Masukkan kata kunci Anda

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (3)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (3)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (3)

Oleh: Ilham DS

 

[Tulisan sebelumnya: “Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (2)”]

***

Muhammad Asad, pemuda Yahudi-Austria yang dulunya bernama Leopold Weiss ini, bukan mualaf sembarangan. Wartawan berdarah Yahudi yang memeluk Islam pada usia 26 tahun ini menyempatkan diri berguru kepada banyak ulama; yang paling berpengaruh di antaranya adalah Syaikh Mushthafa Al-Maraghi, rektor Al-Azhar yang adalah murid sang tokoh reformis Muhammad ‘Abduh.

Picture9

Muhammad Asad diapit dua pengawalnya di Arabia, kira-kira tahun 1929. Foto: dari buku Guenther Windhager, Leopold Weiss alias Muhammad Asad: Von Galizien nach Arabien,Boehlau, 2008.

Selain itu, Asad melatih kemampuan bahasa Arabnya dengan ikut mengembara bertahun-tahun bersama suku Badui di gurun pasir (sebab, kursus privat bahasa Arab yang diikutinya di kawasan Al-Azhar, Kairo, dirasakannya sama sekali belum cukup).

Asad pun gemar menyusuri ribuan halaman kitab dan buku-buku di perpustakaan Makkah dan Madinah. Bertahun-tahun ia belajar hadis dan sejarah Islam di Masjid Nabawi. Walhasil, di usia 38 tahun, Asad sudah menerjemahkan kitab hadis Shahîh Al-Bukhârî ke dalam bahasa Inggris, lengkap dengan catatan kaki yang berisi penjelasan yang amat kaya.

Untuk menyusun terjemahan dan tafsir Shahîh Al-Bukhârî ini, Asad merujuk pada ratusan kitab dan buku, termasuk Kitab Fathul Bari (syarah Bukhari, 13 jilid) karya Ibn Hajar Asqalani, Syarah Sahih Muslim (18 jilid) karya An-Nawawi, kitab-kitab hadis yang enam (kutubus-sittah,yang tebalnya berjilid-jilid itu), Musnad Imam Ahmad, kitab-kitab tentang para sahabat, serta kitab-kitab sejarah karya Ibn Hisyam, Thabari, Ibn Sa’d, Waqidi, dan lain-lain.

Picture10

Cuplikan halaman dalam karya Muhammad Asad, Shahîh Al-Bukhârî: The Early Years of Islam, translated and explained by Muhammad Asad, Dar Al-Andalus, Gibraltar, 1938, hh. x-xi. Ini adalah terjemahan dan komentar Asad atas Shahîh Al-Bukhârî dalam bahasa Inggris. Di halaman bibliografi ini, Asad menyebut sebagian judul-judul kitab yang sering menjadi rujukannya ketika menerjemahkan dan mengulas hadis-hadis dalam Shahîh Al-Bukhârî.

Kitab-kitab tafsir karya Ibn Katsir, Thabari, Razi pun tak ketinggalan dirujuk. Begitu pula karya filosofis-sufistik Al-Ghazali dan Syah Waliyullah tak luput menjadi sumber rujukan untuk menjelaskan hadis-hadis Bukhari bagi pembaca berbahasa Inggris itu. (Lihat, Shahîh Al-Bukhârî: The Early Years of Islam,translated and explained by Muhammad Asad, Dar Al-Andalus, Gibraltar, 1938, hh. x-xi, 184.)

Maka, tidaklah mengherankan apabila Amir Saud—putra mahkota kerajaan, anak sulung Raja Ibn Saud—pun sampai melihat Asad dalam mimpinya. Simak kisah yang dituturkan Muhammad Asad dalam autobiografinya yang menjadi international bestseller, The Road to Mecca (TRM):

“Kenang-kenangan masa kecil [sang Raja] itu acap kali diceritakan dalam pertemuan-pertemuan akrab di Riyadh, yang biasanya berlangsung setelah sembahyang Isya (kira-kira dua jam setelah terbenamnya mentari). Segera selepas sembahyang di masjid, kami berkumpul mengelilingi Raja di salah satu ruangan yang lebih kecil dan selama satu jam mendengarkan pembacaan hadis-hadis Nabi atau tafsir Al-Quran. Setelah itu, Raja akan mengundang dua atau tiga orang di antara kami untuk menemaninya di sebuah ruangan-dalam, di kediaman pribadinya ….

