh, merekalah orang-orang yang berbahagia, dan bagi mereka tempat kembali yang terbaik.” (QS. Ar-Ra'd: 28-29)
Ayat di atas mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang percaya akan keberadaan Allah dengan segala kebaikan-Nya, dan senantiasa mengingat-Nya lalu melazimkan amal-amal saleh –yakni perbuatan-perbuatan untuk menjadikan lingkungan kita menjadi lebih baik- adalah orang-orang yang berbahagia. Baik di dunia, maupun di akhirat.
Kiranya ayat ini sejalan belaka dengan QS. Al-Baqarah: 3-5 tentang orang-orang yang bertakwa, yang sebagiannya kita kutip:
“(Orang-orang yang bertakwa) adalah mereka yang percaya pada yang gaib, menjalankan shalat, dan memberi dari apa-apa yang kami karuniakan kepada mereka. Mereka percaya pada (Al-Qur’an) yang kami turunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab lain yang kami turunkan sebelummu, dan mereka yakin pada adanya kehidupan yang akan datang (akhirat). Mereka berjalan di atas petunjuk Pengasuh mereka. Merekalah orang-orang yang berbahagia.”
Dikatakan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang bertakwa, dan mendapatkan kebahagiaan karena takwanya, adalah orang-orang yang beriman –kepada yang gaib (Allah dan ghaybiyat lainnya) serta Kitab-Kitab-Nya, dan hari akhir –menjalankan shalat (sebagai wahana mengingat-Nya –QS. Thaahaa: 14), dan beramal saleh dengan memberikan bagian dari rizki yang dikaruniakan Allah kepada mereka.
Kesejajaran kedua ayat di atas menunjukkan bahwa bertakwa dan berzikir memiliki makna yang berkaitan, yakni suatu sikap batin percaya dan selalu sadar akan Allah, sehingga sebagai konsekuensinya, pemilik sikap ini akan selalu melahirkan amal-amal saleh yang diridhai-Nya dan, pada puncaknya, memelihara ingatan kepada Allah. Pada gilirannya, ingatan kepada Allah, suatu Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang sekaligus Maha Kuasa, yang kepada-Nya kita dapat menggantungkan kehidupan kita dengan keyakinan total bahwa Dia akan selalu mendatangkan kebaikan kepada kita, adalah sumber kebahagiaan sejati yang tak akan pernah kering.
Kiranya hal ini mudah dipahami. Keyakinan tak tergoyahkan pada adanya orang-orang atau wujud yang kecintaan-tulusnya kepada kita bisa sepenuhnya kita andalkan, baik itu kecintaan ibu kita, pasangan hidup kita, lebih-lebih kecintaan Tuhan Yang Maha Kuasa melakukan apa pun bagi kebaikan kita, akan menenangkan kita dan menjadikan hidup kita penuh (fulfilled). Sebaliknya, kesengsaraan adalah suatu keadaan sepi dan terasing, yang di dalamnya terdapat bukan hanya kesepian melainkan juga kengerian akibat kehampaan makna dan ketiadaan tujuan hidup. Inilah yang dalam terminologi agama disebut sebagai keadaan terlaknat atau terkutuk, yang menyiksa jiwa. Kiranya ini jugalah makna surga dan neraka ukhrawi –ketenangan atau kepenuhan hidup dan kesumpekan atau kehampaan hidup.
Apalagi jika kita ingat bahwa sesungguhnya kecintaan Allah dan kecintaan manusia kepada kita saling terkait. Berkenaan dengan ini Nabi Saw. Bersabda:
“Jika Allah mencintai salah seorang hamba-Nya, maka Dia akan berkata kepada Jibril, ‘Wahai Jibril, Aku mencintai hamba ini, maka kau pun cintailah dia.’ Maka Jibril mencintainya, dan menyeru para malaikat selainnya, ‘Allah Swt. mencintai orang ini, maka hendaknya kalian mencintainya juga.’ Maka, para malaikat itu mencintainya dan dia pun diterima oleh semua orang di dunia.”
Dapat dikatakan bahwa hadis di atas merupakan pemahaman terbalik dari hadis yang populer mengenai masalah yang sama: ”Barangsiapa mencintai yang di bumi, maka dia akan dicintai oleh (Allah) yang di langit.”
Yang tak boleh kita lalaikan adalah bahwa iman, takwa, dan zikrullah yang sejati, tak akan pernah kita raih terlepas dari amal-amal saleh, dari tindakan memberi dan menolong orang lain. Bahkan, ujian sesungguhnya atas keimanan kita kepada Allah terletak pada kesiapan kita dalam memberi dan menolong orang lain. Tanpa itu, sesungguhnya keimanan atau keberagamaan kita hanyalah dusta belaka:
“Tahukah kamu, siapa yang mendustakan agama? Maka mereka itulah orang-orang yang menelantarkan anak yatim, dan tak pula berupaya keras untuk memberi makan orang miskin …" (QS. Al-Maa'uun: 1-3)
Dengan lugas Nabi Saw pun menyatakan: “Pemberian (sedekah) adalah bukti (keimanan).”
Orang-orang yang tidak mau memberi, sebaliknya dari mendapatkan ketenangan dan kelapangan hati, justru akan diterpa kesulitan dan kesumpekan jiwa:
“Barangsiapa memberi dan membenarkan kebaikan (kehidipan di akhirat), maka Allah akan melempangkan baginya jalan yang lapang. (Sebaliknya) mereka yang kikir dan menganggap dirinya kaya –tak butuh pada siapa pun (Allah dan manusia), maka Allah melempangkan baginya jalan menuju kesulitan dan kesempitan.” (QS. Al-Lail: 5-10)