Masukkan kata kunci Anda

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (2)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (2)

Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (2)

Oleh: Ilham DS

[Tulisan sebelumnya: “Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (1)”]

***

Kehadiran Leopold Weiss di Makkah—ia seorang wartawan berdarah Yahudi, cucu seorang rabi ortodoks—mengundang perhatian Raja. Pemuda Eropa yang baru saja masuk Islam ini akhirnya diundang sebagai tamu kehormatan Raja Abdul Aziz ibn Saud—ya, ayahanda Raja Salman yang pada 1 Maret 2017 ini berkunjung ke tanah air selama sembilan hari.

Tidak hanya itu, Leopold—yang akhirnya berganti nama menjadi Muhammad Asad—akhirnya bahkan diajak sang Raja tinggal di istana kerajaan di Riyadh, menjadi sahabatnya, sekaligus informan kepercayaannya! Tapi, bagaimana bisa? Simaklah kisahnya, sebagaimana tercatat dalam buku bestsellerinternasional, The Road to Mecca:

Elsa Aziza Schiemann (kiri), istri Asad asal Hamburg, Jerman, seorang janda beranak satu bernama Heinrich Schiemann (kanan). Foto diambil tahun 1927 di Piramida Giza, Mesir.

Cuplikan halaman dalam autobiografi Muhammad Asad, The Road to Mecca.
Di halaman kanan, tampak foto Elsa Aziza Schiemann (kiri), istri Asad asal Hamburg, Jerman, seorang janda beranak satu bernama Heinrich Schiemann (kanan). Foto diambil tahun 1927 di Piramida Giza, Mesir. Sesampainya mereka di Makkah, pada tahun yang sama, Elsa wafat terserang penyakit.

“Pertemuan pertamaku dengan Raja Abdul Aziz ibn Saud terjadi pada awal tahun 1927 di Makkah, beberapa bulan setelah aku masuk Islam.

Wafatnya istriku yang mendadak, istri yang telah menemani perjalanan ziarah hajiku yang pertama ke Makkah ini, menyebabkanku merasa getir dan menarik diri dari orang banyak. Aku mati-matian berjuang melepaskan diri dari kegelapan dan kesepian yang amat mencekam. Kebanyakan waktuku kuhabiskan di pemondokan. Aku hanya bertemu dengan segelintir orang. Dan, selama berminggu-minggu, aku bahkan menghindari undangan kehormatan dari Raja yang berulang-ulang datang.

Lalu suatu hari, tatkala mengunjungi salah seorang tamu asing Ibn Saud—aku ingat, orang itu adalah Haji Agus Salim dari Indonesia—aku diberi tahu bahwa atas perintah Raja, namaku telah dicantumkan dalam daftar tamunya! Tampaknya ia dapat memaklumi alasanku menangguhkan undangannya, dan menerimanya dengan penuh pengertian.

Dan demikianlah: sebagai seorang tamu yang belum pernah melihat wajah tuan rumahnya, aku pun menuju sebuah rumah nan indah di ujung selatan Makkah, dekat gua-gua batu yang ada di lintasan ke arah Yaman. Dari terasnya, aku bisa memandang sebagian besar Kota Makkah: menara-menara Masjidil Haram, ribuan rumah berbentuk kotak-kotak putih yang beratapkan batu berwarna-warni, dan bukit-bukit pasir mati berkubahkan langit yang berkilauan bagai lelehan logam.

Sungguhpun begitu, boleh jadi aku akan terus menangguhkan memenuhi undangan Raja, andai bukan karena pertemuanku secara kebetulan dengan Amir Faisal, putra kedua Raja, di sebuah perpustakaan di bawah arkade Masjidil Haram. Betapa menyenangkan duduk di ruangan sempit dan panjang itu, dikelilingi lembaran-lembaran kitab tua bertulisan Arab, Persia, dan Turki; ketenangan dan redupnya ruang perpustakaan itu memenuhi jiwaku dengan rasa damai.