Picture11

Cuplikan halaman dalam autobiografi Muhammad Asad, The Road to Mecca. Di halaman kanan, tampak foto sang Putra Mahkota, Amir Saud, yang dalam mimpinya melihat Muhammad Asad. Nantinya, Amir Saud akan menjadi Raja Saudi Arabia. Foto diambil tahun 1928.

Dalam kesempatan tak resmi semacam itu, Ibn Saud akan berbincang-bincang bebas tentang apa pun yang terlintas dalam benaknya—tentang apa yang terjadi di bagian-bagian dunia lain yang jauh, tentang penemuan baru nan ganjil yang menarik perhatiannya, tentang rakyat, adat kebiasaan, serta lembaga-lembaganya; tetapi di atas segalanya, ia suka bercerita tentang pengalaman-pengalamannya sendiri, dan mendorong orang lain untuk ikut serta dalam percakapan.Pada malam hari itu, Amir Saud mulai melempar bola tatkala ia dengan tertawa berpaling kepadaku, 

‘Hari ini, seseorang mengungkapkan kepadaku ihwal keragu-raguannya tentang dirimu, wahai Muhammad. Katanya, ia sama sekali tidak yakin bahwa engkau bukanlah seorang mata-mata Inggris yang sedang menyamar sebagai seorang Muslim …. Tapi jangan khawatir: aku bisa meyakinkannya bahwa engkau sungguh-sungguh seorang Muslim!’

Tanpa kuasa menahan senyum tipis, aku menjawab, ‘Alangkah baiknya Anda, wahai Amir, semoga Allah memanjangkan umur Anda. Tapi, bagaimana bisa Anda sedemikian yakin tentang hal ini? Bukankah hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia?’

‘Itu benar,’ timpal Amir Saud, ‘namun, dalam hal ini, aku telah diberi pengetahuan yang istimewa. Pengetahuan ini disampaikan kepadaku minggu lalu dalam sebuah mimpi …. Aku melihat diriku berdiri di hadapan sebuah masjid dan pandanganku menengadah ke arah menaranya. Tiba-tiba seorang lelaki muncul di mimbar menara itu, dua tangannya diletakkan di depan mulutnya membentuk corong, dan ia mulai menyerukan panggilan sembahyang: Allâhu Akbar, Allah Mahabesar, dan melanjutkan hingga akhir: Lâ ilâha illallâh, tiada tuhan selain Allah;—dan tatkala aku memandang lebih dekat, tampaklah bahwa laki-laki itu adalah Anda.

Ketika terbangun, aku pun tahu dengan pasti—walau sebelumnya pun aku tidak pernah ragu—bahwa Anda benar-benar seorang Muslim. Sebab, sebuah mimpi yang di dalamnya nama Allah diagungkan bukanlah tipuan.’” (The Road to Mecca, Muhammad Asad, Fons Vitae & The Book Foundation, 2005, pp. 167-168; Jalan ke Makkah, Mizan, 1985, hh. 203-204.)

***

Dan seakan membenarkan mimpi sang Putra Mahkota Raja Saudi itu, sejarah menunjukkan bahwa Muhammad Asad akhirnya benar-benar menyerukan panggilan untuk membesarkan nama Allah di seluruh dunia. Siapa nyana, wartawan berdarah Yahudi ini akhirnya menjelma menjadi ulama cum negarawan kenamaan.

Di usia 34-an tahun, nama Leopold Weiss yang sudah menjadi Muhammad Asad itu telah terkenal sampai ke India, dan akhirnya ia diundang tinggal di negeri itu oleh Muhammad Iqbal, filosof-penyair sekaligus Bapak Spiritual Pakistan, yang terkenal dengan buku kumpulan kuliahnya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam (Rekonstruksi Pemikiran Keagamaan dalam Islam).

Picture12

Dalam sebuah konferensi Islam di Lahore, Pakistan, 1959. Kedua dari kiri: Javid Iqbal (putra Muhammad Iqbal, Bapak Spiritual Pakistan). Paling kanan: Muhammad Asad. Tengah: Pola Hamida Asad, istri Asad. Foto: dari buku Guenther Windhager, Leopold Weiss alias Muhammad Asad: Von Galizien nach Arabien, Boehlau, 2008.

