fbpx

Masukkan kata kunci Anda

Kisah Di Balik Ketertarikan Haidar Bagir Mengenal Tasawuf

Kisah Di Balik Ketertarikan Haidar Bagir Mengenal Tasawuf

Mengenal Tasawuf: Spiritualisme dalam Islam
Haidar Bagir

 

 

Saya tak ingat benar, kapan mulai tertarik pada tasawuf. Yang saya ingat, di awal-awal tahun perkuliahan di ITB (sekitar tahun ‘77) saya tertarik membaca buku karya Ali Issa Othman tentang pemikiran Al-Ghazali mengenai manusia. Pada masa-masa yang dekat dengan itu, entah sebelum atau sesudahnya, saya pun tertarik membaca masterpiece Muhammad Iqbal yang berjudul Reconstruction of Religious Thought in Islam. Seperti sudah banyak diketahui orang, Iqbal dikenal dengan pembahasannya tentang intuisi (qalb atau fu’âd) sebagai basis lain epistemologi di samping akal. Buku ini juga menarik saya untuk membaca bagian-bagian Ihyâ’ ‘Ulûm al-Dîn’ karya sang Hujjatul Islam. Melalui Iqbal juga saya belajar secara tertatih-tatih untuk membaca buku babon dalam mistisisme, yakni Verieties of Religious Experience oleh William James. Mungkin juga kekaguman saya kepada Imam Khomeini, seorang sufi atau ‘ârif pemimpin Revolusi Iran pada tahun 1979, serta Seyyed Hossein Nasr banyak mem-boost ketertarikan saya pada tasawuf. Setelah itu, saya masih mendapatkan exsposure lebih jauh kepada salah satu pendekatan kepada Islam ini ketika studi S-2 di IAIN Syarif Hidayatullah. Lewat mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam yang diajarkan oleh Almarhum Prof. Harun Nasution, saya diperkenalkan lebih jauh kepada pemuka-pemuka tasawuf, seperti Al-Hallaj, Abu (Ba) Yazid al-Busthami, dan sebagainya. Hingga, pada puncaknya, saya berkesempatan mengambil dua mata kuliah yang terkait erat dengan tasawuf di bawah bimbingan Prof. Annemarie Schimmel ketika saya mengambil gelar master di Center for Middle Eastern Studies, Harvard University.

Tetapi, keterlibatan saya secara lebih intens ke dalam kegiatan dan wacana tasawuf kiranya baru benar-benar memperoleh bentuknya ketika saya ikut dalam pendirian IIMaN (Indonesian Islamic Media Network). Pada mulanya lembaga ini bergerak di bidang informasi digital. Hingga, suatu saat, terbetik keinginan untuk menerbitkan sebuah majalah digital (e-magazine) di website kami. Sdr. Najib Burhani, salah seorang staf IIMaN dan penulis beberapa buku (termasuk Sufisme Kota), yang mengusulkan agar e-magazine tersebut mengambil tasawuf sebagai fokus bahasannya. Saya pun segera setuju mengingat pada saat itu—kira-kira tahun 1996—minat orang terhadap tasawuf terus saja meningkat. Maka, sejak saat itu, IIMaN pun bergerak lebih banyak di bidang pengkajian dan pengembangan tasawuf. Meski majalah digital itu sendiri terbukti tak berumur panjang, IIMaN justru dikenal orang sebagai penyelenggara kursus tentang tasawuf, di samping juga memiliki acara bertema sama di salah satu televisi swasta negeri ini.

Demikianlah, sebagai salah seorang pendiri IIMaN, saya pun banyak mengisi berbagai kegiatan IIMaN di bidang ini. Dengan bertambahnya wawasan saya, meningkat pula minat dan ketertarikan saya kepada tasawuf. Hal ini kiranya berjalan seiring dengan fokus studi saya pada filsafat Islam. Dalam kenyataannya, ketertarikan saya di bidang ini tampaknya lebih berat kepada pemikiran-pemikiran yang sedikit-banyak dekat kepada tasawuf, seperti Isyrâqiyyah Suhrawardi dan, terutama, Hikmah Mulla Shadra. Pelan-pelan, tapi pasti, saya menjadi true believer tasawuf. Saya percaya bahwa, dalam banyak hal, tasawuf mampu menjawab kebutuhan manusia modern akan dahaga spiritual yang mereka alami. Belakangan, saya malah percaya bahwa Islam yang dikemas dalam paradigma tasawuf merupakan jawaban yang paling pas terhadap kebutuhan keberagamaan manusia modern.

Meski terkesan banyak diwarnai kebetulan, saya kira ketertarikan saya pada tasawuf sedikit-banyak juga berakar dalam temperamen (intelektual) saya. Saya kira saya adalah orang yang lebih tertarik pada penggunaan intuisi ketimbang analisis rasional. Inilah kemungkinan besar yang mendorong saya untuk lebih tertarik kepada tasawuf.