Picture6

Muhammad Asad alias Leopold Weiss (kedua dari kiri) bersama sahabatnya dari Indonesia, Haji Agus Salim (paling kanan), ulama sekaligus pendiri bangsa dan tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia. Baik Asad maupun Agus Salim memahami Islam dengan memakai pendekatan rasional yang amat kuat. Suatu waktu, Agus Salim menggelitik pikiran umat dengan bertanya apakah Nabi Adam memiliki pusar. Jika punya, berarti Adam pernah dikandung oleh seorang ibu. Jika tidak punya, lalu mengapa anak keturunannya sekarang semua memiliki pusar? Berkat kepakarannya, Agus Salim diundang memberi kuliah Islam satu semester di Universitas Cornell, AS (kuliahnya dibukukan dengan judul Pesan-Pesan Islamoleh Penerbit Mizan). Adapun Asad tidak henti-hentinya mendobrak pemikiran umat. Magnum Opusnya, The Message of the Quran, sebuah terjemahan dan tafsir Al-Quran berbahasa Inggris yang amat berbobot dan dipuji, ia persembahkan for people who think, li qawmin yatafakkarûn:“untuk orang-orang yang berpikir”, yakni mengutip ayat Al-Quran yang amat ia sukai. Maka, tidaklah mengherankan jika ulama berdarah Yahudi itu bisa bersahabat dekat dengan ulama asal Minang itu. Foto diambil dari pameran Muhammad Asad/Leopold Weiss di Malaysia.

 Namun, suatu hari, ketenangan yang biasanya menyelimuti ruangan ini dipecahkan oleh derap langkah sekelompok manusia yang didahului pengawal bersenjata: itulah Amir Faisal bersama pengawalnya yang melewati perpustakaan dalam perjalanannya menuju Ka‘bah. Perawakannya jangkung, kurus, dengan wibawa yang jauh melebihi usianya yang baru 22 tahun dengan wajah tidak berjanggut itu.

Sekalipun masih muda, ia telah diberi jabatan penting sebagai wakil raja di Hijaz, setelah ayahnya menaklukkan negeri itu dua tahun lalu (kakaknya, Putra Mahkota Saud, adalah wakil raja di Nejed. Adapun Raja sendiri menghabiskan setengah tahun di Makkah, ibu kota Hijaz, dan setengah tahun lainnya di ibu kota Nejed, Riyadh).”

Picture7

Cuplikan halaman dalam autobiografi Muhammad Asad, The Road to Mecca. Di halaman kanan, tampak foto Amir Faisal pada 1927 yang pertama kali ditemui Leopold Weiss di perpustakaan Masjidil Haram. Nantinya, Amir Faisal ini akan menjadi Raja Saudi Arabia berikutnya, yang pada 1970 berkunjung menemui Presiden Suharto di Indonesia.

***

Amir Faisal inilah yang nantinya akan menjadi Raja Saudi Arabia, yang 47 tahun silam berkunjung ke Indonesia menemui Presiden Suharto pada 1970. Simak tuturan Muhammad Asad selanjutnya:

“Penjaga perpustakaan itu, seorang ulama muda Makkah yang telah menjadi sahabatku untuk beberapa waktu, memperkenalkanku kepada sang Pangeran. Ia berjabatan tangan denganku; dan ketika aku membungkuk hormat, diangkatnya kembali kepalaku dengan sentuhan lembut ujung jari-jarinya. Wajahnya terang dengan senyuman hangat.

‘Kami orang Nejed tidak percaya bahwa manusia harus membungkuk di hadapan manusia lain. Manusia hanya wajib membungkuk di hadapan Allah.’

Tampaknya, ia baik hati, agak suka melamun, sedikit canggung, dan pemalu—kesan-kesan ini terkonfirmasi selama tahun-tahun selanjutnya perkenalan kami. Aura keagungannya tidak dibuat-buat; tampak memancar dari dalam jiwanya. Ketika kami saling bercakap hari itu di perpustakaan, mendadak aku merasakan hasrat kuat untuk menemui ayah anak ini.

‘Raja akan gembira berjumpa dengan Anda,’ kata Amir Faisal, ‘mengapa Anda menghindar darinya?’

Keesokan paginya, sekretaris sang Amir menjemputku dengan mobil dan membawaku ke istana Raja …. Seorang pelayan berkulit hitam muncul. ‘Raja mengundang Anda.’