 

Undangan kehormatan dari Iqbal itu disambut Asad sepenuh hati, apalagi karena Kerajaan Ibn Saud ternyata tidak berkembang ke arah ideal yang ia impikan. Maka, sekali lagi Asad pun hijrah. Kali ini, dari Saudi Arabia ke India. Di negeri baru ini, Iqbal menjadi patron sekaligus sahabatnya.

Dan bagaimana pula dua pribadi ini tidak akan saling cocok?! Iqbal adalah raksasa intelektual Muslim asal India yang belajar filsafat di universitas Jerman dan Inggris. Sedangkan Asad adalah intelektual Muslim asal Austria yang belajar filsafat di Wina, lalu belajar ilmu-ilmu Islam selama bertahun-tahun di Makkah dan Madinah.

Di India inilah ia menerbitkan karya kecilnya yang amat penting pada 1934: Islam at the Crossroads (edisi Indonesia: Islam di Simpang Jalan, Penerbit Pustaka Salman ITB). Lalu pada 1935-38, secara berangsur-angsur ia menerbitkan Jilid 1 dari terjemahan dan tafsir Shahîh Bukhârî-nya dalam bahasa Inggris.

(Keputusannya hijrah ke negeri-negeri Muslim juga terbukti menyelamatkan nyawanya. Ketika Hitler berkuasa sampai ke Austria, orangtua, saudara, dan keluarga Asad di Wina ikut ditangkap NAZI dan akhirnya tewas di kamp konsentrasi. Asad sendiri, yang ketika pecah Perang Dunia II sedang berada di India, selamat.)

Setelah Perang Dunia II usai, cucu rabi Yahudi ini lalu ditunjuk mengepalai Departemen Rekonstruksi Islami di negeri Pakistan yang baru lahir. Ia terlibat dalam penyusunan undang-undang Republik Islam Pakistan, lalu menerjunkan diri ke dunia politik. Namun, setelah Iqbal wafat, Asad kehilangan patron dan sahabat.

Picture13

Departemen Rekonstruksi Islami, Punjab Barat, 1948-49. Muhammad Asad, sang direktur, duduk di tengah, memakai jas dan rompi.Foto: dari buku Guenther Windhager, Leopold Weiss alias Muhammad Asad: Von Galizien nach Arabien, Boehlau, 2008.

(Harap dicatat, Rekonstruksi Islami [Islamic Reconstruction] berbeda jauh dengan Rekonstruksi Islam [Reconstruction of Islam]. Rekonstruksi Islami merujuk pada upaya pembangunan kembali pemikiran dan kelembagaan umat sesuai perkembangan zaman dan tempat, agar sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Adapun dalam Rekonstruksi Islam, maka Islamnya itu sendiri yang dibangun ulang—suatu hal yang tidak dapat diterima, mengingat keyakinan umat Muslim bahwa Islam sendiri sudah sempurna.)

Kelompok politik dan agamawan konservatif Pakistan ternyata tidak menyukai ide-ide modern dan rekonstruktifnya, misalnya tentang persamaan hak politik bagi perempuan. (Di antaranya berkat ide-ide modern Asad-lah, Pakistan nantinya akan memiliki perdana menteri perempuan: Benazir Bhutto.)

Sumbang gagasannya dalam pasal-pasal konstitusi Republik Islam Pakistan ditolak; hanya mukadimahnya yang dipertahankan. Asad akhirnya “di-dubes-kan”: pada 1952, lelaki Eropa iniditunjuk menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh mewakili Republik Islam Pakistan di Markas Besar PBB di New York.Sebuah jabatan yang amat prestisius, tetapi akhirnya terpaksa harus ia lepaskan, lagi-lagi karena intrik politik.