“Hobi” saya ini belakangan saya rasakan menjelma menjadi semacam sense of duty ketika belakangan saya dapati adanya kecenderungan pada manusia modern—yang makin menggandrungi tasawuf—untuk menekankan pada hal-hal yang bersifat mistik yang irasional. (Lihat juga Bab “Manusia Modern Mendamba Allah”). Saya merasa bahwa keterlibatan saya dalam pengkajian tasawuf memiliki dua misi. Misi pertama adalah mempromosikan tasawuf sebagai kemasan keislaman yang sejalan dengan tuntutan zaman modern. Termasuk di dalamnya penekanan tasawuf pada sifat eros-oriented (orientasi cinta) Islam, lihat Bab “Tasawuf: Mazhab Cinta”. Gagasan tentang cinta ini, saya yakini, merupakan obat bagi ekslusivisme bahkan kebencian, yang melahirkan radikalisme. Tapi, pada saat yang sama, saya juga merasa perlunya promosi tasawuf yang lebih bersifat positif kepada kehidupan keduniaan yang sehat, kepada rasionalitas, dan concern social. Bukan tasawuf eksesif atau negatif yang menyangkal dunia, mempromosikan irasionalitas, dan cenderung egois, dengan memusatkan perhatian pada penyelamatan individual dan melupakan masyarakat.

Betapa pun, saya kira saya memang tak akan pernah tertarik pada tasawuf negatif model begitu. Pendidikan keagamaan saya, terutama oleh ayah saya sendiri, sama sekali tak membawa ke arah itu. Ayah saya adalah seseorang yang memiliki wawasan keislaman yang amat rasional. Lepas dari pendidikan ilmu agama yang diperolehnya sejak kecil, beliau adalah seorang pengusaha. Lebih dari itu, pendidikan akademik saya (pada awalnya) adalah di bidang teknik. Sementara, pada saat yang sama, saya sendiri adalah seorang pengusaha yang bukan saja berorientasi rasionalitas, bahkan sering kali malah pragmatis.

Buku nan sederhana ini, meski fungsi utamanya adalah memperkenalkan tasawuf secara populer kepada orang awam, adalah juga semacam posisi saya terhadap disiplin ini. Seperti dapat dilihat dalam bab terakhir, yang sekaligus menjadi semacam kesimpulan yang hendak dipromosikan dalam buku ini adalah tasawuf dengan sifat-sifat yang sudah saya singgung sebelumnya. Penulisannya didorong oleh kedua kesadaran tersebut: promosi tasawuf dan keperluan agar orang tak—sekali lagi, setelah pernah terjadi berabad-abad dalam sejarahnya yang lampau—terjerumus ke dalam tasawuf negatif dan eksesif. Kehadirannya dirasakan perlu, mengingat buku yang membawa semangat ganda seperti ini rasanya belum banyak tersedia. Jika dibaca bersama Mengenal Filsafat Islam, juga akan segera terbit, maka ia akan dapat menjadi perkenalan-kembali bagi umat Islam di Indonesia akan khazanah intelektual yang sebelumnya telah tergerus oleh arus modernisasi yang meruyak sejak awal abad ke-20 yang lalu.

Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi sumbangan bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, atau setidaknya memberikan warna terhadap penghayatan dan praktik keislaman di negeri ini. Jika para pembacanya mendapatkan ketertarikan kepada tasawuf setelah membaca buku ini (apalagi kemudian terdorong untuk membaca karya-karya yang lebih serius di bidang yang sama), maka tugas saya tampaknya sudah tertunaikan. Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan hidâyah dan ‘inâyah-Nya kepada saya, dan kepada seluruh pembaca, agar kehadiran buku ini bisa benar-benar memberikan manfaat yang positif—sekecil dan sesederhana apa pun.

Bagi yang berminat, setelah membaca buku ini, pembaca dapat membaca buku Semesta Cinta, Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi, yang menyoroti lebih jauh aspek—katakanlah—filsafat tasawuf. Juga buku Dari Allah Menuju Allah, yang merupakan semacam pengantar kepada ’irfân (tasawuf teoretis atau filosofis). Untuk pembahasan lebih filosofis tentang tasawuf—khususnya tentang aspek epistemologisnya—saya menulis sebuah buku khusus berjudul Epistemologi Tasawuf, Sebuah Pengantar.

Bersama rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah memberi saya kemampuan—betapa pun terbatas—untuk menulis buku ini, saya ingin memohon kepada-Nya agar karya sederhana ini bisa dijadikan catatan amal (baik) saya Taqabbal yâ Allâh.

Akhirnya, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada semua rekan saya di IIMaN, baik yang masih di lembaga yang sama maupun yang sudah pindah, termasuk Sdr. Rahmad Riyadi, Sdri. Dewi, Sdr. Najib Burhani, Sdr. Cecep Ramly Bihar Anwar, Sdr. Mujtahidin, dan Sdr. Denny. Juga Sdr. Musa Kazhim, yang kebetulan memiliki minat yang kurang lebih sama dengan saya. Juga kepada Sdri. Dwi Irawati, yang dengan tekun merapikan naskah yang masih “bolong” di sana-sini, dan Sdr. Alm. Hernowo yang merintis pengemasannya. Kepada keluarga saya, istri dan anak-anak saya, it goes without saying, yang dukungan mereka mempunyai andil yang amat menentukan dalam perwujudan buku ini. Kepada Allah, saya mohonkan rahmat atas mereka semua senantiasa.