Aku memasuki sebuah ruangan …. Permadani mahal dari Persia menutupi lantai; pada sebuah jendela gantung yang menghadap kebun, duduklah Raja di atas sebuah balai-balai; di kakinya duduk seorang sekretaris sedang mendengarkan titah. Ketika aku masuk, Raja bangkit, merentangkan kedua belah tangannya dan berkata,

‘Ahlan wa sahlan,’ yang berarti ‘Keluarga dan mudah’. Maksudnya: ‘Anda telah tiba di tengah keluarga Anda, dan semoga kaki Anda melangkah dengan mudah’. Ini ungkapan sambutan paling kuno dan paling mesra bagi orang Arab.

Dalam sekejap mata, aku sempatkan melirik penuh keheranan akan betapa luar biasa tingginya postur Ibn Saud itu. Tatkala (setelah tahu kebiasaan Nejed waktu itu) kucium ringan ujung hidung dan dahinya, aku harus berpijak di ujung jari-jari kakiku, walaupun tinggiku 6 kaki, sedangkan ia sendiri harus membungkukkan diri …. Setelah pertemuan pertama itu, Raja mengundangku hampir setiap hari ….”

***

Picture8

Cuplikan halaman dalam autobiografi Muhammad Asad, The Road to Mecca. Di halaman kanan, tampak foto Muhammad Asad alias Leopold Weiss (kanan) bersama seorang Amir (penguasa) Arabia Utara.

“… Kota Riyadh, di mana lebih dari seribu orang tamu harian di dalam dan di sekitar kota itu hidup dari belas-kasih Raja, yang menerima hadiah perpisahan yang jenisnya bergantung pada status masing-masing: mulai dari segenggam mata uang perak atau abaya sampai pada pundi-pundi mata uang emas, kuda, atau unta yang sering dibagi-bagikannya di kalangan panglima-panglima suku.

Namun, kemurahan sang Raja dengan pundi-pundi uang itu tidaklah sebanding dengan kemurahan hatinya. Barangkali, lebih dari apa pun, kehangatan perasaannyalah yang membuat orang di sekitarnya, tak terkecuali aku sendiri, mencintainya.

Selama bertahun-tahun aku tinggal di Arabia, persahabatan Ibn Saud telah merentang bagaikan cahaya hangat dalam jiwaku.

Ia memanggilku sahabat, padahal ia raja, sedangkan aku cuma wartawan. Dan aku memanggilnya sahabat pula—bukan hanya karena selama bertahun-tahun aku hidup dalam kerajaannya ia menunjukkan rasa persahabatan kepadaku, sebab hal serupa itu ditunjukkannya kepada banyak orang. Aku memanggilnya sahabat karena dalam berbagai kesempatan, ia mencurahkan isi hatinya yang terdalam kepadaku sebagaimana ia mencurahkan pundi-pundi uangnya kepada banyak orang.

Aku sangat suka memanggilnya sahabat, sebab terlepas dari segala kekeliruannya—dan jumlahnya tidak sedikit—ia memang orang yang amat baik. Bukan sekadar ‘berbaik-hati’: sebab kebaikan hati kadang kala bisa menjadi hal yang murah harganya …. Ia memiliki pribadinya sendiri dan selalu menempuh jalannya sendiri; dan manakala ia sering keliru dalam tindakan-tindakannya, sebabnya adalah karena ia tidak pernah berusaha menjadi siapa pun, selain dirinya sendiri.”

(The Road to Mecca,Muhammad Asad, Fons Vitae & The Book Foundation, 2005, pp. 15-18; Jalan ke Makkah, Mizan, 1985, hh. 28-31.)

 

Namun, siapakah geranganpersisnya Muhammad Asad yang berdarah Yahudi ini? Mengapa Raja Ibn Saud sampai bisa begitu percaya mencurahkan isi hatinya kepada pemuda asing asal Eropa itu? Bagaimana sang pendiri Kerajaan Saudi Arabia ini bisa begitu yakin bahwa si Yahudi asing ini bukanlah mata-mata yang sedang menyusup sebagai orang Islam? Bagaimana kalau ternyata Leopold Weiss ini hanyalah versi Austria dari Snouck Hurgronje yang ternyata mata-mata asal Belanda?[]

 

[Bersambung:“Ketika Raja Saudi Bersahabat dengan Wartawan Yahudi (3)”]