Picture14

Pada April 2008, sebuah lapangan di depan Markas PBB di Distrik 22 Wina, Austria, diberi nama “Muhammad Asad-Platz”, Lapangan Muhammad Asad, untuk menghormati sosok luar biasa ini atas jasa-jasanya menjembatani dialog antarbangsa dan antaragama. Di papan nama lapangan tersebut, tertera keterangan sebagai berikut: “Muhammad Asad (1900-1992), Islamischer Denker und Gelehrter, Schriftsteller, Diplomat” (Pemikir dan Cendekiawan Islam, Penulis, dan Diplomat). Ini adalah tempat publik pertama di Austria yang memakai nama tokoh Islam. Foto: http://islam.in.ua/ru/tochka-zreniya/my-pomnim-mohammad-asad.

 

Kini, Asad yang sudah lelah dengan dunia politik, akhirnya kembali menekuni dunia intelektual keulamaan dengan menulis banyak karya. Ia ucapkan selamat tinggal pada Pakistan, dan kemudian tinggal berpindah-pindah dari New York ke Jerman, lalu Beirut, Swiss, Tangiers (Maroko), Spanyol, Portugal, lalu kembali ke Spanyol hingga wafat dan dimakamkan di pekuburan Muslim di Granada, Andalusia, pada 1992.

Selama 40 tahun terakhir hidupnya yang selalu berpindah-pindah negara ini, Asad menghasilkan karya-karya yang amat penting:

  • The Road to Mecca(1954),sebuah autobiografi spiritual yang amat kuat, yang menjadi bestseller internasional, dan menginspirasi banyak orang di Barat untuk memahami orang-orang Arab dan Islam dengan lebih baik. Buku ini sekaligus merupakan buku panduan utama bagi banyak mualaf di Barat. Edisi Indonesianya diterbitkan pertama kali oleh PT Al-Ma’arif, masih dengan ejaan lama, kemudian oleh Mizan dengan judul yang sama.
Picture15

Muhammad Asad, alias Leopold Weiss.

  • Islam und Abendland. Begegnung zweier Welten (1960), ditulis dalam bahasa Jerman, mengenai Islam dan Barat, bagaimana kedua dunia ini bertemu.
  • The Principles of State and Government in Islam(1961),sesuai judulnya, buku ini menerangkan asas-asas kenegaraan dan pemerintahan dalam Islam. Di sini, Asad berusaha menyarikan prinsip-prinsip Al-Quran dan Sunnah dalam bidang tata negara dan berupaya menerapkannya dalam konteks demokrasi modern, lengkap dengan konsep partai oposisi dan pemilu. Edisi Indonesia buku ini sudah pernah terbit dengan ejaan lama.
  • The Message of the Quran (1980), sebuah terjemahan dan tafsir Al-Quran 30 juz yang ditujukan untuk pembaca berbahasa Inggris. Dalam terjemahan dan tafsir yang amat dipengaruhi Tafsir Al-Manar-nya ‘Abduh ini, Asad berupaya menghadirkan terjemahan Al-Quran yang modern (merujuk ‘Abduh dan pandangannya sendiri) dan sekaligus autentik (merujuk kitab-kitab tafsir klasik semacam Thabari, Ibn Katsir, Razi, Zamakhsyari, Baidhawi, dan kitab-kitab hadis). Edisi Indonesianya diterbitkan Mizan.
Picture16

Ciptakan masa depan yang lebih baik dengan tidak melupakan sejarah! Di sebuah rumah di Berlin, ibu kota Jerman, terdapat sebuah prasasti yang mengabadikan nama Muhammad Asad. Maksud tulisannya, sebagai berikut: “Di rumah ini, pernah tinggal sang jurnalis, diplomat, dan cendekiawan: Muhammad Asad (1900-1992). Sang pembuka jalan bagi dialog antarbudaya ini terlahir dari orangtua Yahudi dengan nama Leopold Weiss, dan merupakan salah seorang penulis Muslim paling terkemuka pada masanya.” Foto: wikipedia.

Demikianlah Muhammad Asad. Sang wartawan berdarah Yahudi sahabat Raja Ibn Saud itu, lewat karya-karyanya,menyeru manusia ke jalan Allah; persis seperti dalam mimpi Putra Mahkota Raja Saud puluhan tahun sebelumnya, yang melihat Asad berseru mengumandangkan azan di menara masjid:

Allâhu akbar, Allah Mahabesar… Lâ ilâha illallâh, tiada yang layak dipertuhankan selain Allah.[]

 

(Bersambung: “Muhammad Asad: Ketika Pemuda Yahudi Mendebat Tokoh Zionis”)